
"Lu yakin Ran ngomong kayak gitu ke gue? Emang lu pikir gue bisa ngelakuin hal semacam itu?" Tanya Mbak Ayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Lah coba dulu Mbak, kalau gak lu coba gimana bisa tahu bisa atau gak!"
Di tengah-tengah obrolan ku, hanya terlihat raut wajah kebingungan yang ditunjukkan Pak Darman. Sementara di depan kami, masih terjadi pertarungan sengit antara kedua makhluk tak kasat mata itu. Mereka sama-sama tangguh, dan belum ada yang kalah sampai detik ini. Nampak bola-bola api yang beterbangan di atas langit, mereka menggunakan energi kemarahan nya untuk membuat bola api itu. Tapi keduanya bisa sama-sama menghindar.
"Pak sebenarnya ada yang terjadi di hadapan kita. Tapi Pak Darman gak bisa melihatnya, di depan sana ada dua makhluk gaib yang sedang beradu kekuatan. Dan Bapak mengenal mereka berdua, jika bisa Bapak tolong hentikan salah satunya. Mendiang Bu Narti ternyata gentayangan selama ini. Tapi ia baru menunjukkan eksistensi nya di depan saya. Jadi ia terus mengikuti Bapak, karena ia mati dengan rasa penasaran. Setelah ia tahu, jika Endang yang telah mengirimkan santet padanya, ia jadi marah dan ingin membalaskan dendamnya."
"Lalu apa salahnya membalaskan dendam pada Endang? Bukannya dia pantas mendapat balasan!" Seru Pak Darman mengejutkan kami berdua.
Aku dan Mbak Ayu saling menatap, terheran-heran dengan ucapan lelaki itu. Dan Pak Darman mengatakan fakta baru yang ia sembunyikan selama ini. Ternyata, ia lah yang membangkitkan arwah mendiang Bu Narti. Karena ia merasa bersalah padanya, Pak Darman ingin arwah Bu Narti menuntut balas pada seseorang yang telah membuatnya tiada bersama calon bayi mereka.
"Kenapa Bapak tega melakukan itu? Seharusnya arwah Bu Narti bisa beristirahat dengan tenang di alam keabadian. Tapi kenapa Pak Darman membangkitkan arwahnya?"
"Justru saya melakukan itu karena tak tega pada Narti. Bahkan saat saya ingin menikah lagi, saya meminta ijin padanya. Karena saya memang bisa melihat makhluk seperti mereka. Dan karena itulah saya yakin, jika hantu Endang lah yang mengambil keponakan saya. Saya yang cerita semua ke arwah Narti, dan dia ingin menolong saya. Narti sengaja mengikuti mu, karena dia pikir, kau tahu dimana keberadaan Endang. Maaf saya tak bermaksud membohongi mu, tapi saya juga sakit hati pada Endang. Dia telah merusak kebahagiaan rumah tangga saya dengan Narti. Jadi sekarang biarlah Narti yang akan membalasnya, saya ingin Endang tiada untuk kedua kalinya!" Pekik Pak Darman menyeringai menakutkan.
"Astaghfirullah Pak. Bapak gak perlu menjadi jahat seperti Endang. Kasihan arwah Bu Narti Pak, dia seharusnya bisa tenang di alamnya bersama calon bayinya. Tapi Bapak malah membangkitkan nya dari kubur. Akhiri semua sekarang juga Pak, sebelum Pak Darman membuat arwah Narti melakukan hal yang lebih buruk lagi. Biar saja arwah Endang yang menderita di dua alam, karena ia memang pantas mendapatkan nya. Ingat Pak, rsncana Allah selalu lebih baik, dari apa yang kita bayangkan. Endang pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal." Kataku berusaha menyadarkan Pak Darman.
__ADS_1
Mbak Ayu juga mengingatkan Pak Darman, supaya memikirkan jiwa mendiang Bu Narti. Karena jika ia berhasil membalaskan dendamnya, energi negatif akan semakin menguasainya. Dan kemungkinan arwah Sundel bolong itu akan semakin kuat dan jahat.
Karena kekuatan keduanya sama-sama besarnya, tak ada yang berhasil mengalahkan satu sama lainnya. Hingga terdengar suara adzan yang berkumandang, dan membuat kedua makhluk gaib itu kocar kacir entah kemana.
"Alhamdulillah, akhirnya perkelahian mereka berakhir juga. Kita terjaga sepanjang malam disini ternyata." Ucapku seraya menghembuskan nafas panjang.
Mbak Ayu menyeka keringat di dahi nya, lalu meminta Pak Darman untuk mempertimbangkan ucapan kami lagi. Karena bagaimanapun dendam hanya akan menyengsarakan jiwa mendiang istrinya. Nampak Pak Darman tertunduk, tak mengatakan apa-apa. Kami tak tahu harus berkata apa lagi padanya, dan berpamitan untuk pulang.
"Duh Mbak kepala gue keliyengan nih, apa besok gue bisa berangkat kerja ya!"
"Cuti aja sih Ran. Untungnya besok hari sabtu, dan gue libur. Jadi bisa tidur sampai siang deh." Ucapnya seraya melangkahkan kaki kembali ke kostan.
"Loh Mbak, semalaman gak tidur ya? Kok masih pakai baju yang sama?" Tanya Heni disusul Leni dengan pertanyaan yang sama.
"Gue gak sempet ganti baju, dan belum tidur juga. Ntar kalau sempat bangunin gue jam tujuh ya, gue mau shalat terus tidur." Jawabku seraya berjalan masuk kamar.
Ku dengar Mbak Ayu memberikan pesan pada keduanya, jika mereka tak perlu membangunkan nya.
__ADS_1
"Rania aja yang dibangunin, gue gak usah ya! Besok gue libur soalnya, duluan ya Hen, Len."
Tak ku dengar lagi obrolan mereka. Aku bergegas mandi dan shalat, setelahnya aku langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Di dalam mimpi, aku melihat sosok perempuan sedang memunggungiku. Ia menangis terisak dengan menutupi wajahnya menggunakan tangan. Karena rasa penasaran, aku mendatangi nya.
"Siapa kau?" Tanyaku menepuk pundak perempuan dengan rambut terikat.
Tiba-tiba ia melayang ke udara, dan sosoknya pun berubah. Aku jadi gelagapan melihat wujudnya. Mungkin karena bentuknya yang mengingatkan pada kematian. Terlihat setengah bwajahnya yang menghitam dan setengahnya lagi membengkak mengeluarkan belatung yang berceceran.
"Mbak. Bangun whoy!"
Suara seorang perempuan mengejutkan ku. Aku terbangun dari tidurku, sayup-sayup ku lihat Heni sedang mengguncang-guncangkan tubuhku.
"Katanya suruh bangunin jam tujuh, kok susah banget dibangunin nya? Tuh ada pisang goreng anget-anget buat sarapan!" Seru Heni seraya melangkahkan kakinya pergi.
Aku masih duduk termenung di atas ranjang. Teringat mimpi ku tadi, entah siapa sosok yang mendatangi ku lewat mimpi. Karena sepertinya itu tak hanya mimpi biasa. Ku regangkan otot-otot di tubuh, rasanya tubuhku lelah sekali. Ku raih ponsel di atas nakas, ada banyak sekali pesan masuk dari Mbak Rika. Ia mengatakan, jika Pak Darman seperti orang tak waras. Mendadak ia menjerit-jerit memanggil nama seorang perempuan.
"Ampun Narti, aku tak bermaksud membuatmu seperti ini. Semuanya karena Endang, celakai saja dia." Seperti itu isi chat Mbak Rika di wassap ku.
__ADS_1
Aneh, kenapa Pak Darman mendadak jadi seperti itu ya. Apakah ia kerasukan, atau memang dia sedang frustasi ya. Batinku terus bertanya-tanya, belakangan ini makin banyak hal yang terjadi di sekitarku. Ku katakan pada Mbak Rika, supaya memberitahu adik Pak Darman. Jika Pak Darman mungkin sedang banyak pikiran, dan memberinya waktu untuk berpikir sendiri. Pokoknya, aku harus merubah pikiran Pak Darman untuk menghentikan nya bersekutu dengan setan. Apa yang dilakukan nya pada arwah Bu Narti tidak seharusnya terjadi. Dan kini ia harus memperbaiki keadaan, supaya jiwa perempuan yang pernah dicintainya itu dapat kembali ke alam keabadian.