Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 100 AWAL BARU.


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit Medika. Aku dan Mbak Ayu langsung menuju ke Gedung Cendrawasih. Tempat dimana Bu Meliana dirawat secara intensif. Setelah kami bertanya pada Receptionist, kami diberitahu jika Bu Meliana ditempatkan di Ruangan Khusus. Dan ada dua orang anaknya yang menjaganya bergantian.


"Ran. Itu tuh papan petunjuk ke Ruang Khusus di Gedung Cendrawasih. Kita harus belok kanan setelah melewati taman kecil itu!" Seru Mbak Ayu menunjuk ke lorong paling ujung.


Aku melihat ke ujung lorong sana, banyak sekali demit-demit bersliweran. Beraneka ragam jenis dan bentuknya, lebih mirip di pasar dengan pengunjung yang ramai. Aku bergidik karena bulu halus di tubuhku meremang. Di depan sana ada sesosok hantu kecil dengan luka disekujur tubuhnya. Aah lagi-lagi, aku harus melihat pemandangan yang menyayat hati.


"Mbak, kalau lewat sana sebisa mungkin pura-pura gak lihat mereka aja. Kalau lu melakukan kontak mata dengan mereka, ntar yang ada mereka bakal ikutin lu kemanapun lu pergi. Contohnya aja kayak kuntilanak Endang, makanya gue saranin jangan sampai lu tatap mata sama mereka."


"Emangnya kalau diikutin kenapa Ran? Gue kan gak takut sama mereka!"


"Masalahnya bukan itu Mbak, ntar mereka bakal terus neror lu, datangin lu tiba-tiba karena ada yang mereka inginkan. Entah itu bantuan dari lu atau emang mereka sekedar iseng aja."


Akhirnya kami berdua memutuskan untuk melewati para makhluk tak kasat mata itu. Dan berpura-pura tak bisa melihat keberadaan mereka. Memang dasarnya demit itu pada iseng, ada yang menggelayut di sebelah kakiku. Membuat langkahku semakin berat saja, rasanya malas sekali ngadepin demit jahil macam mereka. Daripada aku menegur demit itu, lebih baik ku bacakan ayat-ayat suci saja supaya ia melepaskan kakiku. Terlihat wajah Mbak Ayu memerah, rupanya ia menahan tawa ketika kakiku digelayuti demit cebol tadi.


"Wah parah lu Mbak, bukannya bantuin malah ngetawain gue!"


"Yang penting kan udah gak ada tuh demitnya! Lagian kan lu sendiri yang nyuruh gue pura-pura gak bisa lihat mereka. Giliran gue ikutin kata lu, malah lu sendiri yang protes."


Kami langsung berhenti berdebat, ketika mendengar seorang gadis muda yang mengenakan seragam SMP menangis tersedu-sedu. Dia berdiri di depan Ruangan Khusus di Gedung Cendrawasih. Pasti gadis itu adalah anaknya Bu Meliana.

__ADS_1


"Selamat Sore, apa benar Bu Meliana dirawat di Ruangan ini?" Tanya Mbak Ayu menyapa gadis itu.


"Iya Ibu dirawat di dalam. Kakak berdua ini siapa ya?" Jawabnya dengan menyeka air matanya.


Kali ini aku harus menceritakan yang sebenarnya,dan ku jelaskan padanya jika kami di utus dari Hotel Green Garden untuk menemui Bu Meliana.


"Jadi begini Dek, Bu Meliana kan menangin lomba tebak kata yang di adakan Hotel Green Garden. Dan berhak mendapatkan voucher menginap gratis di kamar VVIP presdent suite. Tapi sejak kemarin, Bu Meliana gak datang untuk mengambil vouchernya. Apakah ada yang terjadi dengannya? Karena pihak Hotel jadi tidak bisa menyewakan kamar itu, hawatir kalau mendadak Bu Meliana reservasi dan kamar itu sudah disewakan untuk tamu lain." Jelasku pada gadis itu, dan ia hanya menundukan kepalanya dengan berlinang air mata.


"Ibu saya gak akan bisa datang buat reservasi Kak. Beberapa hari kemarin Ibu kecelakaan, dan gak sadarkan diri sampai sekarang. Lebih baik pihak Hotel menyewakan kamar itu buat tamu yang lain aja."


Mbak Ayu menenangkan gadis itu, dan menanyakan bagaimana kondisi Ibunya. Tak banyak yang dikatakan nya, ia terus menangis meratapi nasib buruk Ibunya.


"Aku takut Kak, kalau Ibu gak akan bangun lagi. Sekarang aja biaya rawat inap udah membengkak, dan kami gak tahu bagaimana harus membayarnya. Kakak ku masih sekolah juga, setelah pulang sekolah Kakak sampai kerja di Warung Bakso jadi tukang cuci piring, cuma buat makan kami sehari-hari."


Aku dan Mbak Ayu saling menatap, ku berikan kode dengan gestur tubuh. Menanyakan bagaimana baiknya, apakah kami harus memberitahu pada anaknya, jika jiwa Ibunya tersesat dan meninggalkan raganya. Tapi menurut Mbak Ayu, itu hanya akan semakin membuat mereka merasa cemas.


"Dek kami akan segera kembali lagi kesini, mungkin tak banyak yang bisa kami lakukan untuk membantu kalian. Tapi kami akan berusaha membuat Ibumu kembali sadar."


"Maksud Kakak gimana?

__ADS_1


Aku jadi gelagapan karena pertanyaan nya, tak mungkin aku mengatakan jika ibunya menjadi arwah penasaran. Aku dan Mbak Ayu berniat menggalang dana, untuk membantu biaya Rumah Sakit. Dan gadis itu mulai menyunggingkan senyumnya meski dengan wajah muram. Setelah itu kami berpamitan padanya, lalu kembali ke Hotel menggunakan taksi online.


"Ran... Kalau Ibu itu gak mau balik lagi ke raganya gimana ya?" Celetuk Mbak Ayu seraya menyandarkan kepala di jok mobil.


"Gak mungkinlah Mbak. Dia kan seorang Ibu, kita harus menceritakan padanya mengenai perjuangan anak-anak nya. Dia pasti gak akan tega, dan memutuskan untuk kembali ke dalam raganya."


"Tapi kan yang jadi masalah, si Ibu itu gak sadar kalau dia itu jiwa tanpa raga. Dia ngerasa seperti manusia pada umumnya, mana mungkin dia mau dengerin kita!"


Aku mengaitkan kedua alis mata, memikirkan sebuah cara untuk membujuk Ibu itu. Setelah mendapatkan sebuah ide, aku membisikan nya pada Mbak Ayu. Tapi Mbak Ayu tak yakin dengan rencanaku.


"Kalau orang lain jadi takut gimana? Lagipula membujuk orang untuk berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata tak semudah membalikan telapak tangan."


"Kita minta tolong aja sama Wenny, pokoknya Ibu itu harus sadar, kalau dia adalah makhluk yang ditakuti semua pegawai Hotel. Kalau perlu lu bawa demit lainnya ke hadapan si Ibu, tunjukin aja kalau si Ibu bisa melihat mereka, itu artinya dia sama dengan para demit itu. Ceritain perjuangan anak-anaknya yang hidup tanpa Ibunya, sebisa mungkin kita bujuk Ibu itu supaya kembali ke dalam raganya!"


Sesampainya di Hotel, aku menjelaskan semua pada Pak Bos, dan ia merasa tak tega pada kedua anak Bu Meliana.


"Katakanlah pada arwah Ibu itu, jiak ia harus kembali ke dalam raganya. Dan ketika sembuh nanti, minta Bu Meliana dan kedua Putrinya datang ke Hotel untuk menginap gratis di kamar VVIP kelas satu." Ucap Pak Bos terharu mendengar kisah hidup Bu Meliana dan kedua anaknya.


Dengan langkah gontai, aku dan Mbak Ayu berjalan ke kamar VVIP. Pintunya masih tertutup dari dalam, lalu kami mengetuknya berkali-kali. Tak ada jawaban dari dalam sana, apakah mungkin arwah Ibu itu sudah pergi dari Hotel ini. Akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu kamar, dan sangat terkejut ketika pintu kamar itu terbuka lebar.

__ADS_1


.



__ADS_2