
Ersen memejamkan matanya, tampak urat-urat ototnya keluar karena mendengar perkataan orang yang baru saja di kenalnya.Perkataan Dokter David mampu membuat telinga Ersen berdengung dan otaknya dipenuhi nama Indah.
"Jika Anda tidak bisa menjaga Istri anda, jangan sampai Saya yang menjaganya”Ucapan Dokter David terus berputar di otaknya.
"Hah menjaganya, Jangan harap!"Gumam Ersen tersenyum penuh arti, dia tidak akan membiarkan Indah di jaga oleh entah siapalah itu.Indah hanyalah miliknya.
"Dimana Indah Bi?"Tanya Ersen melalui sambungan telepon kepada Pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Nyonya Indah tidak pulang Tuan selama beberapa hari ini, Kata Nyonya dia menginap di rumah orangtuanya"Jawab pelayan tersebut membuat Ersen segera menutup sambungan teleponnya, sekarang tujuannya adalah rumah Ayah Indah.
Hendphone Ersen terus berbunyi namun pria itu tidak menggubrisnya sama sekali, dia terlalu fokus dengan Indah sehingga melupakan kenyataan bahwa Erica tengah di Bali sendirian.
Mobil itu berhenti di rumah Indah, Ersen segera turun dari mobilnya,dia berlari menuju kamar Indah menaiki tangga.
Sebelum memasuki kamar Indah, Ersen berhenti sebentar untuk menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
__ADS_1
Ersen memutar gagang pintu dengan perlahan-lahan, dia melihat Indah yang tengah tertidur dengan ditemani boneka Teddy Bearnya.
Ersen tersenyum, melihat Indah yang tertidur.Dirinya tidak jadi marah.Ersen duduk di sisi ranjang dan mulai melepaskan sepatunya.Dia membuka lemari perlahan untuk mengambil bajunya, Ersen ingat dia sempat meninggalkan beberapa pakaiannya dia kamar Indah.
Dia ingin membersihkan dirinya, saat mendengar bahwa Indah di rumah sakit tadi, Ia belum sempat berganti pakaian dan bersih-bersih,alhasil sekarang tubuhnya sangat bau.
Indah mengerjapkan matanya perlahan saat mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, dia mencoba bangkit dari ranjang dan melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya.
Namun saat Indah menjumpai tas dan sepatu yang Ia kenal, dia tidak melanjutkan langkahnya dan langsung menutup matanya lagi.
Bodoamat jika Ersen datang, dia sudah terlanjut emosi.Entahlah apa penyebabnya, yang pasti dia ingin sekali menjambak rambut pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Ersen mengeringkan rambutnya setelah itu naik ke tempat tidur, badannya lelah.Ersen ingin istirahat sebentar saja.
Melihat pergerakan ranjang, Indah sedikit terganggu.Pasalnya Ersen mendusel-ndusel ceruk lehernya dan kini tangan pria itu berada di atas perut buncit Indah.
__ADS_1
"Ada apa dengan pria ini?"Gumam Indah heran dengan sifat Ersen.
"Apa dia sedang berdebat dengan pacarnya sehingga kini dekat-dekat denganku"Batin Indah mencoba melepaskan tangan Ersen dari perutnya.
Bukannya malah terlepas, tangan Ersen semakin erat memeluk perut Indah.Bahkan kini sudah berkeliaran entah kemana.
Sudah cukup Indah muak, perempuan itu menendang Ersen hingga menyebabkan Ersen terjatuh dari ranjang.
Indah tersenyum penuh arti saat Ersen terjatuh ke lantai dengan naasnya.
"Aduh.."rintih pria itu kesakitan.
"Ndah.."Rengek Ersen saat perempuan itu mengabaikannya.
"Hmm"jawab Indah tanpa melihat wajah Ersen.
__ADS_1
"Tidurlah di kamar sebelah, setelah emosiku meredam aku akan meminta penjelasan darimu !"Kata Indah, saat ini dia ingin mendinginkan pikirannya terlebih dahulu daripada nanti dia malah marah-marah tidak jelas pada Ersen.
"Baiklah aku akan tidur dikamar sebelah! namun kamu jangan mendiamkan diriku"Kata Ersen yang mulai resah takut kalau Indah akan mendiamkan dirinya.