Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 170 KABAR BURUK?


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Eyang buyut, aku seakan kehilangan sebagian motivasi terbesar ku. Padahal aku baru semalam saja bertemu dan mengenal beliau dengan lebih dekat. Tapi sekarang, aku bahkan tak bisa bercerita pada semua orang mengenai dirinya. Pak Jarwo dan Lala tak langsung kembali ke Desa nya, mereka mengantar ku sampai rumah dan memastikan sekali lagi, jika aku tak mengungkapkan pertemuan ku dengan Eyang buyut. Sesampainya di rumah, nampak semua orang menantikan kehadiran kami. Entah darimana mereka tahu jika aku akan pulang pagi ini.


"Alhamdulillah Nak, kalian sudah pulang dengan selamat." Pungkas Mama seraya memeluk ku.


"Loh kok Mama dan semuanya tahu kalau Rania dan Lala pulang sepagi ini?"


"Iya, Mbok Genuk yang memberitahu kami. Tapi sekarang ia sedang membantu Wati mengurus Pramono. Kalian berdua pasti sangat lelah, mandi dulu terus makan ya. Kami semua ingin mendengar cerita kalian. Kalau dilihat dari wajah kalian, pasti kalian berhasil menjalankan misi."


"Iya Ma, alhamdulillah. Ya udah kami bersihin badan dulu."


Setelah mandi, aku merebahkan tubuh sebentar di ranjang. Tak lama Wati datang lalu memeluk dengan erat. Ia terisak, takut jika terjadi hal-hal yang buruk padaku.


"Apa kau menemui rintangan disana Ran? Dan apa ada yang menolong kalian selama disana?"


"Yang namanya orang hidup pasti selalu nemuin rintangan Wat. Alhamdulillah selalu saja ada yang menolong aku dan Lala. Bahkan Lala sudah berhasil meminta bantuan dari mantan suami gaib nya. InsyaAllah kau bisa menjalani hari-hari mu dengan normal. Dan keadaan Pramono akan jauh lebih baik, jika Elang berhasil meminta buto peliharaan Sumitro untuk berhenti. Dan mengakhiri perjanjian mereka. Tapi itu artinya, Sumitro akan tewas di tangan buto sembahan nya sendiri. Setelah itu barulah Pramono bisa sembuh dari penyakit mentalnya."


"Kau serius Ran? Mas Pramono bisa menjadi lelaki yang normal?" Tanya Wati dengan mata berkaca-kaca.


"InsyaAllah Wati, dengan ijin Allah gak akan ada yang mustahil. Kita hanya perlu banyak berdoa supaya rencana kita berjalan lancar."


"Amin ya Allah." Ucap Wati seraya menengadahkan kedua tangannya.


Terdengar suara Bude Walimah, ia memanggilku untuk sarapan bersama yang lainnya. Nampak Pak Jarwo dan Lala sudah ada di meja makan. Sepertinya Lala sedang menceritakan mengenai Asep, pemuda yang kami temui di sekitar Curug Banyu Dowo.

__ADS_1


"Jadi kalian mengajaknya untuk bergabung bersama ke Puncak?" Tanya Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Iya Pak. Soalnya Lala yang menawarkan Asep buat barengan ke Puncak. Gak tahu nya, itu jadi awal petaka buat kita. Sampai akhirnya sesosok makhluk gaib mendatangi kami. Katanya kami salah membawa orang, karena itulah kami jadi tersesat dan tak bisa sampai ke Puncak. Si Asep itu mencuri mustika dari istana sang putri itu, meskipun Asep gak bisa lihat wujud makhluk gaib itu. Tetap saja, dia gak bisa lancang mengambil sesuatu di alam bebas seperti begitu saja!"


"Bukankah kami sudah memperingatkan kalian berdua, jika kalian harus mengacuhkan siapapun yang mendatangi kalian. Karena kalian hanya akan bertemu dengan satu manusia saja di Puncak Curug itu!" Seru Mbok Genuk dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku dan Lala hanya bisa menundukkan kepala, ternyata kami tak mendengarkan peringatan Pak Jarwo ataupun Mbok Genuk, supaya kami tak berurusan dengan siapapun. Apalah daya, hati ku ini terlalu rapuh jika melihat seseorang yang sedang kesusahan. Sehingga aku melupakan peringatan itu. Nampak Lala merasa bersalah, dan menyesali perbuatannya.


Kini semua orang penasaran, siapa manusia yang sedang menunggu kedatangan kami di Puncak Curug itu. Sontak saja jantung ku berdetak kencang, deru nafasku jadi beraturan. Bagaimana ini, apakah aku harus menceritakan tentang pertemuan kami dengan Eyang buyut. Tapi Eyang sudah mewanti-wanti, untuk tak mengatakan pertemuan kami. Tapi kan mereka yang bertanya, dan sudah seharusnya aku menceritakan apa yang sebenarnya. Nampak Lala hanya menundukkan kepala dengan wajah kebingungan. Aku memandang ke arah Pak Jarwo, dan ia memberikan petunjuk dengan menganggukkan kepala, jika aku memang harus menceritakan apa yang sebenarnya.


"Hmm Rania dan Lala bertemu dengan Ki Ageng Gede. Beliau adalah orang kepercayaan pangeran jin muslim. Selain itu, beliau juga Eyang Buyut Rania. Eyang Buyut adalah Ayah dari mendiang Simbah Parti."


Terlihat semua orang terkejut, mereka menghentikan suapan makan nya. Dan melihatku lebih serius. Mama dan Bude Walimah yang paling terkejut, karena menurut mereka. Mendiang Simbah Parti tak pernah sekalipun menceritakan mengenai Eyang Buyut. Karena yang mereka tahu, Eyang Buyut menghilang dan tak pernah ditemukan keberadaan nya setelah beliau pergi bertapa.


Ponsel Wati bergetar, ia menerima panggilan telepon itu. Dan nampak raut wajahnya berubah sendu.


"Inalillahi wainnailaihi raji'un." Kata Wati dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa Wat?" Tanya semua orang bersamaan.


Wati mendapatkan telepon dari ponsel Mbak Ayu. Dan bukan Mbak Ayu yang meneleponnya. Karena di riwayat panggilan terakhir, tercantum nama Wati, jadi Wati lah yang pertama kali dihubungi.


"Itu telepon dari Rumah Sakit yang ada di Bali. Mbak Ayu dan Om Dewa sedang kritis, dan pihak Rumah Sakit kesulitan mencari informasi keluarga terdekatnya. Gak mungkin kan aku ngasih nomor hape nya Tante Ajeng. Terus gimana nih Ran?"

__ADS_1


Semua orang menjadi panik, dan kami tak dapat memutuskan apapun. Aku tak mungkin meninggalkan Desa, sebelum urusan disini selesai. Aku harus memastikan Pak Mitro benar-benar tewas dimangsa buto sembahan nya. Akhirnya Papa mengambil keputusan jika, ia yang akan pergi ke Bali untuk memastikan kondisi Mbak Ayu dan juga Om Dewa.


"Lagipula Dewa masih kerabat ku, aku dan Mama nya Rania saja yang pergi. Sesampainya disana kami akan memberi kabar pada kalian." Pungkas Papa dengan memijat pangkal hidungnya.


Astaga, apa lagi yang terjadi pada mereka. Masalah disini belum selesai, ditambah dengan masalah yang ada disana. Tapi aku tak mungkin meninggalkan Desa, karena nyawa Wati juga terancam.


"Sudahlah sayang, jangan bimbang begitu. Kau anak yang baik, Mama tau kau juga ingin melihat kondisi Dahayu. Tapi kau tak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Dahayu pasti akan mengerti, bukankah kau hanya mengambil cuti selama satu minggu. Lantas apa yang akan kau lakukan, jika dalam satu minggu urusan disini belum selesai?" Tanya Mama seraya menyeka air mata yang membasahi pipi ku.


Memang tak terpikirkan oleh ku kemungkinan itu. Sepertinya aku harus memperpanjang cuti ku, dan meminta ijin dari Pak Bos. Meskipun ia memberiku kebebasan libur, supaya aku dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di keluarga ku. Tetap saja aku harus memberikan kabar, mengenai hubungan Bu Kartika dengan peliharaan gaib nya.


"Apa pekerjaan Papa dan Mama di Kalimantan tak akan terganggu?"


"InsyaAllah gak apa-apa Nak, tolong pesankan travel ke Jakarta sekarang juga. Biar di perjalanan nanti Papa sendiri yang akan mencari tiket pesawat ke Bali."


Keadaan di rumah seketika kacau balau. Bahkan mereka melupakan pembahasan mengenai Eyang Buyut. Aku menepuk kening, tersadar dengan ucapan Eyang mengenai kabar buruk. Jadi kabar inilah yang beliau maksud. Tapi apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Ayu dan juga Om Dewa. Kenapa mereka bisa dalam keadaan kritis, bukankah Mbak Ayu memiliki kesaktian dari ilmu Leak. Tapi kenapa ia bisa sampai kritis seperti itu. Jangan-jangan ada yang sengaja memancing emosinya, dan Mbak Ayu bertindak diluar kontrol.


Beberapa saat kemudian, Wati mendatangi ku, dan memintaku untuk pergi bersama Mama dan Papa.


"Aku tau kau hawatir dengan kondisi mereka. Pergilah, aku tak apa-apa, bukankah ada Lala dan Pak Jarwo disini!" Seru Wati seraya menyunggingkan senyum.


"Gak Wati! Aku datang kesini dengan tujuan untuk membantu mu, apapun yang terjadi aku akan memastikan keamanan mu lebih dulu. Baru setelah itu aku bisa meninggalkan Desa ini dengan tenang!"


"Rania benar Wat, kau adalah satu-satunya saudara terdekatnya. Ia tak mungkin bisa meninggalkan mu dalam ketidakpastian begini. Sebentar lagi Kangmas Elang pasti akan memberi ku kabar, dan ia akan memberikan sesuatu untukmu sebagai pelindung. Karena keluarga Sumitro tak hanya melakukan pesugihan dengan Buto ireng. Tapi ia juga memelihara Kuntilanak merah untuk kemakmuran perusahaan nya." Celetuk Lala seraya berjalan menghampiri ku dan juga Wati.

__ADS_1


Nampak wajah Wati berubah sendu, ia tak menyangka jika kehidupan nya akan menjadi seperti sekarang. Aku menggenggam tangan nya, dan memenangkan nya. Apapun yang terjadi, aku akan memastikan Wati terbebas dari ancaman Buto ireng sembahan Pak Mitro. Jika hanya berurusan dengan Kuntilanak merah, aku masih bisa menghadapinya. Karena aku tahu betul, jika merah akan selalu mengikuti Bu Kartika kemanapun. Ia tak akan mungkin tenang berada di Desa lebih lama lagi. Apalagi meninggalkan suaminya bersama istri baru nya. Entah apa yang terjadi dengan Purnama di rumah besar itu.


__ADS_2