
Setelah joging di sekitar komplek rumah, kami istirahat di sebuah taman kecil di ujung komplek. Banyak orang-orang yang menghabiskan akhir pekannya untuk olahraga pagi disini. Tapi ada satu orang yang menurutku agak aneh, setelah joging di sekitar taman ini. Ia seperti menunggu seseorang dengan gelisah. Berkali-kali ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya. Entah kenapa pandangan ku tertuju ke orang itu.
"Yuk balik Ran, gue udah lapar nih. Ntar agak siangan kita ke Mall, nonton sekalian shoping. Wah pasti seru ya, udah lama banget gue gak refreshing. Gimana kalau ke Salon sekalian?" Tanya Mbak Ayu bersemangat.
"Iya. Gampang deh Mbak, lu atur aja."
Plaaak.
Mbak Ayu menepuk pundakku seraya menaikan dagunya. Ia penasaran kenapa aku tak fokus berbicara dengannya.
"Dari tadi lu ngelihatin apa sih? Kayak yang gak fokus ngobrol sama gue! Apa ada makhluk tak kasat mata yang gangguin lu lagi Ran?"
"Gak ada kok Mbak, gue lagi keppo aja sama orang itu. Gerak geriknya mencurigakan, jangan-jangan dia pengedar narkoba lagi!"
"Hussd, jangan asal bicara lu. Bisa kena pasal pencemaran nama baik tahu gak! Udah yuk, pulang aja, tapi mampir ke Warung Mpok Ipeh dulu. Beli nasi uduk telor balado kayaknya mantul."
Baru beberapa langkah kami berjalan, orang yang ku curigai tadi mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Sesuatu yang dibungkus plastik hitam tebal, dan ia tinggalkan begitu saja di semak-semak ujung taman.
"Ya elah Ran. Dari tadi gue ajakin ngobrol pantesan gak nyahut-nyahut, nah lu nya malah berhenti disitu ngapain sih?" Tanya Mbak Ayu menggelengkan kepala.
"Sini deh Mbak, gue yakin tuh orang ada niat gak baik deh. Tadi dia ninggalin sesuatu disitu, yuk kita lihat apa isinya!"
__ADS_1
"Dih. Lu jadi orang penasaran banget sih, gue disini aja deh. Kalau lu mau lihat, kesana aja sendiri. Gue udah gak ada tenaga nih, laper parah."
Aku berdecih melihat tingkah Mbak Ayu yang konyol, setidaknya ia kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan tak terlalu fokus dengan urusan dendam pada Om Dewa. Akhirnya aku berjalan ke semak-semak tadi, dan melihat bungkusan hitam yang lelaki gempal itu tinggalkan disini. Karena rasa penasaran, aku ingin membukanya. Dan benar saja, bungkusan itu berisi sesuatu yang berbentuk seperti tepung. Apa ini yang namanya narkoba ya? Setelah itu aku mengirimkan video ke Mas Adit, menunjukan bungkusan yang ada di tanganku itu. Aku mengirimkan sharelok padanya, untuk melihat barang itu sendiri.
"Cepat pergi dari situ, sebelum pembeli barang haram itu datang, dan menghilangkan jejaknya. Mereka juga bisa menyakitimu, setelah ini aku akan segera kesana. Ingatlah pesanku, untuk menjauhi lokasi itu. Tenang saja disana ada kamera cctv, jadi aku bisa menemukan pelakunya."
Kira-kira seperti itulah pesan wassap yang Mas Adit kirimkan. Aku menoleh ke berbagai arah, dan melemparkan barang haram itu kembali ke semak-semak.
"Yuk Mbak buruan pergi dari sini!" Kataku seraya menarik paksa tangan Mbak Ayu.
"Lu aneh banget sih Ran, kayak orang ketakutan gitu. Kalau lihat demit aja, lu gak setakut ini. Emangnya di semak-semak tadi lu lihat apa an sih?"
"Makanya tadi ikut, biar tahu sendiri!"
"Gila! Untung lu hubungi Adit tadi, kalau enggak, lu bisa disangka sebagai pembeli barang haram itu Ran. Kan gue juga yang kena kasusnya nanti!"
Tak banyak yang kami bicarakan, setelah membeli nasi uduk di Warung Mpok Ipeh, kami langsung pulang ke kostan.
Sesampainya disana, terlihat dua orang perempuan yang berdiri di depan pagar rumah kuno itu. Kami menyapa keduanya, dan menanyakan tujuannya datang ke rumah ini.
"Kami lihat iklan di Facelook, katanya disini sewain kamar buat perempuan ya Mbak?" Tanya keduanya dengan menunjukan iklan di ponselnya.
__ADS_1
"Oh iya, kebetulan saya yang pasang iklan itu. Memangnya siapa yang mau ngekost disini?" Jawab Mbak Ayu dengan pertanyaan.
"Kami berdua Mbak, boleh kan kalau satu kamar di isi dua orang?"
"Boleh kok, tapi harganya beda ya. Agak mahal dikit, soalnya kan penggunaan air buat dua orang itu lebih banyak dari satu orang."
"Iya Mbak, kami mengerti. Boleh lihat-lihat kamarnya sekarang?"
Karena kedatangan keduanya yang mendadak, kami tak bisa langsung melahap nasi uduk andalan Mpok Ipeh. Kami berdua menunjukan kamar kosong yang dulu ditempati Umo dan Janni. Mereka juga memperkenalkan diri, dan mengatakan sebagai mahasiswa baru yang merantau dari Desa.
"Oh jadi kalian ini sahabatan? Hati-hati ya jangan sampai ada salah paham di antara kalian. Nyari sahabat sejati itu susah loh!" seru Mbak Ayu pada Heni dan Leni.
Tiba-tiba Heni merasa hawa dingin yang melewati belakang lehernya. Ia bergidik seraya mengusap tengkuknya. Nampak hantu Endang sedang melesat masuk ke kamar ini. Pantas saja Heni bergidik, pasti ia merinding karena merasakan energi dari sosok Endang. Aku dan Mbak Ayu saling menatap, kami terkekeh melihat tingkah jahil Endang. Mungkin karena kamar ini sudah lama kosong, dan tak pernah dibuka. Dan hantu Endang sering mampir ke kamar ini. Mulut kami sama-sama terdiam, hanya sikut yang saling beradu dan berbicara dalam diam.
"Itu ngapain Mbak Endang nakutin calon penghuni kost? Lu bisa kasih tahu dia buat gak jahil sama mereka gak?" Bisik Mbak Ayu ditelingaku.
Aku menghembuskan nafas panjang seraya berkacak pinggang. Aku mengaitkan kedua alis mata seraya berkomunikasi dengan sosok Endang melalui batin, untuk memintanya keluar dari kamar ini.
"Eh Mbaknya masih ngantuk ya? Kok merem gitu sih? Apa kami datangnya kepagian ya?" Tanya Leni terlihat sungkan.
Sontak saja aku membuka kedua mataku seraya menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Hehehe, kami agak lelah aja habis joging tadi. Jadi gimana cocok gak dengan kamarnya?" Kataku dengan mengusap peluh di kening.
Keduanya sedang berbicara, mempertimbangkan keputusan untuk tinggal disini atau tidak. Aku langsung keluar menemui sosok Endang, dan menegurnya. Aku memintanya untuk tak menjahili siapapun yang tinggal di kamar itu lagi, dan kalau dia tetap melakukan nya, aku tak akan mau membantunya lagi. Sosok Endang hanya cekikikan mendengar peringatan ku, entah darimana lucunya kata-kataku tadi. Dasar demit aneh, terkadang ia terlihat begitu sedih dan kesakitan. Tapi sosoknya juga terkadang jahil, suka menakut-nakuti manusia yang tak bisa melihat wujudnya. Andai saja saat itu Endang tak menggugurkan kandungan nya, pasti saat ini ia tak akan jadi hantu gentayangan seperti sekarang. Sebenarnya aku hanya menggertak nya saja, supaya ia tak mengganggu calon penghuni kostan. Karena bagaimanapun, aku akan tetap membantunya menyelesaikan masalahnya, supaya Endang dapat beristirahat dengan tenang di alam keabadian, seperti soaok-sosok lain yang sudah ku bantu menyelesaikan masalah mereka di dunia fana ini.