Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 290 SEDIKIT PETUNJUK.


__ADS_3

Dengan berat hati, aku dan Mbak Ayu terpaksa meninggalkan Sintia. Tapi setidaknya, kami sudah memperingatkan dirinya dan juga orang tua nya. Jika ada kemungkinan sosok gaib yang mengikuti Sintia masih akan tetap mengincarnya, semoga orang tua nya dapat mencarikan seseorang yang dapat membantu anak mereka. Sore ini mobil travel sudah menjemput kami di rumah sakit, Mas Adit mengantarkan kami sampai depan. Dan ia akan segera menemui ku jika ia sudah kembali ke Jakarta. Hampir tak ada hambatan di sepanjang perjalanan, kami sudah hampir sampai di tempat tujuan. Tapi tiba-tiba aku terpejam, meskipun aku tak merasakan kantuk. Di dalam mimpi, aku melihat sekumpulan orang lanjut usia yang sedang berkumpul di sebuah bangunan. Ada yang duduk santai di taman, sebagian lagi di dalam kamar mereka masing-masing. Beberapa dari mereka nampak murung, karena tak dikunjungi anak dan cucu mereka. Padahal sebagian besar lainnya mendapatkan kunjungan dari keluarga mereka masing-masing. Seorang wanita paruh baya yang menjadi pengelola Panti jompo itu merasa iba dengan kondisi beberapa orang tua yang ada di Panti nya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi keluarga para orang tua tersebut melalui telepon. Wanita itu nampak memohon supaya keluarga para orang tua tersebut datang mengunjungi orang tua mereka, tapi hanya kekecewaan yang ia dapat. Beberapa dari mereka terang-terangan mengatakan tak memiliki waktu untuk menjenguk para lansia di Panti jompo itu, dan sebagian lainnya sengaja menutup telepon begitu tau ia lah yang menghubungi mereka. Wanita pengelola Panti merasa semakin bersalah, karena tak dapat mewujudkan keinginan para orang tua lanjut usia yang bergantung padanya. Supaya sanak keluarga mereka datang menjenguknya, sebelum mereka tutup usia. Aku dapat merasakan kesedihan dan duka para orang tua yang ada disana, begitu juga dengan rasa kecewa dan amarah si wanita pengelola Panti.


"Ran. Bangun Ran! Lu kenapa?" Jerit Mbak Ayu seraya menggoncangkan tubuh ku.


Aku terbangun dengan peluh yang membasahi kening, dan air mata yang membanjiri wajahku. Nampaknya tadi bukanlah sembarang mimpi, tapi seperti petunjuk yang diberikan padaku. Aku masih diam mengumpulkan energi yang terkuras karena mimpi barusan. Tapi mobil travel yang kami tumpangi ternyata sudah sampai di depan rumah kuno. Nampak rumah kuno ini semakin sepi, karena sudah tak ada lagi yang menempati kos-kosan nya. Hanya Ce Edoh saja yang tinggal disana untuk menjaga dan membersihkan rumah kuno yang telah menjadi milik Mbak Ayu.


"Sini Ran, biar gue bantu bawa tas lu. Kayaknya lu kecapekan banget ya, emangnya tadi lu mimpi apa? Sampai energi lu terkuras gitu?"


"Kok lu tau sih Mbak kalau gue mimpi tadi?"

__ADS_1


"Ya elah. Gue kan udah sering bareng lu, masak iya gue gak tau kebiasaan lu Ran! Lihat ekspresi wajah lu pas bangun tidur tadi aja, gue udah tau kalau lu lihat sesuatu. Emang lu lihat apa sih di dalam mimpi tadi?"


"Kayaknya gue lihat gambaran masa lalu di Panti jompo Muara hati. Itu loh Panti yang didatangi Sintia sama ke lima temannya. Kayaknya ada benang merah yang belum tersambung deh. Biasanya kalau gue lihat sesuatu di mimpi kan itu kayak sebuah petunjuk. Pasti wanita misterius itu yang ngasih penglihatan ke gue Mbak. Entah apa tujuannya ngasih tau gue gambaran itu, pasti ada misteri yang belum kita ketahui."


"Ya udah kita istirahat dulu aja, udah tengah malam begini. Badan gue sakit semua, tapi pagi nanti harus langsung pergi ke sekolah. Murid gue pada mau ujian dan gue harus ekstra bimbing mereka. Gue tidur duluan ya Ran, lu juga istirahat aja. Gak usah mikirin masalah yang lain-lain dulu." Ucap Mbak Ayu sebelum melangkah pergi.


Mungkin memang lebih baik aku istirahat saja, karena pagi nanti aku juga harus pergi ke Kantor untuk menemui Pak Bos besar.


Triiing.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, dan nampak Pak Bos besar berdiri di hadapanku.


Deegh degh degh!


Deru suara detak jantung ku berbunyi kencang. Seketika aku langsung menundukkan kepala di hadapannya. Tapi Pak Bos justru menyapa ku dengan hangat.


"Maaf Pak saya bangun kesiangan, karena jam satu malam saya baru sampai kost. Kalau boleh tau, Bapak ada perlu apa sama saya? Kata Mbak Rika, Bapak udah nunggu saya dari satu jam yang lalu." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


Pak bos tak langsung menjawab, ia meminta ku ikut bersama nya ke Lobby. Dan seperti dugaanku, ada masalah yang berhubungan dengan gaib. Karena sekarang hanya ada aku yang mengerti dunia gaib, meski sebenarnya aku masih agak berduka dengan kepergian Wening yang tiba-tiba. Meski sempat berselisih dan bersaing dalam dunia pekerjaan, aku tetap merasa kehilangan seorang teman.

__ADS_1


"Di Mall yang baru saja saya resmikan, yang awalnya selalu ramai begitu jam operasional buka. Tapi semenjak ada rumor yang beredar di masyarakat, kalau pembangunan Mall itu mempersembahkan tumbal manusia. Dan ada beberapa penampakan makhluk halus disana, pengunjung yang datang ke Mall semakin berkurang. Dan membuat kerugian setiap harinya, padahal kau tau sendiri, jika saya tak pernah berbuat demikian. Jadi saya minta tolong, supaya kau menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar ada makhluk halus disana, apakah mereka datang sendiri atau ada yang mengirimnya untuk mengganggu bisnis saya. Sebagai seorang pengusaha, sebenarnya saya tak percaya dengan hal demikian. Tapi semenjak saya tau darimu, jika dunia gaib itu memang ada, mau tak mau saya harus percaya. Jadi kau bisa melakukan penelusuran gaib di Mall baru itu. Seperti biasa, kau akan dibebas tugaskan dari semua urusan kantor. Jadi tolong selesaikan rumor gaib yang ada disana." Jelas Pak bos seraya memijat pangkal hidungnya.


Mungkin ini kesempatan untuk ku, supaya aku bisa menyelidiki lebih dalam lagi mengenai Panti jompo Muara hati. Karena jika aku menjalankan tugas dari Pak bos, waktu luang ku akan lebih banyak. Semoga aku dapat memecahkan semua misteri yang semakin bertambah ini.


__ADS_2