
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam an. Akhirnya kami sampai di Rumah Sakit Polri, nampak Mas Adit sudah menunggu di Lobby. Ia menghampiri kami begitu kami keluar dari mobil. Aku memperkenalkan Heni pada Mas Adit secara resmi, karena mereka hanya pernah saling melihat tanpa berkenalan secara langsung. Mas Adit mengucapkan turut berduka atas kepergian Abangnya, Heni pun hanya diam dengan menganggukkan kepala.
"Terima kasih ya Pak, udah nanganin kasus Abang saya. Kalau boleh tahu apa penyebab Bang Fendi meninggal dunia?"
"Nanti biar pihak forensik yang akan menjelaskan. Mungkin bisa menunggu pihak keluarga yang lainnya dulu. Tapi kalau kau mau lihat jenazahnya sekarang, saya bisa antarkan kesana."
Heni tak menjawab, ia malah menatap ku dengan sorot mata iba. Seakan ia meminta persetujuan ku untuk menemani nya. Astaga, tengah malam gini, masak iya aku harus masuk ke kamar mayat. Dan ngelihat wujud mengerikan para mayat-mayat yang ada disana. Melihat penampakan Fendi aja pasti akan sama dengan kondisinya ketika meninggal. Jadi aku tak akan kaget lagi melihatnya, tapi bagaimana dengan penampakan demit yang lainnya.
"Gimana Mbak?" Tanya Heni seraya mengangkat dagunya.
"Gimana apanya Hen? Terserah lu dong, mau lihat ke dalam sana atau enggak. Kalau gue sih udah sering lihat akhir-akhir ini!" Jawabku dengan melirik ke arah Fendi berdiri mengambang.
"Maksudnya lihat apa Mbak?"
Aku gelagapan menjawab pertanyaan Heni, ku alihkan pembicaraan dengan mengajaknya melihat jenazah Abangnya. Tapi Heni malah bergidik dengan memegangi tengkuknya. Sepertinya nyalinya jadi ciut, begitu aku menerima ajakannya untuk ke kamar mayat.
"Ntar pagi aja deh Mbak, nunggu orang tua gue dulu. Gue selain gak siap mental lihat jenazah Bang Fendi, gue juga takut masuk ke dalam sana. Banyak mayatnya tauk!"
"Nah itu lu tau ngapain tadi sok ngide mau lihat jenazah Abang lu segala? Kayak yang berani aja lu Hen Hen!"
"Ya udah, kita nunggu di Lobby aja yuk. Daripada berdiri disini terus." Ajak Mas Adit seraya melangkahkan kaki nya.
Dua jiwa tanpa raga itu ikut duduk di samping kami. Bahkan sosok Fendi masih berusaha menyentuh tubuh adiknya. Aku berkomunikasi melalui batin, dan meminta Fendi untuk tak melakukan hal semacam itu. Karena adiknya Heni itu sangat sensitif dengan makhluk tak kasat mata. Yang ada Heni bisa ketakutan, karena bulu halus nya meremang. Mbak Lia pun menceritakan kejadian semalam, sewaktu Heni bisa mendengarkan suara tangisnya. Dan benar saja, begitu aku membuka kedua mata, Heni berlari pindah ke bangku yang lainnya. Aku langsung menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Ngapain pindah Hen?"
"Gak apa-apa kok Mbak, gu gue pengen duduk disini aja. Disitu anginnya banyak, jadi merinding gue nya."
Nah kan, benar dugaanku. Mas Adit pun terkekeh geli, menurutnya tak ada angin yang masuk dari luar ke dalam. Karena pintu Lobby Rumah Sakit sudah tertutup dan tak ada siapapun yang keluar masuk.
"Mas sorry ya, lagi-lagi aku ngrepotin. Padahal ini bukan jam kerjamu."
"Sorry apa an sih Ran? Gak usah bilang kayak gitu segala, mana mungkin aku biarin kalian berdua cewek-cewek di rumah sakit tanpa ada cowok yang jagain. Lagipula besok pagi aku sekalian mau ketemu orang tua Heni. Mau kasih berkas penyerahan mayat, sekalian ngelanjutin kasus tabrak lari nya almarhum Fendi."
Kami berlanjut membahas mengenai kelompok sekte yang diduga diketuai oleh Tante Ajeng. Dan aku menceritakan apa yang Fendi katakan mengenai Heni dan juga Leni.
"Jadi menurut mu, kita perlu mengorek informasi dari Heni juga?" Ucap Mas Adit dengan mengaitkan kedua alis mata.
Tiba-tiba Heni bangkit berdiri dan berpindah duduk di samping kami. Ia mengaku gak tenang, dan terbayang-bayang wajah Abangnya.
"Apa Bang Fendi marah sama gue ya Mbak, karena gue takut ngelihat dia di kamar mayat!"
"Gak kok Hen, perasaan lu aja itu. Abang lu pasti paham, kalau adiknya bukan orang yang pemberani jadi dia akan paham dengan situasi lu saat ini."
"Tadi gue denger kalian ngomongin tabrak lari yang di alami Bang Fendi. Emang pelakunya belum ketemu ya?"
Aku dan Mas Adit tak langsung menjawab, kami saling menatap tak tahu harus mengatakan apa. Aku menyikut lengan Mas Adit, memberinya kode supaya ia yang memberikan jawaban pada Heni. Mas Adit mengatakan jika sudah ada terduga di kasus kecelakaan itu, tapi polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan terduga sebagai tersangka utama. Karena minimnya bukti dan saksi yang ada, jadi kasus itu sedikit rumit untuk ditelusuri.
__ADS_1
"Emang gak ada rekaman cctv di TKP?"
"Heni. Kalau pun ada pasti polisi udah nangkep pelakunya. Jadi lu sabar aja ya, kasus ini pasti akan diselesaikan. Karena keadilan harus ditegakkan!"
Tanpa terasa kami mengobrol sampai larut malam. Akhirnya aku tertidur di bangku, entah apa yang terjadi selama aku tertidur. Karena amu terbangun setelah mendengar suara tangis histeris banyak orang. Sontak saja aku terbangun dan melihat ke sekitar. Nampak Heni sedang memeluk seseorang dengan berderai air mata. Kemudian sosok Fendi melesat ke arah ku, dan mengatakan jika itu adalah orang tua nya.
"Jika orang tua ku harus mengkonfirmasi jenazah ku, tolong jangan biarkan Ibuku melihat kondisi ku. Ia tak akan sanggup melihat anaknya dengan kondisi mengenaskan begitu." Pungkas Fendi dengan wajah sendu.
Aku tercengang mendengar permintaan konyol nya, mana mungkin aku harus melarang orang tua melihat anaknya di detik-detik terakhir seperti ini. Yang ada aku bisa kena omelan, karena berkata lancang begitu.
"Rania benar Fen, dia gak mungkin menyampaikan pesanmu itu. Bagaimanapun kedua orang tua mu berhak melihat anaknya, bagaimanapun kondisinya. Percayalah Ibu mu bisa mengatasi nya." Ucap Mbak Lia sedikit membuat ku lega.
Aku pun menjabat tangan kedua orang tua Heni. Lalu memberikan ucapan duka cita yang sebesar-besarnya. Keduanya pun mengucapkan terima kasih padaku, karena telah membantu menemukan informasi mengenai Fendi. Dan menemani Heni di rumah sakit sepanjang malam. Setelah itu Mas Adit mengajak semua keluarga Heni menuju ke kamar jenazah. Sementara aku memutuskan untuk pergi ke mushola depan, karena sudah memasuki waktu subuh. Sebenarnya aku tak tega melihat reaksi kedua orang tua Heni, ketika mereka melihat kondisi jenazah Fendi. Sebagai orang tua pasti hati mereka sangat hancur. Melihat buah hatinya telah berpulang mendahului keduanya. Aku hanya bisa mendoakan supaya semua keluarga nya ditabahkan hatinya, dan diberi kekuatan yang besar untuk menerima kenyataan. Apalagi arwah Fendi masih gentayangan di alam manusia. Karena menurutnya urusannya di dunia ini belum selesai, jika pelaku kejahatan itu belum tertangkap. Semoga saja si Guntur itu tak semakin menjadi, ketika ia tahu jika Mbak Lia masih selamat setelah ia mencelakai nya. Kini aku sudah berada di mushola dan melakukan shalat subuh. Aku membacakan doa untuk arwah Fendi, supaya ia bisa ikhlas dan tak menunda kepergian nya.
"Assalamualaikum." Suara seseorang yang tak asing di telinga ku.
"Waalaikumsalam." Kata ku seraya menolehkan wajah ke samping.
Nampak wajah seseorang yang sangat ku rindukan hadir di depan mata ku dengan mengenakan mukena putih bersih. Beliau menyunggingkan senyumnya padaku seraya mengusap kepala ku. Simbah Parti menemuiku lagi, apakah aku sedang bermimpi. Bukankah aku masih di dalam mushola, kenapa Simbah datang menemuiku.
"Nduk cah ayu, kalau capek istirahat sebentar. Tak akan ada habisnya jika kau terus menolong siapapun yang membutuhkan bantuanmu. Tubuhmu ini hanyalah tubuh manusia biasa, ada kalanya kau tak perlu selalu mengutamakan urusan lain. Bangunlah Nduk, kau sampai terpejam di mushola ini. Karena itulah Simbah mendatangi mu di dalam mimpi. Kau tak usah terlalu mencemaskan Dahayu, dia sudah menerima konsekuensi dari apa yang disepakati. Dia pasti akan kembali lagi, karena Calon Arang tak akan mungkin mencelakai nya terlalu parah. Jadi gunakanlah sedikit waktu mu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiranmu. Meski Eyang Buyut sudah memberikan mustika padamu, dan Pangeran Jin juga memberikan sesuatu padamu. Kau tetaplah seorang manusia biasa yang membutuhkan istirahat. Simbah pergi dulu, dan jangan lupakan pesan Simbah yo Nduk." Ucap Simbah sebelum akhirnya menghilang entah kemana.
Dan samar-samar aku mendengar suara seseorang. Aku langsung membuka mata, terlihat Heni membangunkan ku. Katanya aku tertidur seorang diri di mushola.
__ADS_1
Astaga jadi benar tadi aku terlelap selepas berdoa. Dan mendiang Simbah Parti hadir di mimpi ku. Memang belakangan ini aku kurang istirahat, pasti beliau sangat menghawatirkan ku, karena itulah beliau datang melalui mimpi dan mengingatkan ku.