Pembuktian Cinta

Pembuktian Cinta
Chapter 144


__ADS_3

Indah turun dari mobil Ersen dengan terburu-buru membuat Ersen yang melihat hanya geleng-geleng kepala.


"Tas kamu tertinggal, apa kamu akan minum di Cafe tidak membayar?"Sarkas Ersen menatap Indah yang seketika berhenti berlari.


Indah menatap ke belakang dan seketika dia menepuk jidatnya sendiri, Indah menghampiri Ersen dia mengambil tasnya dan menutup pintu mobil begitu saja.


"Bahkan dia lari begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun"Gumam Ersen lalu menjalankan mobilnya menuju ke perusahaan.


Sesampainya di perusahaan,Ersen langsung di sambut dengan resepsionis yang menunggu dirinya sedari tadi.


"Ada apa?kenapa kamu menghalangi ku masuk ke dalam perusahaanku sendiri?"Tanya Ersen manatap tajam resepsionis yang menghalangi dirinya masuk ke dalam perusahaan.


"Tuan di ruang kerja anda ada seseorang yang sedari tadi menunggu anda, seseorang yang sangat penting untuk anda"Jelas resepsionis itu yang berniat memberi tahu Ersen bahwa sedari tadi ada seseorang yang menunggu dirinya.


"Siapa?"


"Saya tidak tahu Tuan, orang itu mengaku bahwa dirinya dari Amerika"Kata resepsionis itu membuat Ersen terdiam dan berpikir siapa yang datang kesini menemui dirinya.


Jika Elang tidak mungkin karena pria itu membutuhkan waktu beberapa hari untuk datang dari Amerika.

__ADS_1


"Kenapa membiarkan dia masuk begitu saja!aku bahkan belum mengenalnya”


"Dia menunjukkan fotonya bersama anda Tuan dan saya lihat kalian sangat kompak"Jawab resepsionis itu mencoba membela dirinya.


"Siapa sebenarnya?"Gumam Ersen yang berjalan menuju ruangannya.


"Surprise"Seseorang berlari menuju arah Ersen dan langsung meloncat di kedua kaki Ersen.


Kedua anak itu memeluk kaki pamannya hingga membuat Ersen tidak bisa berjalan, Ersen membulatkan matanya seketika.Ternyata duo kurcaci ini yang datang mencarinya.


"Kenapa kalian bisa di perusahaan paman?"Tanya Ersen kepada keponakannya.


"Hah?"


"Paman-paman ,kata Mama Paman akan menjadi Ayah!Apa itu benar?"Tanya Hendry dan Jinora.


"Lalu kini dimana anak paman, bukankah paman akan menjadi Ayah, kenapa perut paman tidak besar"Kata Jinora membuat Ersen membulatkan matanya.


"Itu istri paman yang mengandung, gimana ya menjelaskannya"Ersen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba menjelaskan ke kedua kurcaci itu pun tidak akan bisa karena kapasitas mereka belum bisa menjangkaunya.

__ADS_1


"Paman sudah menikah?kapan?kenapa Jinora tidak tahu!"Anak perempuan itu cemberut membuat pipinya yang cukup cabi mengembang.


"Heh itu bukan urusan anak kecil, tugas kalian itu belajar dan bermain bukan mengurusi hidup orang dewasa"Gertak Ersen.


"Sekarang dimana orangtua kalian, paman akan mengembalikan kalian ke tempatnya agar kantor paman tidak terkontaminasi"Ucap Ersen mampu membuat Hendry cemberut.


"Paman Ersen pinjem ponsel!"Seru Hendry tiba-tiba dengan nada yang sangat memelas.


"Bukankah kamu punya ponsel"Tanya Ersen.


"Jadi begini ceritanya, kan Hendry meminjam ponsel Mama dan dia tidak sengaja menjatuhkan ponsel Mama ke dalam kamar mandi, sehingga ponsel Mama sekarang rusak,Mama marah-marah dong dan berakhirlah semua gadget Hendry di sita"Jelas anak perempuan itu dengan sangat cerewet.


"Hahaha kasian kamu, melihat kamu yang gila akan game, pasti kamu sangat tersiksa"Ucap Ersen mengelus rambut Hendry, lebih tepatnya mengacak-acak.


"Heh Paman"


"Nih paman pinjami tapi naikkan level game paman"Ucap Ersen dengan seenaknya, lihat apa yang Hana lakukan jika wanita itu tahu kalau Ersen memberikan anaknya posel.


"Sip"Hendry meloncat ke Sofa setelah mendapat ponsel Ersen, anak itu Sibuk sendiri hingga membuat Ersen menghela nafas.

__ADS_1


"Lantas kenapa kamu masih disini?"Ersen manatap Jinora yang melihat ke arahnya juga.


__ADS_2