
Ketika aku ingin pergi meninggalkan lokasi, kedua jiwa tanpa raga itu terus mengawasi gerak gerik ku. Entah apakah mereka sudah tau jika aku bisa melihat wujud mereka atau tidak. Karena aku tak menatap keduanya, dan jiwa si ibu melesat menembus tubuh ku. Mungkin ia ingin tau apakah aku akan menghindar ketika ia melesat ke arah ku. Tapi sebaliknya, justru Beny yang berhenti dengan mengusap belakang tengkuknya.
"Kok gue tiba-tiba merinding gini sih Ran? Duh perasaan gue gak enak!"
"Lu kecapekan aja kali Ben. Ya udah yuk pergi ke Stasiun dulu, udah sore nih." Kata ku seraya melihat ke atas langit yang sinar cahayanya mulai meredup.
"Kayak ada sesuatu yang lewat di deket gue deh. Jangan-jangan..."
Aku langsung menarik tangan Beny keluar dari depan pintu rumah. Kami sudah siap pergi meninggalkan lokasi, nampak kedua jiwa tanpa raga itu masih berdiri mengambang melihat kepergian ku. Aku hanya menghembuskan nafas panjang, akhirnya aku bisa menghindari kedua sosok itu.
"Lu kenapa sih Ran, kayaknya gak tenang gitu dari tadi?"
"Sebenernya tadi kedua arwah korban pembunuhan ada di dekat kita. Dia kayak yang mau komunikasi gitu sama gue, tapi kan gue lagi gak mau berurusan dengan hal-hal macam itu. Yang ada masalah gue gak akan ada habisnya, toh kasusnya udah ditangani polisi. Jadi gue harap kedua arwah itu bisa kembali ke alam nya setelah semua kasusnya selesai."
"Tumben lu gak mau bantuin Ran?"
"Bukannya gak mau Ben, tapi gue lagi banyak yang harus di urus. Kalau harus bantuin yang ini juga, kapan waktunya gue bisa istirahat santai nya!"
__ADS_1
Kami masih membahas hal janggal yang membuat kematian kedua korban. Kok aneh ya, warisan istrinya mau dikasih ke anak tiri suaminya. Tapi tersangka malah bunuh anak kandung nya sendiri. Sebenarnya agak tak masuk akal juga, tapi aku tak bisa mencari tau lebih detail lagi sebelum masalah yang ada di sekitar ku selesai. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan ibadah shalat magrib terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Stasiun. Setelah selesai shalat kami melanjutkan perjalan, dan anehnya sampai saat ini Petter masih belum mendatangi ku. Lalu aku berkomunikasi dengannya melalui batin, ku minta ia datang menemui ku. Karena aku sudah cemas tak melihatnya setengah harian ini. Beny nampak keheranan melihat ku, ia penasaran kenapa aku memejamkan mata dengan komat kamit gak jelas.
"Udah deh gak usah keppo, ntar gue kasih tau lu malah takut lagi!"
"Dih lu tuh emang penuh jumpscare tau gak!"
"Kalau tau gak usah heran makanya."
Tak lama setelah itu Petter melesat masuk ke dalam mobil. Ia bercerita jika banyak hantu Belanda di sekitar pelabuhan. Ia jadi teringat seorang sahabatnya yang tak pernah lagi ia jumpai setelah ia tiada.
"Rania karena aku sedih, aku ingin baju baru ku cepat kau belikan! Sebelum aku kembali ke alam ku lagi!" Ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Aku harus sekolah Rania, dan aku akan menunjukkan baju baru ku pada teman-teman sekolah ku." Jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi jangan seperti sebelumnya ya, kau lama sekali tak mengunjungi ku. Aku kan merindukanmu Petter..."
Petter menganggukkan kepala seraya menghambur memelukku. Seketika hembusan angin dingin menerpa belakang leher Beny. Ia melihat ku dengan peluh yang membasahi keningnya. Aku menaikan dagu memberi kode dengan gestur tubuh. Tapi ia hanya menggelengkan kepala dengan menelan ludahnya kasar. Nampaknya Beny sangat ketakutan melihat komunikasi ku dengan Petter. Tapi ia berusaha menyembunyikan nya, bahkan ia sampai tak sadar jika mobil yang dikemudikan nya sampai di Stasiun.
__ADS_1
"Ben jangan ngelamun dong! Kita udah sampai tujuan nih, cari tempat parkir dulu!"
"Hmm i iya Ran." Ucapnya gagap.
Aku meminta Petter untuk berkomunikasi dengan ku melalui batin saja. Karena aku tak mau membuat Beny tak konsen karena menahan rasa takut. Aku dan Beny masuk ke dalam Stasiun dan menemui bagian informasi. Untuk menanyakan rekaman cctv di peron Stasiun pada jam 23.30 WIB. Petugas pun tak mau menunjukkan rekaman itu pada sembarang orang. Tapi setelah aku dan Beny bernegosiasi, dan menjelaskan jika salah satu teman kami menghilang setelah mengirimkan gambar di peron Stasiun Bogor. Akhirnya mereka mau memperlihatkan rekaman cctv, karena mereka tau kami juga dari jurnalis. Setelah rekaman cctv itu diputar, nampak keadaan di sekitat peron masih ramai orang-orang keluar masuk gerbong kereta. Dan itu tepat di jam 22.45 WIB, sedangkan Silvia menghilang setelah jam 23.20 WIB. Aku dan Beny kembali bertanya, apakah ada kereta lain setelah keberangkatan kereta itu. Tapi petugas mengatakan jika itu adalah kereta terakhir yang berangkat setiap malamnya. Tapi lima belas kemudian, nampak Silvia datang dan duduk di salah satu bangku. Ia sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya itu adalah waktu ketika dia mengirimkan pesan pada Beny. Karena ia terlihat berselfie sebelumnya, dan foto sesuai yang dikirimkan pada Beny. Rekaman cctv terus berjalan sampai di jam 23.30 WIB. Nampak cahaya menyilaukan mata dari ujung rel kereta, lalu Silvia bangkit berdiri dan berjalan ke pinggir peron. Aneh, ada cahaya dari ujung sana, tapi kan gak ada apa-apa di kamera. Sampai akhirnya tiba-tiba rekaman cctv agak bergoyang-goyang, dan kami tak bisa melihat Silvia dengan jelas. Lalu petugas menjelaskan jika kondisi seperti itu sudah biasa terjadi ketika kereta memasuki peron, dan karena goncangan yang hebat mengakibatkan cctv agak terguncang. Tapi setelah rekaman cctv itu tak bergoncang lagi, kami malah tak dapat melihat Silvia lagi. Entah kemana ia pergi, karena tiba-tiba saja Silvia hilang begitu saja.
"Loh Pak, kok teman kami hilang sih? Apa mungkin dia keluar dari Stasiun ya? Bisa di cek cctv yang lainnya Pak, yang ke arah keluar jalan raya?" Pinta Beny dengan raut wajah cemas.
Petugas menyetujui permintaan Beny dan melihat ke semua cctv yang menuju jalan raya. Tapi setelah di cek satu persatu, kami sama sekali tak melihat Silvia keluar dari Stasiun. Bukankah itu artinya dia masih ada di dalam peron tadi. Tapi kenapa tiba-tiba dia tak terlihat di kamera cctv ya. Sebenarnya ada apa sih, kok aku jadi penasaran ya. Tak lama setelah itu raut wajah petugas itu berubah cemas, ia mengeluarkan keringat dingin dan berusaha menghubungi seseorang melalui HT.
"Sebenarnya ada apa ya Pak? Kenapa saya merasa kalau Bapak menyembunyikan sesuatu dari kami? Apa ada yang Bapak ketahui dari hilangnya teman saya ini?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.
Bapak petugas itu belum menjawab pertanyaan ku, ia hanya menghembuskan nafas panjang seraya mengusap peluh di keningnya. Beny kembali bertanya, karena ia merasa ada yang disembunyikan Bapak itu. Sampai akhirnya petugas itu angkat bicara, dan meminta kami menunggu rekan kerja nya.
"Saya tak bisa menjelaskan apa-apa pada kalian berdua. Silahkan tunggu rekan saya sebentar, biar dia yang akan menjelaskan pada kalian berdua. Tapi saya mohon dengan sangat, jangan di up ke publik dulu mengenai hilang nya teman kalian. Karena semuanya masih belum jelas, mungkin hilang nya teman kalian masih bisa kami telusuri."
Entah kenapa Bapak petugas itu berbicara berbelit-belit. Membuat aku dan Beny semakin penasaran, karena ia terkesan menyembunyikan sesuatu. Apakah sebenarnya pihak dari Stasiun mengetahui sesuatu mengenai hilangnya Silvia.
__ADS_1