Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 234 MASIH MENCARI?


__ADS_3

Hari ini aku tak betugas di lapangan, hanya saja Silvia yang harus menggantikan ku. Ia pergi bersama Wening, untuk meliput di sebuah Mall yang baru saja dibuka. Emang paling pengertian sih Mbak Rika, memberi tugas padaku hanya jika itu berhubungan dengan makhluk tak kasat mata saja.


"Ran gue udah urus semuanya yang berhubungan dengan makhluk yang incar Silvia. Jadi lu gak perlu susah payah berurusan dengan tersangka pembunuhan itu lagi. Gue udah nego sama makhluk gaib yang suka sama Silvia, dan dia mau melepaskan Silvia. Jadi mulai sekarang dia aman dari incaran makhluk gaib itu." Jelas Wening di samping meja kerja ku.


"Loh kok bisa Wen? Lu nego gimana? Pasti harus ada yang lu kasih kan?"


"Gak usah gue jelasin deh, ntar lu bingung lagi!"


"Tapi gue pengen tau Wen, kok bisa sih lu dengan mudahnya nego sama tuh makhluk dan dia mau nurutin omongan lu."


"Jadi gini, intinya Pakde gue kenal beberapa makhluk gaib di alam kegelapan itu. Dulunya almarhum Kakek gue pernah bekerja sama dengan mereka. Makanya tuh makhluk kayak mau balas budi ke keluarga gue, makanya gue bisa nego supaya dia gak incar Silvia lagi. Tadi juga gue udah kasih tau Silvia, biar dia gak panik atau takut lagi. Karena makhluk itu gak akan ngikutin dia lagi. Jadi lu juga bisa minta hantu perempuan itu gak jagain Silvia lagi. Semua sudah kembali normal, dan lu gak usah repot berurusan dengan pembunuh seperti Pak Awan itu. Ya udah gitu aja, gue mau liputan sama Silvia dulu. Bye!" Jelasnya sebelum melangkah pergi.


"Ran gue jalan dulu ya sama Wening. Wah gila sih gue seneng banget dengernya, kalau makhluk gaib itu gak akan ngikutin gue lagi. Hebat juga ya dia, punya relasi di alam gaib juga." Pungkas Silvia dengan menghembuskan nafas lega.


"Ya udah hati-hati ya Sil. Gue udah tau juga kok dari Wening." Kataku seraya melambaikan tangan.


Wah parah sih, sampai segitunya Wening melakukan segalanya. Sampai dia bernegosiasi dengan makhluk dari alam kegelapan buat nyelametin Silvia. Meski aku senang, tetap saja aku merasa aneh kenapa dia melakukan semua itu. Meski ia belum lama mengenal orang-orang yang ada di sekitar ku, tapi ia mau melakukan segalanya. Meski terkesan seperti orang baik, tapi apa yang ia lakukan berhubungan dengan tindakan sesat. Entahlah, terserah dia saja yang penting di tak mengganggu siapapun yang ada di sekitar ku.


"Ran di panggil Pak Arya!" Teriak rekan kerja ku yang duduk di belakang ku.

__ADS_1


Aku mengangkat ibu jari padanya, lalu beranjak dari meja kerja. Ku lihat Pak Arya sedang memarahi Mbak Rika, ia menggebrak meja yang ada di depannya. Ternyata ia komplain dengan laporan yang dipakai Mbak Rika presentasi tadi. Menurutnya ide dariku kurang bagus, dan membuat semuanya jadi diluar rencana. Aku hanya diam dengan menundukkan kepala. Mungkin aku memang salah karena kurang reset terlebih dulu. Apalagi aku mengerjakannya dalam tekanan, karena terlalu mencemaskan Petter. Oh iya ngomong-ngomong mengenai Petter, aku jadi teringat sesuatu. Jika tadi Wening mengatakan makhluk gaib itu tak akan menggangu Silvia lagi. Bukankah artinya dia tak akan menggangu Petter juga. Tapi kemana Petter saat ini ya, artinya dia menghilang bukan karena makhluk itu.


"Hei kau! Kenapa saya bicara tidak kau dengarkan sama sekali!" Bentak Pak Arya dengan menunjuk wajahku.


"Maaf Pak sepertinya saya salah, nanti akan saya perbaiki lagi." Kata ku agak menundukkan kepala.


Mbak Rika menoleh ke arah ku, ia mengedipkan matanya meminta pengertian dariku. Ku balas dengan anggukan saja, dan berpamitan pada Pak Arya untuk kembali ke meja kerja ku. Ia masih bergumam mengatai ku bekerja seenaknya, menurutnya aku terlalu meremehkan nya. Aku memejamkan kedua mata untuk berkomunikasi melalui batin dengan Aunty Ivanna. Ku jelaskan padanya, jika saat ini Petter tak mungkin berada di alam kegelapan. Karena makhluk yang mengincar Silvia sudah tak menggangu lagi, berkat bantuan dari Wening. Nampaknya Aunty Ivanna bingung, bagaimana mungkin anak muda seperti Wening bisa bernegosiasi dengan mudahnya. Entah apa hubungan keluarganya dengan para makhluk gaib, karena ia seperti dekat dengan beberapa dari mereka. Sore itu Mas Adit sengaja ingin menjemput ku, karena ia mengajak ku untuk makan bersamanya. Ia sudah menunggu di depan kantor, dengan tampilan yang tak seperti biasanya. Style nya agak lain dari biasanya, karena sekarang ia tak memakai seragam dinasnya.


"Kita makan di Mall baru itu ya Ran. Kebetulan aku punya voucher banyak dari salah satu pemilik restoran yang ada disana." Ucapnya seraya menaikan alis matanya.


"Wah aku ditraktir pake voucher gratisan nih!"


"Ya udah yuk, jalan sekarang biar gak kemalaman pulangnya." Kata ku seraya naik ke atas boncengan motornya.


Sebenarnya tujuan ku untuk pulang lebih awal, supaya aku dapat mencari tau dimana keberadaan Petter. Bagaimanapun aku tak akan tenang sebelum bisa melihatnya lagi. Sesampainya di Mall itu, aku dan Mas Adit bergegas naik ke lantai tiga. Ada sebuah restoran dengan menu japanese, yang kami tuju. Kami hanya memakan beberapa sushi dan beef teriyaki. Aku melihat Wening dan Silvia baru saja selesai melakukan liputannya. Kemudian mereka menitipkan beberapa barang yang berat. Mereka masuk ke sebuah toko yang menjual beberapa baju dan permainan anak-anak. Sepertinya Silvia ingin membelikan sesuatu untuk adiknya, batin ku di dalam hati.


"Kau lihat apa sih Ran?" Tanya Mas Adit mengaitkan kedua alis mata.


"Itu ada Silvia sama Wening habis liputan. Kayaknya mereka baru aja kelar kerjanya." Jawabku seraya menunjuk ke sebuah toko yang dimasuki keduanya.

__ADS_1


"Ajakin gabung aja, kebetulan vouchernya masih cukup kok."


"Oke deh. Bentar ya, aku telepon Silvia dulu."


Aku meminta Silvia untuk bergabung bersama kami. Ku katakan jika aku berada di restoran jepang di samping toko yang ia masuki bersama Wening. Lima belas menit kemudian mereka menghampiri kami. Nampak Wening menenteng dua paper bag besar. Sementara Silvia hanya membawa satu paper bag kecil.


"Wah para jurnalis lagi pada borong nih!" Seru Mas Adit dengan menyunggingkan senyum.


"Mana ada Pak! Si Wening tuh yang borong mainan sama baju-baju buat adiknya." Sahut Silvia seraya duduk.


"Loh bukannya dia anak tunggal ya, kok punya adik sih." Batin ku dal hati penuh tanya.


Seakan tau apa yang ada di dalam hatiku, Wening langsung menjelaskan jika ia membelikan itu untuk keponakannya.


"Tadi niatnya cuma lihat-lihat aja, gak taunya banyak yang lucu-lucu jadi laper mata kan gue nya." Kata Wening seraya meletakkan paper bag ke kursi.


Silvia yang iseng langsung membuka paper bag besar Wening. Ia menunjukan mainan anak-anak dan beberapa baju anak lelaki. Dan Mas Adit langsung berkomentar, jika adiknya pasti akan sangat senang mendapatkan banyak hadiah dari Wening.


"Semoga aja sih, soalnya adik gue lagi murung gak mau ngomong sama sekali. Kayaknya dia minta pulang deh, tapi kan gue udah terlanjur bawa dia. Masak iya gue biarin dia pulang gitu aja. Makanya gue beliin semua ini biar dia betah tinggal sama gue." Pungkas Wening tersenyum datar.

__ADS_1


Aku tak menyangka jika anak yatim yang ditinggalkan ibunya juga memiliki seorang adik, di usianya yang sebaya dengan ku. Mungkin saja ibunya kembali dan sudah menikah lagi. Makanya sekarang ia mengajak adiknya tinggal bersamanya, batin ku di dalam hati.


__ADS_2