Pembuktian Cinta

Pembuktian Cinta
Chapter 146


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, tiga bulan itu juga sifat Ersen kepada Indah sangat berubah.Ersen sangat menjaga Indah dan memperhatikan keperluan wanita itu.Bahkan kini perut Indah sudah mulai membesar, diperkirakan kini usia kandungan wanita itu mencapai empat bulan.


Ersen dan Indah kini membeli rumah di sekitar perumahan yang tidak jauh dari tempat Mama Anin dan Papanya, alasannya adalah karena wanita itu tidak ingin jauh dari menantunya.


"Aku pulang"Teriak Ersen yang baru saja memasuki rumah.Dia melihat sekelilingnya yang kosong melompong, kemudian menghela nafas.


Biasanya di jam-jam seperti ini Indah akan tiduran di sofa sambil menonton Tv ditemani cemilan,namun kini yang Ia harapkan sia-sia karena wanita itu malah tidak ada.


", Dimana dia?"Gumam Ersen, tak lama kemudian dirinya dikejutkan dengan suara yang sangat familiar ditelinganya.


"Surprise"Teriak seseorang dengan wajah yang berbinar bahagia, wanita itu tampak cantik dengan balutan gaun yang sangat cantik.


"Kamu!kenapa kamu disini?"Tanya Ersen yang sangat mengenal perempuan yang sedang berdiri ditangga itu.


"Tentu saja aku merindukan dirimu sayang, kenapa raut wajahmu berubah sendu begitu?kamu tentu merindukan diriku juga kan?"Tanya Perempuan itu, dia menuruni tangga satu persatu dan berjalan mendekati Ersen.


Jika wanita itu di rumahnya maka dimana Indah sekarang?


Ting

__ADS_1


Bunyi pesan masuk membuat Ersen langsung menatap ponselnya,dia memejamkan matanya saat melihat pesan yang istrinya kirim.


Indah.


Urus masa lalumu dahulu, aku akan tinggal bersama Mama Anin untuk sementara waktu.


"Bukankah kamu belum bisa kembali?"Tanya Ersen dengan senyuman.


Wanita itu juga membalas senyum yang Ersen berikan"Aku kembali untukmu sayang"Jawab Erica dengan tangan yang ingin meraih dasi yang Ersen kenakan untuk memberikan sebuah ciuman namun Ersen malah memundurkan tubuhnya sehingga Erica tidak bisa mencium dirinya.


"Berapa lama kamu disini?"Tanya Ersen lalu menuntun wanita itu agar duduk di sofa.


"Rumah ini bagus, pasti yang mendesain bukan kamu?"Kata perempuan itu melihat dekorasi di rumah sang kekasih.


"Temanku yang mendekorasinya"Jawab Ersen, di tidak bisa menggambarkan perasaannya kali ini karena dirinya sekarang sedang bimbang.


Dia merasa tidak bahagia saat Erica bersama dengannya namun dia juga tidak mau menyakiti hati wanita itu.


Lantas apa yang diinginkan pria itu sebenarnya?Dia menginginkan kedua wanita itu, heh itu namannya maruk.

__ADS_1


"Benarkah?sejak kapan kamu memiliki teman perempuan sayang?"Tanya Erica.


"Teman Elang!"Jawab Ersen singkat.


"Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan berlibur di salah satu pulau di Indonesia, aku belum pernah liburan ke sana"Kata Erica dia menyenderkan kepalanya di pundak Ersen sedangkan Ersen hanya berdiam kaku.


"Boleh"Kenapa mulutnya tidak bisa menolak wanita itu dan malah menyetujuinya.


"Terimakasih"Ucap Erica tersenyum bahagia.


Dia masih mencintai diriku batin wanita itu dan tersenyum bahagia.


"Hm"


"Aku akan membuatkan dirimu minum dahulu"Kata Ersen mencoba menjauhkan dirinya dari Erinca.


"Dimana pembantunya?kenapa tidak ada!"Tanya Erica pasalnya dari tadi dia tidak melihat pembantu di rumah sebesar ini.


"Tidak ada"Jawab Ersen.

__ADS_1


Memang Indah menyuruh pelayan untuk pulang saat menjelang malam dan kembali saat pagi hari.


__ADS_2