Pembuktian Cinta

Pembuktian Cinta
Chapter 147


__ADS_3

"Akhirnya kue nya jadi juga"Kata Mama Anin mengangkat loyang dari dalam oven.


"Ini kue kesukaan Ersen waktu kecil Ndah"Ucap mama Anin memotong kue nya menjadi beberapa bagian.


"Aku coba ya Ma"Indah mencoba kue yang baru saja Mama dan dirinya buat.


"Angga minta Ma"Mendengar perkataan sang adik, Indah menyuapi Angga dengan sepotong kue.


"Mana kak Ersen mbak?"Tanya Angga, pasalnya dia tidak melihat partner berantemnya.


"Dia masih bekerja kayaknya"Ujar Indah memberikan alasannya, tidak mungkin dia bilang kalau sebenarnya Ersen sedang bertemu dengan wanita yang merupakan kekasihnya sendiri.


Aku akan mempertahankan anakku apapun yang terjadi gumam Indah memegang perutnya yang terasa buncit.


"Anak itu memang gila kerja kaya Papannya, yang nggak inget waktu"Ucap Mama Anin sambil menyindir seseorang yang sedang meminum teh hijau di ruang keluarga.


"Kurang keras Mah"Teriak Papa Arga saat mendengar suara sang istri yang terkesan menyindir dirinya.


"Udahlah Ndah mending kita nonton drakor yang baru tayang itu daripada mikirin suami yang nggak PEKA!"


Perkataan Mama Anin membuat Indah tersenyum, sudahlah jika memikirkan Ersen malah membuat dirinya drop, mending dia sibuk dengan hal lain.

__ADS_1


"Kamu tidur di kamar Mama aja Ndah biar Papa tidur diruang tamu"Eh ini bukan Indah yang bilang loh Ya melainkan Mama Anin sendiri.


Mendengar ucapan istrinya mata Papa Arga langsung melotot sempurna"Nggak bisa!kamu tetep tidur sama aku,enak aja!"Ucap Papa Arga yang mendengar perkataan istrinya tadi.


"Nggak! pokonya malam ini kamu tidur di kamar Angga, aku mau streaming drakor sama Indah"Titik tidak pakai koma, perkataan istrinya tidak bisa dibantah memang, dan terpaksa pria yang masih gagah di usianya yang sudah tua itu hanya tersenyum pahit.


Sementara di tempat lain, di kediaman Ersen tepatnya.Pria itu tengah berjalan mondar mandir di kamarnya.


Di kamar sebelah ada Erica yang menginap, jika orangtuanya tahu entah apa yang akan mereka lakukan kepada dirinya.


"Bagaimana keadaan Indah sekarang?"Tanya pria itu pada dirinya sendiri, dia memikirkan perasaan Indah.


tok


tok


tok


Ersen membuka pintu kamarnya, dia mengerutkan keningnya saat melihat Erica di depan pintunya.


"Ada apa?"Tanyanya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur sayang,aku ingin tidur disini"Ucap Erica membuat Ersen meneguk ludahnya susah payah.


What?


Tidur bersama, tentu saja tidak mungkin.


"Tidurlah di kamarmu Er, aku sedang banyak kerjaan dan malah takut mengganggu dirimu"Kata Ersen beralasan,mana mungkin dia tidur seranjang dengan Erica.


Bahkan kini perasaannya sedang campur aduk antara Indah atau Erica.


"Kalau begitu aku akan menemani dirimu saja"Ucap Erica yang tidak mau meninggalkan kamar Ersen seorang diri.


"Baiklah terserah kamu"


Erica mengangguk, ada yang aneh dengan Ersen.Bahkan sedari tadi pria itu tidak memanggil dirinya sayang dan bersikap dingin.


Itu jelas bukan sifat Ersen yang sering ditunjukkan padanya, dan saat dirinya di Amerika, Ersen tidak mengabari. Kalau dia yang tidak menelepon tentu saja dirinya dan Ersen akan putus kontak.


Malam ini Erica tidur di ranjang sedangkan Ersen sibuk berkutat dengan leptonnya walaupun pria itu tidak mengerjakan apapun, dia hanya tidak ingin Erica tidur bersamanya.


Itu bukan kamar utama karena kamar utama sudah Ersen kunci dan dia tidak membiarkan Erica masuk.Bisa-bisa Erica tahu kalau rumah ini ditempati seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2