
Rasanya aku ingin menggunakan kesaktian yang ku miliki untuk mengusirnya. Tapi sosok demit perempuan itu sama sekali tak menyakiti ku atau siapapun yang ada di sekitar ku. Lantas apa yang harus ku lakukan padanya. Astaga, ada saja tingkahnya yang membuatku risih. Padahal aku sudah mau memejamkan mata dan ngantuk berat. Tiba-tiba ia melesat mendekatkan diri padaku. Sosoknya membulatkan kedua matanya yang memerah. Sontak saja aku terkejut dengan jantung yang berdetak tak karuan. Tak ku hiraukan sosoknya dan berpaling ke arah lain. Tapi baru saja memejamkan mata, sosoknya muncul di dalam mimpi ku.
...πFlashback on π...
Narsih namanya, gadis penari jaipong asal Jawa Tengah yang sangat terkenal di daerahnya. Ia sedang berdiri di depan panggung mengenakan kebaya merah dan selendang merah yang menggantung di lehernya. Narsih tersenyum manis lalu melambaikan tangannya pada semua penonton yang ada di bawah panggung. Narsih sudah sukses menghibur para penonton, dan mendapatkan banyak saweran. Di sebuah desa kecil yang jauh dari peradaban, Narsih tinggal bersama Simbahnya. Pada usianya yang ke tujuh belas tahun, Narsih sudah sering mendapat job panggilan menari dari panggung ke panggung. Kelompok tari yang diketuai seorang lelaki muda yang tampan dan gagah bernama Bardi, lebih sering mendapatkan job semenjak Narsih bergabung dengan kelompoknya.
Riasan Narsih sudah selesai, ia pun segera melakukan ritual sebelum mulai menari. Tari Jaipong disebut-sebut lekat dengan dunia mistis dan banyak ritual.
"Dek Narsih kau nari sekarang ya?" Titah Bardi sebagai ketua kelompok tari itu.
Narsih segera menaikk panggung dan melakukan pertunjukan tari jaipong. Alunan musik gong dan gendang sudah mengalun. Bardi memperkenalkan Narsih sebagai penari utama di kelompoknya. Nampak para Tuan Tanah, dan para Meneer Belanda ikut menari bersama Narsih. Banyak centeng yang tak mau kalah berebut ingin menari bersama gadis muda itu.
Bardi memerintahkan Narsih menggunakan selendangnya untuk mengajak para tamu-tamu penting menari bersamanya. Supaya ia mendapatkan uang yang lebih besar. Benar saja, bayaran yang ia terima sangat besar. Belum lagi saweran yang ia dapatkan dari para penonton. Narsih sangat berterima kasih pada Bardi, karena telah memberinya kesempatan untuk menari di sentra tari nya. Saat Narsih sedang mengemasi barangnya, Bardi memintanya untuk menari di rumah Meneer Belanda. Narsih langsung melompat girang dan jatuh di pelukan Bardi.
"Hati-hati Dek, kaki mu bisa terkilir dan kau tak akan bisa menari di rumah Meneer Jansen. Nanti dia bisa marah padaku, karena kau sudah ditunggu di rumahnya." Ucap Bardi seraya memegangi pundak Narsih.
"Aah maafkan aku Mas. Aku terlalu senang membayangkan banyak uang yang akan ku dapat nanti. Aku ingin membelikan tanah untuk Simbah berladang." Pungkas Narsih dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Mari kita berangkat ke rumah Meneer Jansen." Ajak Bardi saat itu juga.
Sesampainya di rumah Sang Meneer, nampak beberapa centeng sedang berjaga. Dan dari kelompok tari nya, Bardi hanya mengajak Narsih saja.
"Teman-teman yang lain kemana Mas? Kenapa hanya ada kita saja disini?" Tanya Narsih dengan wajah polos.
"Meneer Jansen hanya meminta kau yang datang kesini. Jadi hanya kau saja yang akan menari. Karena ini permintaan khusus dari Meneer!" Jawab Bardi gugup.
Narsih terlihat bertanya-tanya dalam hati, mengenai permintaan khusus apa yang dimaksud Bardi tadi.
"Cepatlah masuk ke dalam Dek, aku akan menunggu disini saja. Kau sudah ditunggu Meneer Jansen di dalam." Kata Bardi dengan peluh yang membasahi keningnya.
Narsih kebingungan, karena di dalam rumah tak ada suara musik yang mengiringi. Kini
ia sedang berdiri di tengah-tengah para Meneer Belanda itu. Saat kedua centeng pergi keluar rumah, dari sela-sela pintu Narsih melihat wajah Bardi yang terlihat cemas saat memandang nya.
Tak lama setelah pintu tertutup rapat, salah satu Meneer menghidupkan musik dari piringan hitam dan meminta Narsih menari. Nampak raut wajah Narsih kebingungan, ia sama sekali tak mengerti alunan musik apa yang diputar oleh Sang Meneer. Akhirnya Narsih menuruti perintah dan menari berlenggak lenggok, menggoyangkan tubuh molek nya. Saat sedang menari, tubuh Narsih mulai digerayangi oleh para Meneer Belanda itu. Terlihat dari wajahnya, Narsih ketakutan dan bingung harus bagaimana. Tapi ia tak kuasa melawan para orang berkuasa itu. Setelahnya Narsih dibawa ke dalam kamar oleh seorang Meneer. Terdengar suara Narsih yang meronta-ronta minta pertolongan. Tapi tak ada yang memperdulikan nya. Narsih berusaha menolak, tapi Sang Meneer terlalu kuat baginya. Malam itu, Narsih kehilangan kesucian nya di tangan penjajah bangsa nya sendiri. Narsih menangis tersedu-sedu, ia baru menyadari apa arti dari permintaan khusus. Para Meneer Belanda itu hanya menginginkan tubuhnya. Tubuh Narsih si penari jaipong.
__ADS_1
Aku bahkan sampai berlinang air mata melihat nasib gadis belia itu. Narsih terpaksa memberikan kesuciannya karena tak mengerti betapa kejamnya dunia pada orang-orang kecil sepertinya. Lalu apa tujuannya Narsih masuk ke dalam mimpi ku dan memberikan penglihatan ini. Apakah hanya ini yang ingin ia tunjukkan padaku. Kenapa aku masih belum bisa membuka kedua mata ku. Aah pasti ia masih ingin menunjukkan kisah-kisah lainnya. Karena aku melihat amarah dan dendam dari sorot mata nya yang memerah. Apa yang telah menyebabkan nya tiada sampai ia gentayangan sampai sekarang. Dan penglihatan masih terus berlanjut, mimpi mengenai kehidupan kelam Narsih di masa lalu.
Setelah kejadian itu, Narsih sangat menyesali apa yang telah terjadi padanya malam itu. Ia sempat ingin berhenti menari jaipong lagi, tapi Bardi menenangkan nya. Dan meyakinkan Narsih untuk tetap menari jaipong, supaya ia bisa membahagiakan Simbah di usia tua nya.
"Kau pikirkan saja, apa yang akan kau dapatkan setelah menyenangkan para Meneer itu. Simbah akan terjamin hidupnya, karena kau akan memiliki banyak uang untuk kehidupan yang lebih baik." Ucap Bardi seraya memberikan segepok uang pada Narsih.
Narsih membulatkan kedua matanya tak percaya. Sebegitu mudahnya ia mendapatkan banyak uang dalam satu malam. Tapi apakah ia akan terus melakukan pekerjaan diluar kelompok tari nya. Pikiran buruk telah merasuki akal dan pikiran Narsih, baginya kesuciannya sudah hilang. Dan tak ada gunanya ia jual mahal lagi. Bardi terus mempengaruhi nya, hanya dengan menari dan melayani para Meneer itu ia bisa lebih cepat meraup uang. Narsih terbayang wajah Simbahnya, dan tak sabar ingin segera memberikan segepok uang yang ada di tangannya.
Astaga kenapa Narsih malah terhasut dengan ucapan Bardi. Dan ia ingin melanjutkan pekerjaannya diluar kelompoknya sendiri. Padahal menurut ku, Simbahnya tak akan mau menerima uang nya, jika tahu cucunya menjual tubuh nya pada para lelaki hidung belang itu.
...π Flashback off π...
Tak tahan lagi aku melihat kehidupan masa lalu Narsih. Awalnya aku sangat miris melihat kejadian kelam yang menimpa nya. Tapi sosok Narsih ternyata sangat menginginkan uang. Dan mudah terpengaruh bujukan Bardi. Aku berusaha bangun dari tidur ku, karena aku tak mau melanjutkan mimpi mengenai sosok Narsih si penari jaipong itu. Tapi tiba-tiba sosok Narsih berteriak lantang hingga gendang telinga ku kesakitan. Dan akhirnya aku pun terbangun dari tidur ku, dengan memegangi kedua telinga ku.
Nafasku masih tersengal-sengal, dan peluh membasahi seluruh tubuh ku. Di tengah hari aku tertidur dan bangun disaat langit mulai senja. Ternyata demit perempuan itu belum ingin mengakhiri penglihatan nya padaku. Ia masih berdiri mengambang di sudut kamar ku. Ia melotot padaku, dengan sorot mata penuh amarah. Sepertinya ia sudah tahu jika tadi aku hanya berpura-pura tak bisa melihatnya. Karena sekarang sosok Narsih kembali mendekati ku. Dan mengatakan ingin berbagi kisah hidupnya padaku, supaya ia bisa lega dan tak terlalu terbawa dendam dan amarah.
"Baiklah aku mengaku kalau aku bisa melihatmu. Lalu apa lagi yang ingin kau bagi padaku? Apa kau tiada karena para Meneer Belanda itu?" Tanya ku pada sosok Narsih.
__ADS_1
Ia hanya menggelengkan kepala, dan belum mengatakan apa-apa. Jadi apa yang membuatnya memiliki dendam dan amarah sebesar itu. Aku tak mengerti kenapa sosoknya bertahan begitu lama dari masa penjajahan jaman Belanda sampai sekarang. Apa sebegitu besarnya luka yang ia terima sebelum ajal menjemput nya. Aku terus mendesak Narsih untuk mengatakan apa yang membuatnya gentayangan sampai sekarang. Tapi ia malah menundukkan kepala dengan raut wajah sendu. Sepertinya ada tragedi besar yang melukai batinnya, sehingga ia kembali merasakan duka masa lalu nya.