Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 173 BERTEMU JIWA TANPA RAGA.


__ADS_3

Pagi itu aku sudah membereskan semua barang-barangku dan menunggu mobil travel. Lala tak bisa menemani ku, karena ia harus berangkat kerja pagi sekali. Dan ia hanya meninggalkan pesan untukku. Hanya Bude Walimah yang bersamaku.


"Bude, tolong sampaikan ke Wati ya, kalau Rania balik ke Jakarta. Soalnya hape Wati gak bisa dihubungi!"


"Iya Nduk, ingat pesan Bude. Jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu. Bude tahu Kartika memiliki dendam padamu, musuhmu disana bertambah selain Ajeng ada juga Kartika. Apalagi sekarang kondisi Dahayu masih kritis, ia tak bisa sewaktu-waktu membantu mu lagi!"


"InsyaAllah Bude, Rania akan selalu mengingat pesan Bude." Ucapku seraya memeluknya.


Tak lama kemudian, mobil travel datang. Aku berpamitan pada Bude seraya mengecup punggung tangannya. Entah kenapa kali ini perasaan lebih sedih untuk meninggalkan Bude di Desa. Padahal sewaktu berpisah dengan Mama dan Papa aku tak sesedih ini. Nampak Bude berlinang air mata seraya melambaikan tangannya. Dan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah. Untuk terakhir kalinya aku melihat ke sekeliling, hampir semua tetangga melambaikan tangannya mengucapkan selamat tinggal padaku. Sesampainya di gapura perbatasan, aku melihat penampakan perempuan dengan baju kebaya. Ia memang sering menampakkan wujudnya ketika aku melewati wilayahnya. Ia sedang berdiri mengambang, manatapku seraya menyeringai. Mungkin ia ingin mengiringi kepergian ku. Hampir semua penghuni Desa baik manusia ataupun makhluk gaib seakan menyapa ku sebelum aku pergi.


"Wah Adek ini banyak disayang ya?" Celetuk seorang Ibu-ibu yang duduk di samping ku.


Sontak saja aku terkejut mendengarnya. Apakah ia bisa melihat makhluk tak kasat mata juga.


"Jangan kaget Dek, saya juga bisa melihat mereka. Lihatlah di bangku paling belakang, ada perempuan yang duduk dengan menundukkan kepalanya. Sepertinya ia tak sadar jika dia sudah tiada, atau bagaimana. Yang jelas, beberapa kali ia menyapa orang yang duduk di samping nya. Tapi karena merasa di acuhkan, ia dari tadi diam saja. Saya ingin memberitahunya, jika dia bukanlah manusia lagi. Tapi saya bingung gimana ngomong nya, pasti orang yang duduk di sebelah nya akan ketakutan. Mengira saya bicara sendirian!" Ucap Ibu itu seraya menolehkan kepalanya ke belakang.


Karena penasaran setelah mendengar ucapannya. Aku melihat ke arah belakang, dan melihat sesosok perempuan yang sedang menundukkan kepalanya. Apakah ia benar-benar jiwa tanpa raga, aku belum bisa memastikan jika tak melihat wajahnya, ataupun gerak tubuhnya. Karena terkadang jiwa tanpa raga yang baru saja meninggal ataupun dalam keadaan koma, sangat sulit dibedakan. Karena mereka masih bertingkah seperti manusia.


"Nanti saja kita cari tahu Bu, perjalanan masih jauh. Lebih baik kita istirahat dulu, kalau udah sampai di rest area, nanti saya yang akan mencoba untuk bicara dengannya."


Setelah mendengar penjelasan ku, Ibu itu langsung beristirahat dan memejamkan matanya. Sementara aku jadi penasaran, apakah perempuan yang di belakang itu bukanlah manusia. Karena efek obat sakit kepala, akhirnya aku tertidur dengan pulas. Dan terdengar sang sopir travel membangunkan para penumpang untuk makan. Setiap perjalanan menaiki travel ini, aku selalu mendapatkan jatah makan malam. Aku menoleh ke belakang, sosok perempuan itu sudah tak ada di tempat nya.

__ADS_1


"Dek dek sini!" Jerit si Ibu dengan melambaikan tangannya padaku.


Aku bergegas menghampiri si Ibu, ia menunjukkan padaku jika penumpang perempuan itu sedang duduk seorang diri di pojokan rumah makan.


"Mari kita kasih tahu, kalau dia udah bukan manusia lagi. Biar dia gak ganggu penumpang lainnya."


"Tunggu dulu Bu, kita gak bisa asal negur. Siapa tahu dia belum meninggal, atau hanya sedang tak sadarkan diri saja. Karena saya pernah menemui kasus begini juga, dan orang nya ternyata dalam keadaan koma di Rumah Sakit."


Ibu itu hanya menganggukkan kepala, meminta ku untuk menyapa perempuan itu terlebih dahulu. Dan baru beberapa langkah saja, perempuan itu menyadari kedatangan kami. Ia mendongakkan kepala, lalu menyunggingkan senyum pada kami. Nampak raut wajah si Ibu kebingungan, ia menggaruk kepala yang tak gatal.


"Lah kok malah kita di sapa to Dek? Sepertinya dia memang tak tahu kalau..."


"Sssttt diam dulu Bu. Sepertinya saya pernah melihatnya di suatu tempat tapi dimana ya." Kataku dengan memijat pangkal hidung.


"Panggil saja Lia, dari tadi saya ngerasa gak ada yang mau saya ajak bicara. Karena memang beberapa hari ini saya sedang banyak masalah di tempat kerja, jadi saya kelihatan berantakan begini. Makanya saya inisiatif ambil cuti lima hari buat pulang kampung ketemu orang tua. Tapi tetap saja saya kepikiran dengan masalah di kerjaan saya."


"Memangnya Mbak Lia kerja dimana?" Tanya Si Ibu penasaran.


"Di Jakarta Bu, di sebuah Kedai kopi ternama, yang lumayan rame di sekitaram Pantai Indah Kapuk."


"Hah. Pantai Indah Kapuk, Kedai Kopi ternama? Apa Mbak Lia kerja di Starbeck?" Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.

__ADS_1


"Loh iya, kok kau tahu sih Ran?" Tanya nya dengan wajah pucat.


Aku tak langsung menjawab pertanyaan nya, aku diam dan memfokuskan pikiran. Ketika ku ingat-ingat kembali, aku memang merasa tak asing dengan wajah Mbak Lia. Dan munculah gambaran-gambaran kejadian ketika aku bertemu dan tak sengaja berpas-pasan dengan nya di Kedai Starbeck dan juga di dalam mobil. Aku menjentikkan jari begitu mengingat kejadian itu. Mbak Lia ini adalah perempuan yang diikuti arwah seorang lelaki korban kecelakaan. Dan sepertinya, lelaki itu adalah rekan kerjanya di Kedai itu. Aku menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan pembicaraan ku. Dan terdengar teriakan Bapak sopir travel, jika kami akan melanjutkan perjalanan lima belas menit lagi.


"Apakah temen Mbak Lia ada yang meninggal dunia beberapa hari yang lalu?" Tanya ku menatapnya serius.


Nampak wajah pucatnya panik, ia menoleh ke berbagai arah dengan gugup.


"Tenang Mbak tenang! Aku hanya bertanya, karena sebelumnya aku pernah datang ke Kedai Starbeck dan melihat Mbak Lia disana. Tapi aku juga melihat sesosok arwah lelaki yang selalu mengikuti mu. Bahkan tak hanya di Kedak saja, sewaktu Mbak Lia mengemudikan mobil, sosok lelaki itu juga ada di samping Mbak Lia. Apakah Mbak Lia mengenalnya?"


Mbak Lia tak menjawab pertanyaan ku, ia justru menangis sesegukan dengan menutupi wajahnya. Kini sang Ibu makin penasaran, dan ia tiba-tiba mengatakan, jika sosok itu sama seperti dirinya. Jadi ia tak perlu takut lagi, jika diikuti oleh sosok lelaki itu. Tak lama Mbak Lia menghentikan tangisnya. Ia melihat kami dengan membulatkan kedua matanya.


"Maksudnya gimana Bu? Lelaki yang Rania maksud itu udah meninggal dunia. Dia gak mungkin hidup lagi!" Sahutnya lantang.


"Ya iya toh Mbak Lia! Mana ada orang yang udah meninggal bisa hidup lagi! Maksud saya itu, ya Mbak Lia ini sama seperti sosok itu. Cuma makhluk tak kasat mata. Makanya mereka semua gak bisa lihat Mbak, hanya kami berdua saja yang bisa!" Kata si Ibu seraya meneguk air minum.


Aku terkejut melihat reaksi Mbak Lia. Ia langsung menangis histeris dengan melihat telapak tangannya. Ia terduduk di lantai dengan berderai air mata.


"Loh kok dia masih bisa menempel di lantai sih. Itu artinya dia belum meninggal, mungkin dia sedang dalam keadaan tak sadarkan diri, dan jiwanya meninggalkan raganya." Batinku di dalam hati menerka-nerka.


"Tunggu! Sepertinya Mbak Lia ini masih memiliki kesempatan hidup deh. Ibu gak lihat, kakinya masih bisa nempel di tanah. Itu artinya, raganya masih ada di dunia ini. Mungkin tubuh Mbak Lia ada di suatu tempat. Apakah sebelum ini terjadi sesuatu padamu?" Tanyaku seraya berjongkok di hadapano.

__ADS_1


Nampak semua pengunjung rumah makan melihat ku dengan heran. Mereka mengatakan jika aku sedang tertekan karena berbicara seorang diri. Sontak saja aku jadi canggung dan bangkit berdiri. Aku tak tega melihat jiwa Mbak Lia terlunta-lunta di dua alam seperti ini. Mau tak mau aku harus membantunya untuk menemukan jalan kembali ke dalam raganya. Tapi ada misteri apa antara Mbak Lia dengan sosok arwah lelaki itu. Apa Mbak Lia adalah pelaku yang telah menabrak lelaki itu sampai tewas. Tak ku sangka, setelah meninggalkan Desa, aku akan berurusan dengan hal-hal seperti ini. Mungkin pertemuan ku dengan sosok hantu lelaki itu bukanlah hal yang kebetulan. Sepertinya Allah memintaku untuk menolongnya, supaya arwah lelaki itu dapat beristirahat dengan tenang. Dan jiwa Mbak Lia bisa kembali ke dalam raganya.


__ADS_2