
Mas Adit mendapatkan kabar dari pihak Rumah Sakit, jika Nek Dijah pun akhirnya meninggal dunia. Bahkan ia meninggal secara tak sajar, tubuhnya mengering menyisakan tulang dan kulit saja.
"Mas aku ikut ya, please!" Aku memohon dengan wajah melas supaya Mas Adit mengijinkan ku pergi bersamanya.
Nampak raut wajahnya gelisah, tapi akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Kau boleh ikut, gunakan tanda pengenal jurnalis mu. Karena Rumah Sakit tempat umum, kau bisa datang kesana dan mempublikasikan apa yang ingin kau liput." Kata Mas Adit seraya menggandeng tanganku berjalan menuju mobil.
Dret dret dret
Terdengar ponsel yang bergetar, nampak panggilan telepon dari Mbak Ayu. Ketika aku menyentuh tombol terima telepon. Mbak Ayu langsung menceritakan apa yang ia lihat di Rumah Sakit.
"Ran. Nek Dijah meninggal dunia setelah sosok gaib mendatangi nya, dan aura kehidupannya di ambil oleh sosok gaib itu. Sepertinya itu adalah bagian dari perjanjian mereka. Gu gue baru pertama kali lihat yang begituan, serem banget gilak!" Pungkas Mbak Ayu terdengar sangat panik.
"Gimana awal kejadiannya Mbak?"
"Tadi gue lihat petugas polisi yang membawa pasien kesini, gue ikutin kan, nah polisi itu bilang pasiennya adalah orang yang memiliki ilmu hitam. Dan gue prediksi itu adalah salah satu orang yang tertangkap semalam. Pas masih di ruang ICU, gak ada yang boleh jenguk dia kan. Makanya gue lihat dia dari kaca depan pintu, nah kebetulan ada petugas jaga juga kan. Gue perhatiin wajahnya kayak gak asing, dan gue tahu itu adalah Nek Dijah. Pas gue mau jalan balik ke ruangan Om Dewa, gue lihat sosok gaib yang terbang melesat ke lorong. Akhirnya gue ikutin, eh gak taunya tuh sosok gaib masuk ke ruang ICU. Dan dia membuka lebar mulutnya, seketika tubuh Nek Dijah kejang-kejang. Gue kasih tau petugas jaga, mereka sama-sama terkejutnya kayak gue. Walaupun mereka gak lihat sosok gaib itu, mereka juga shock lihat tubuh Nek Dijah kejang-kejang, dan berubah mengering. Tau-tau tinggal tulang sama kulit doang Ran, bahkan suster dan Dokter yang kebetulan lewat dan menyaksikan fenomena aneh itu bergidik ketakutan. Dan pas Dokter masuk ke ruang ICU buat nolong Nek Dijah, dia udah gak nafas lagi. Terus di samping tubuhnya ada boneka kecil yang menyeramkan. Tuh boneka ada taringnya Ran, kayak bentuk siluman dalam versi mini gitu!" Ucap Mbak Ayu dengan sangat detail.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia memindahkan jiwanya ke boneka jenglot itu Mbak. Terus dimana bonekanya saat ini?" Tanya ku dengan panik.
"Ya gue gak tahu Ran. Soalnya petugas minta semua orang yang gak berkepentingan untuk menjauh dari TKP. Mereka masang garis kuning, jadi gue gak bisa kesana lagi." Jawab Mbak Ayu membuatku hawatir.
Aku langsung mengakhiri panggilan telepon itu, dan meminta Mas Adit supaya lebih cepat mengemudikan mobilnya.
"Gak bisa ngebut dong Ran. Jalanan macet, kita harus ikuti rambu lalu lintas!"
"Mas ini masalah kehidupan banyak orang, kalau kita sampai terlambat datang, aku takut akan terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi."
"Mbak Ayu barusan jelasin apa yang sebelumnya terjadi. Jiwa Nek Dijah udah dipindahkan ke boneka jenglot. Dan untuk pertama kalinya, boneka itu harus dikasih makan Mas. Dan kau tahu gak, apa yang jadi makanannya?"
Mas Adit menaikan dagunya bertanya. Aku langsung mengatakan jika jenglot itu harus diberi makan darah manusia. Dan aku mencemaskan orang-orang yang berada di sekeliling jenglot itu. Akhirnya Mas Adit terpaksa melanggar rambu lalu lintas, dan menerobos lampu merah. Kami melewati jalan tembus memasuki jalanan kampung, supaya kami lebih cepat sampai ke Rumah Sakit. Beruntungnya kami bisa lebih cepat sampai dari perkiraan. Kami bersama lari secepatnya ke Ruang ICU, tapi sesampainya disana nampak keadaan sangat kacau. Petugas polisi berlarian membantu seorang perawat yang terkapar di lantai. Nampak seseorang yang tak asing di mataku, berjalan menyelinap dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Tan Tante Ajeng." Guamam ku pada diriku sendiri.
Tante Ajeng membawa pergi boneka jenglot yang disembunyikan di balik tangannya. Nampak gigi taring jenglot itu menyisakan darah yang masih basah. Jangan-jangan jenglot itu telah berhasil menghisap darah seseorang.
__ADS_1
Dokter berlarian untuk menolong perawat yang terkapar itu. Dan aku melihat leher perawat itu berlubang meninggalkan bekas. Tak mau berpangku tangan begitu saja, aku langsung mengejar Tante Ajeng yang berlari meninggalkan ruang ICU. Ia mengenakan hoodie dengan kacamata hitam senada. Tanpa sadar aku mengejarnya sampai di depan bangsal anak-anak. Dan akhirnya Tante Ajeng menghentikan langkahnya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dengan tersenyum melalui sudut bibirnya. Aku berusaha berjalan mendekati nya, tapi ia berteriak lantang supaya aku tak berjalan lebih dekat lagi.
"Lagi-lagi kau mencampuri urusanku! Kenapa kau selalu mengurusi urusan orang lain. Padahal keluarga mu sendiri sedang ada masalah kan!" Pungkas Tante Ajeng menyeringai.
"Tante, apa yang Tante lakukan selama ini salah besar. Tante harus bertaubat, gak seharusnya Tante melakukan semua ini!"
"Menyingkir lah Rania, aku tak ada urusan denganmu! Kalau kau terus menghalangi jalan ku, aku akan memerintahkan jenglot ini untuk menghisap semua darah anak-anak yang ada di bangsal ini!"
Aku menelan ludah kasar seraya melihat ke dalam gedung. Banyak anak-anak yang sedang dirawat disana, dan aku tak mungkin membiarkan Tante Ajeng berbuat keji pada mereka.
"Cepat menyingkir dan jangan halangi langkahku, sebelum Mbak Ayu mu itu datang dan melawanku. Karena akan lebih banyak korban berjatuhan, jika aku sampai melepaskan jenglot ini!" Pekik Tante Ajeng mengancam.
Aku tak memiliki pilihan lain, selain membiarkan nya pergi begitu bersama jenglot jelmaan Nek Dijah. Dan sebelum Tante Ajeng pergi, ia kembali mengingatkan ku jika nyawa Om Dewa sudah ditandai untuk dijadikan tumbal. Sekeras apapun aku dan Mbak Ayu menjaganya, akan ada waktunya ia akan menghembuskan nafas terakhir nya.
"Aku tak bisa mengampuninya, begitu juga Dahayu tak akan bisa hidup dengan tenang. Kalau kau tak mau jadi target kemarahan ku, jangan sekali lagi mencampuri urusan ku. Karena kau tak memiliki masalah denganku, jadilah anak yang baik Rania. Tinggalkan Dahayu seorang diri, dia tak akan mampu melawanku jika tanpamu. Karena jika kau terus bersamanya, Dahayu akan selalu mendengar nasehatmu, dan dia tak akan terhasut bisikan jahat yang secara naluri diturunkan oleh Calon Arang. Semakin Dahayu berhasrat untuk membalaskan dendamnya padaku, akan semakin mudah aku mencelakai nya." Pungkas Tante Ajeng menyeringai seraya melangkahkan kaki nya pergi.
Aku masih tercengang mendengar ucapannya, apa benar yang ia katakan. Jika di dalam kemarahan Mbak Ayu bisa berbuat kesalahan, karena hasrat untuk membalaskan dendam nya bisa jadi boomerang bagi keselamatan Mbak Ayu sendiri. Lantas bagaimana aku bisa meninggalkan nya seorang diri, jika dalam beberapa hari lagi aku harus kembali ke Desa. Tak mungkin aku membiarkan nya tanpa ku, lantas apa yang harus aku lakukan. Dari kejauhan, nampak Tante Ajeng kembali menoleh ke arah ku. Ia menaikan boneka jenglot ke atas, seakan itu adalah piala kemenangan baginya. Padahal aku terpaksa membiarkan nya pergi, demi melindungi nyawa anak-anak yang tak berdosa di bangsal anak. Entah apa yang merubah Tante Ajeng sampai ia menjadi sejahat itu.
__ADS_1