
Di sebuah mansion yang sangat megah terdapat beberapa mobil yang berhenti di halaman mention itu, sepertinya pemilik mention sedang mengadakan sebuah pesta.
” Sayang apakah aku sudah cantik menggunakan gaun ini?”tanya Hana kepada Sam sambil memperlihatkan gaun yang dipakainya Apakah terlihat cocok di tubuhnya atau tidak.
” apapun yang kamu pakai saat terlihat pas di tubuh kamu ”Ucap Sam lalu memberikan kecupan di bibir mungil istrinya,tidak menyangka kehidupannya kini berubah sembilan puluh derajat. Memiliki anak yang cukup cerewet membuatnya kewalahan apalagi Hana juga harus mengurus perusahaan Darendra yang sekarang hampir menjadi perusahaan terbaik di Eropa, bahkan Sam sendiri geleng- geleng melihat istrinya yang sangat cerdas dalam mengendalikan perusahaan.
”Come on Mama Papa teman Nora sudah sampai!”Teriak sang putri yang tiba-tiba memasuki kamarnya, untung saja dirinya sudah melepaskan tautan bibirnya dari sang istri.
”Wah princess papah sudah cantik ya?Oh Iya dimana Hendry ”Tanya Sam dia mengendong Nora dan tangan yang satunya digunakan untuk mengandeng tangan sang istri.
”Dia bersama paman Ersen”Jawab bocah berusia lima tahun itu dengan bibir yang mengerucut membuat Hana tersenyum lucu.
”Kenapa tuh bibir di manyun-manyunin,ntar mama gigit loh”Goda Hana yang melihat anaknya bertingkah lucu.
"Nora kesel Mah sama Brayen, masa dia tiba-tiba marah-marah sama Nora kan aneh”Ucap gadis kecil itu mengadu membuat Sam menghela nafas.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sama Brayen sehingga membuat Brayen marah?"Tanya Sang papah membuat Nora meringis.
"Aku rusakin robot nya yang mahal itu loh pah, kan cuma robot aku juga udah nawarin buat ganti tapi dia langsung marah-marah nggak jelas ”Ucap gadis itu dramatis dengan jari yang mengusap ujung matanya.
__ADS_1
”Jelaslah dia marah orang itu robot mahal, lagipula itu pemberian mamahnya sayang”Gemas Hana lalu mencubit pipi anaknya yang sedikit cabi.
Brayen adalah anak dari sekretaris Elnan, Maya wanita yang sangat dia cintai harus meninggalkan dirinya tepat saat anaknya berusia empat tahun.
Waktu itu Hana juga terkejut kenapa tiba-tiba dia dihubungi tengah malam dan mendengar kalau Maya meninggal dunia.
Saat itu dunia sekretaris Elnan hancur berkeping-keping menyaksikan wanita yang sangat dia cintai pergi untuk selamanya.Dan yang dia punya adalah Brayen putranya.
"Pokonya kamu nanti harus meminta maaf kepada Brayen karena merusakkan robot nya”Ujar Sam memperingati.
"Baik Pah”Ujar Nora merasa bersalah.
"Selamat malam Tuan Sam”Ujar rekan kerjanya lalu berjabat tangan dengan Sam, sebelumnya Sam sudah menyerahkan Nora ke pelukan Hana.
Hana menyanggupi tapi saat anak-anak berusia sepuluh tahun ke atas perusahaan harus berganti kepemimpinan kepala adiknya.
Hana hanya memberikan waktu kepada adiknya untuk menikmati waktu mudanya,Hana tahu waktu muda Ersen di gunakan untuk mengurusi perusahaan.
"Selamat datang Tuan Deo”Ucap Sam menjabat tangan.
__ADS_1
Hana membawa Nora ke taman khusus anak-anak bermain, di sana dia bisa menemukan Hendry dan Brayen yang sedang bermain sedangkan sekretaris Elnan menunggu di kursi sambil memainkan leptopnya.
Hana akui sejak kematian Maya sekretaris Elnan selalu menyibukkan diri bahkan dia masih pulang ke rumah pun karena ingat dengan putranya.
Kadang juga Hana menyuruh Sam untuk menasehati sekretaris Elnan agar lebih dekat dengan anaknya.
”Nora cepat minta maaf sama Brayen”Ucap Hana menurunkan Nora dari gendongannya.
"Baik Ma”
Nora berlari ke arah Brayen, pria itu usianya lebih muda beberapa bulan dari Nora itu membuat dirinya kadang menyebut Nora dengan panggilan kakak karena terbiasa.
Nora dengan usilnya mencolek lengan Brayen yang sedang bermain bersama saudara kembarnya”Brayen...”Pangil anak itu.
”Apaan?”
”Nora minta maaf ya, Nora benar-benar nggak sengaja deh”Ucap Nora meminta maaf membuat Hana tersenyum melihat kedua anak itu.
"Huh"Anak laki-laki itu menghela nafas layaknya orang dewasa.
__ADS_1
”Aku maafin kok”Ucap Brayen membuat Nora kegirangan, dia menatap mamahnya"Udah di maafin kok mah”Ucapnya mengadu membuat Hana tersenyum.
Note:Aku mau lanjutin kisah mereka nih ada yang setuju nggak?