Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 37 MISTERI PENEMUAN MAYAT


__ADS_3

Setelah mendapat perintah dari Mbak Rika, aku dan Agus bergegas pergi. Aku ketik di pencarian google mengenai kasus tabrak lari itu, nampak beberapa media sudah mencari informasi mengenai kasus itu.


"Duh Gus, ternyata kita udah kalah cepet dari media lainnya, bahkan ada yang udah naikin beritanya. Tapi emang belum jelas sih informasi nya, sepertinya mereka asal buat berita deh."


"Biasalah Ran, buat naikin rating mereka asal buat berita. Yang terpenting buat mereka hanya cuan, tanpa memberikan berita yang teraktual."


"Kenapa ya Gus kita harus ngeliput berita yang berhubungan dengan mayat, kasus kriminal kan juga ada loh."


"Sepertinya atasan kita tahu, kalau lu punya bakal yang agak lain."


"Agak lain apa an sih Gus? lu pikir gue mau punya bakat beginian? tapi ada untungnya juga sih, gue bisa menyelidiki sesuatu berdasarkan penelusuran yang gue lakuin. Dan bisa meringankan pekerjaan gue juga, meskipun ada aja makhluk gaib yang ngerecokin gue."


Setelah berkendara satu jam lebih empat puluh menit, kami tiba di sebuah perkampungan di pinggiran kota Jakarta. Sudah banyak petugas kepolisian yang berjaga, nampak garis kuning memanjang di depan gorong-gorong. Aku dan Agus bersiap meliput, kami meminta ijin pada petugas. Dan dengan mudah kami memasuki TKP, seperti biasanya Agus bertugas mengambil gambar. Sementara aku meminta keterangan dari warga sekitar ataupun petugas polisi.


"Hei Ran, kamu sampai sini juga?" ucap seseorang dari seberang jalan, dan aku tak dapat melihat dengan jelas orang tersebut. Karena banyaknya orang yang berlalu lalang.


Aku melanjutkan pekerjaan dan meminta keterangan dari seorang polisi. Polisi itu sedang memberikan wawancara untuk media lainnya, akupun berkumpul dengan beberapa jurnalis untuk mendapatkan keterangan. Dan berdasarkan keterangan polisi itu, ia menjelaskan jika mayat tersebut tertabrak mobil sekitar dua hari yang lalu. Dan mayatnya baru ditemukan hari ini. Kami menanyakan beberapa informasi mengenai siapa yang pertama kali menemukan mayat tersebut. Lalu identitas dari mayat itu.


"Seorang pemulung yang pertama kali menemukan korban. Dan berdasarkan rekaman cctv, korban ditabrak sebuah mobil dari arah selatan. Dan mengenai identitas, kami belum dapat memberikan informasi lengkapnya." jelas polisi tersebut, sebelum ia menyapa rekan sesama polisinya.


Rupanya Mas Adit baru saja tiba, ia juga menyunggingkan senyumnya seraya menaikan alis matanya padaku. Hmm, entah kenapa Mas Adit sampai ke wilayah ini. Padahal menirutku ia tak bertugas di sekitar tempat ini. Terdengar mereka saling berbisik, dan memberi kode jika ia akan membicarakan nya setelah wawancara dengan para awak media. Lalu Mas Adit memilih pergi ke arah TKP. Aku yang merasa penasaran, segera menghampiri Mas Adit dan meninggalkan sesi wawancara dengan polisi tadi.

__ADS_1


"Mas Adit!" seruku seraya berlari mengejarnya.


"Loh ngapain kamu ngikutin aku? jangan bilang mau ikutan masuk ke TKP?" ucapnya dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Hehehe sebenarnya bukan karena itu. Tapi berhubung Mas Adit bilang begitu, boleh juga sih kalau aku dikasih ijin masuk ke TKP." aku bersikap manis dengan mengedipkan kedua mata, disambut dengan sikap malu-malu Mas Adit.


"Dih apa an sih Ran. Jangan kayak gitu deh, bikin salting aja sih. Kali ini aku gak bisa bawa kamu masuk ke TKP, karena ini bukan wilayah tugasku. Aku diminta datang ke tempat ini, karena menurut komandan, ada sesuatu yang berhubungan dengan kasus yang sedang kami tangani."


"Kasus yang mana Mas? bisa kasih tahu aku gak? siapa tahu bisa jadi bahan buat berita juga tuh."


"Belum tau juga nih, karena masih ada beberapa kasus yang belum selesai, dan gak gerak karena belum ada petunjuk dan lain sebagainya. Ya contohnya kayak kasus pembunuhan seorang petugas polisi, yang di aniaya sampai meninggal oleh atasannya sendiri. Ya, karena sang atasan mempunyai pangkat dan wewenang, jadi kasus susah di ungkapkan di depan publik. Sama halnya dengan misteri penemuan mayat di gedung tua itu. Kalau itu sih lebih ke hal mistis, jadi masih janggal aja kemana hilangnya kepala mayat tersebut." penjelasan Mas Adit sangat detail, dan aku hanya menganggukan kepala.


Ternyata sebegitu rumitnya tugas Polisi, tak hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Tapi bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, untuk menyelesaikan satu kasus. Dan sekarang ada dugaan korban di TKP berhubungan dengan kasus yang sedang ditangani Mas Adit.


"Baik, saya akan segera ke TKP."


Setelah berpamitan denganku, Mas Adit bergegas pergi. Sementara aku kembali berkeliling mencari narasumber lainnya, aku berjalan ke arah seorang lelaki berbaju putih lusuh, ia sedang duduk dan dikawal polisi. Melihat dari penampilannya, sepertinya ia adalah pemulung yang pertama kali menemukan mayat di gorong-gorong.


"Selamat siang Pak, saya dari media, ingin meminta keterangan dari saksi utama bolehkah?" kataku pada petugas itu, dan untungnya aku diperbolehkan mewawancarai nya.


Segera ku hubungi Agus melalui pesan wassap, dan memintanya datang menemuiku. Nampak Agus berlari dengan membawa kamera di tangannya, satu tangannya sedang melambai padaku.

__ADS_1


"Gus, ini Pak Sukir. Dia yang pertama nemuin mayat di gorong-gorong. Siapin kamera, kita akan segera melakukan wawancara."


Dengan cepat Agus mempersiapkan segalanya, aku meminta keterangan dari Pak Sukir, Menanyainya berbagai pertanyaan yang biasa ditanyakan jurnalis pada narasumber nya. Tapi ada satu hal yang mengejutkan ku, ia mengatakan sesuatu yang membuatku penasaran. Pak Sukir bercerita, jika mayat perempuan itu menggunakan gaun panjang berwarna merah. Ada bungkusan tak jauh dari mayatnya, di dalam bungkusan itu ada tengkorak kepala manusia.


"Tengkorak itu masih menyisakan rambut di kepalanya Mbak. Duh saya jadi merinding, jangan-jangan perempuan itu habis ngebunuh orang. Dan apesnya dia tertabrak hingga tewas di gorong-gorong itu!" seru Pak Sukir dengan mengusap belakang lehernya.


"Perempuan bergaun merah, bungkusan, tengkorak kepala? jangan-jangan dia adalah perempuan misterius yang beberapa hari ini menggangguku. Dan kepala yang udah menjadi tengkorak itu adalah kepala Bu Wayan Sukmawati?" batinku di dalam hati dengan degup jantung yang kencang.


Terdengar suara Agus berteriak memanggil namaku. Rupanya aku sedang melamun di tengah-tengah sesi wawancara. Segera ku lanjutkan penyelidikan, aku bertanya tentang identitas mayat tersebut.


"Saya memang sempat mencari tanda pengenalnya Mbak, tapi saya gak berani megang mayat itu. Takut dikira saya yang ngebunuh, kalau ada sidik jari tangan saya yang berbekas di mayat tersebut."


"Baiklah Pak, saya rasa cukup wawancara kita kali ini. Saya ucapkan terima kasih atas informasinya."


Aku berjalan gontai dengan pikiran yang tak menentu. Rupanya Agus mengetahui kecemasan ku, dan ia langsung menebak apa yang ada di dalam pikiran ku.


"Gue tahu lu pasti mikir jika mayat yang ada do TKP ini adalah perempuan yang sering nyamperin lu di kantor. Kalau memang itu benar, gue pasti bisa ngenalin wajahnya. Dan gue bisa bantu identifikasi mayat tersebut. Kalau mengenai tengkorak kepala, gue gak bisa nebak apapun. Jangan hanya karena kita lagi nyari kepala Wayan Sukmawati, lu jadi berpikir kalau itu memang kepala beliau." kata Agus dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Aku hanya diam tak menjawab perkataan Agus. Karena masih ada tanda tanya besar di dalam pikiran ku, dan hanya Mas Adit saja yang bisa menjawabnya. Karena ia ada di TKP saat ini, pastinya ia akan mengetahui semua informasi yang ingin ku ketahui.


Semoga tebakan Rania itu benar, supaya kasus ini segera terselesaikan.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2