Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 259 HASIL RAPAT WARGA?


__ADS_3

Aku sudah berada di Balai Desa bersama Pak Jarwo. Tak berselang lama Bude datang bersama Wati dan Pramono. Entah kenapa dari semalam aku tak melihat Mbok Genuk, mungkinkah ia tak ikut kesini.


"Loh Wat, Mbok Genuk kemana? Dari semalam aku tak melihat nya. Apa ia tak ikut kesini? Apa kau tak repot mengurusi Pramono seorang diri?"


"Mbok Genuk pergi menjenguk cucunya yang baru pulang dari kota. Kemarin sih ada disini, tapi siangnya Mbok Genuk ijin mau libur selama beberapa hari. Katanya kangen sama cucunya, udah lama gak ketemu karena Mbok Genuk selalu menjaga Mas Pramono. Jadi ia tak mempunyai banyak waktu untuk ketemu sama cucunya itu. Makanya baru sekarang Mbok Genuk punya waktu buat ketemu sama cucunya, karena sekarang udah ada aku yang menjaga Mas Pramono." Jelas Wati seraya memperhatikan suaminya yang sedang makan cokelat dan belepotan.


Nampak Wati dengan telaten mengurusi suaminya itu selayaknya adiknya sendiri. Ia membersihkan tangan dan mulut Pramono dengan tisu. Entah bagaimana kehidupan mereka kedepannya, jika mereka masih terus seperti itu. Aku merasa sedih melihat kehidupan Wati sekarang, tapi ini semua adalah pilihan nya sendiri. Semoga setelah satu tahun berakhir, aku dapat membantu Pramono terbebas dari perjanjian gaib Kakeknya. Dan ia bisa normal seperti orang-orang pada umumnya.


"Kenapa Ran, kok kau melihatku sampai berkaca-kaca begitu?" Tanya Wati seraya mengusap air mata ku.

__ADS_1


"Aku tak tega melihatmu repot mengurusi suamimu yang seperti anak kecil itu. Kapan Mbok Genuk balik? Biar kau tak kerepotan seperti ini setiap hari."


"Baru dua hari kok Ran, gak apa-apa kok! Lagipula Mbok Genuk sudah lama sekali tak bertemu cucunya. Kemarin waktu kami masih tinggal di rumah keluarga Sumitro, Mbok Genuk tak mungkin meninggalkan ku seorang diri bersama Mas Pram. Lagipula cucunya juga sibuk bekerja di kota, tapi sebenarnya Mbok Genuk ingin mengajak cucunya tinggal bersamanya. Karena Mbok Genuk pernah cerita, kalau dia takut jika cucunya salah didik. Tapi ia terpaksa menitipkan cucunya bersama kerabatnya. Karena emang sudah lama Mbok Genuk bekerja di keluarga Sumitro, ia tak bisa membawa cucunya bersamanya."


"Berarti cucunya udah besar dong, udah bekerja di kota juga. Kalaupun emang salah didik harusnya bisa ngambil sikap sendiri dong. Harusnya sih Mbok Genuk gak perlu hawatir lagi, tapi mungkin dia kangen banget sama cucunya. Tapi kau tetap harus bertanya, kapan Mbok Genuk balik. Biar kau tak terlalu capek mengurusi suamimu, apalagi kau juga repot membantu warga-warga yang sakit."


"Apa yang dikatakan Pak Kades itu memang benar. Secara hukum hak tanah dan bangunan tersebut memang haknya ahli waris. Jadi kita tak bisa membongkar bangunan tersebut seenaknya. Tapi untuk melakukan pembersihan supaya rumah itu tak wingit lagi tak akan jadi masalah. Jadi kalian semua tak usah hawatir dan takut."


"Tetap takut dong Pak Haji, jangan-jangan musibah yang menimpa Desa kita ada hubungannya dengan keluarga Mbah Wongso yang masih hidup itu. Bisa jadi mereka berniat balas dendam karena terusir dari sini!" Teriak salah satu perwakilan warga.

__ADS_1


"Tenang semuanya, biarkan Pak Haji berbicara dulu. Kalian jangan asal mengambil kesimpulan sendiri!" Sahut Pak Sapri dengan menggebrak meja.


Perlahan suara warga mulai mereda, mereka diam dengan menundukkan kepala. Pak Haji Faruk menjelaskan, jika apapun yang terjadi di Desa mereka tak ada hubungannya dengan dendam atau apapun.


"Mungkin Allah masih kasih cobaan pada kita semua dengan memberika penyakit misterius itu. Jadi lebih baik kita mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. InsyaAllah akan ada pertolongan untuk kita semua." Pungkas Pak Haji Faruk menatap semua warga.


Kini giliran Pak Jarwo yang angkat bicara. Ia meyakinkan semua warga, jika ia akan berusaha membantu mengobati warga yang sedang sakit. Lalu ia akan memindahkan semua makhluk gaib yang menempati rumah kosong Mbah Wongso.


Tapi mereka kembali bergunjing satu sama lain. Mereka hawatir jika keluarga Mbah Wongso berniat jahat pada mereka. Lalu beberapa warga memberikan pendapat, jika Pak Kades harus membebaskan tanah dan bangunan milik keluarga Mbah Wongso. Karena mereka semua hawatir jika anak cucu Mbah Wongso sampai kembali lagi ke Desa mereka. Pak Kades tak bisa berbuat apa-apa, jika memang keluarga mereka kembali dan menggunakan rumah tersebut. Karena memang sudah tak ada masalah dengan keluarga Mbah Wongso seperti dulu. Jadi Pak Kades tak memiliki alasan untuk mengusir ahli waris rumah peninggalan Mbah Wongso. Aku dapat memahami kecemasan semua orang, karena kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Tapi jika mereka sampai nekat kembali ke Desa ini, maka aku dan Pak Jarwo akan semakin kesulitan melawan mereka. Karena bagaimanapun musuh di dalam selimut jadi lebih berbahaya daripada musuh yang berada di luar selimut.

__ADS_1


__ADS_2