Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 123 KAFAN BERNODA DARAH.


__ADS_3

Sore itu, Mbak Ayu baru saja kembali ke kostan. Tak biasanya, ia pulang sampai sesore itu. Bahkan aku sudah kembali lebih dulu darinya. Nampak raut wajahnya lesu, ia menceritakan anak muridnya yang masih belum bisa bangun dari tempat tidurnya.


"Gue udah berusaha sebisa gue, tapi ternyada gak semudah yang gue pikir." Ucapnya dengan menghembuskan nafas panjang.


"Emang ada apa sih sama murid lu itu Mbak?"


"Entahlah Ran. Gue ragu mau cerita ini ke lu, baru aja lu bisa bernafas lega karena masalah Mbak Endang akhirnya kelar. Masak gue mau ngasih masalah baru lagi ke lu!" Pungkas Mbak Ayu seraya menyenderkan kepala ke dinding.


Aku bangkit berdiri berjalan menghampiri nya, ku yakinkan Mbak Ayu, jika tak ada masalah bagiku untuk membantu orang lain. Karena sebenarnya aku sudah terbiasa dengan rutinitas yang seperti itu. Entah membantu manusia atau makhluk tak kasat mata, tak ada bedanya bagiku. Aku merasa senang karena dapat menyelesaikan masalah mereka.


"Cerita aja Mbak. Gak usah mikir kayak gitu, gue cuman mau bantu aja kok. Gue tahu lu bisa ngelihat makhluk gaib juga, tapi kan lu gak terbiasa komunikasi sama mereka. Jadi lu akan kesusahan mengorek informasi dari mereka. Karena terkadang beberapa makhluk itu tak mengatakan yang sebenarnya. Jadi kita harus pandai menentukan sikap. Kalau emang murid lu di ganggu makhluk seperti itu, dan lu gak bisa nanganin, InsyaAllah gue bisa bantu. Gue udah terbiasa meminjamkan raga gue buat mereka, jadi gue bisa tahu apa yang menyebabkan makhluk seperti mereka kadang mengganggu atau mengambil alih raga manusia. Gambaran semasa hidupnya juga bisa menjadi petunjuk, kenapa mereka bisa gentayangan sampai sekarang."


Mbak Ayu duduk di kursi depan kamar ku. Ia melipat tangan seraya mendongakkan kepala ke atas.

__ADS_1


"Lu bener Ran. Ternyata gue gak bisa memaksa makhluk itu keluar dari raga murid gue. Kasihan Vita, tubuhnya makin kurus. Karena dia gak bisa nelan makanan dengan normal. Lu inget pocong yang malam-malam di belakang pohon pisang gak? Yang kain kafannya ada noda darahnya. Sepertinya pocong itu yang memasuki raga Vita. Udah gue tanya mau nya apa, tapi tuh pocong diem aja gak mau cerita ke gue. Kan jadi serba salah gue nya, kayak ngerasa gak guna gue punya ilmu Leak!" Ucapnya mengerucutkan bibirnya.


Aku menepuk pundak nya, dan memberitahu tentang fakta yang belumia ketahui. Beberapa makhluk gaib itu, tak akan semudah itu mengatakan apa yang mereka mau. Sepertinya ada yang membuatnya gentayangan, dan merasuki raga Vita.


"Besok sepulang kerja, kita janjian di komplek depan rumah Vita ya. Gue yang akan tanya sendiri ke makhluk itu. Pantas aja Ibu nya Vita bilang, kalau anaknya susah bangun dan tubuhnya kaku kalau dipaksa duduk. Lah kan pocong badan nya kaku, gimana bisa ditekuk ya kan? Tapi kayaknya gue juga gak asing dengan pocong yang lu maksud itu sih Mbak."


"Lah kan emang kita pernah lihat dia pas malam-malam itu Ran. Yang kita mau beli nasi goreng Bang Tigor itu loh!"


"Bukan itu Mbak. Gue pernah di datangin tuh pocong lewat mimpi. Pocong itu perempuan Mbak, dia nangis-nangis gitu. Gue mimpiin dia pas habis dari kebun belakang kost ini. Tapi kenapa dia bisa gentayangan di komplek perumahan itu, dan sampai merasuki tubuh Vita. Mungkin ada yang mau dia ungkapkan Mbak, tapi karena lu gak bisa meminjamkan raga buat dia. Jadi tuh pocong gak bisa cerita apa-apa ke lu. Nah dia malah terjebak di dalam tubuh Vita, dan tuh anak gak kuat menerima kehadiran sosok lain dalam tubuhnya. Makanya raga Vita semakin kurus, dia gak akan bisa bertahan lebih lama lagi Mbak. Secepatnya gue harus datangin tuh pocong!"


Pagi itu aku kembali menjalani rutinitas di kantor. Aku berjalan menuju pintu masuk gedung kantor. Dan bertemu dengan Mbak Rika. Ia berterima kasih padaku, karena menemani liputan Beny dan Silvia.


"Produser film itu sangat suka dengan lokasi yang kita referensi kan. Dan Silvia, ceritain lu ke produser film terkenal itu. Dia mau ketemu sama lu Ran, kali aja lu bakal di ajak main film." Katanya bersemangat dengan menaikan alis matanya.

__ADS_1


"Apa an sih Mbak, ngadi-ngadi aja lu. Buat apa gue harus ketemu produser film itu Mbak? Tugas gue bukan di lapangan lagi, dan gue mulai nyaman kerja di dalam ruangan."


"Masalahnya gak segampang itu Ran. Pak Bos juga bekerja sama dalam proyek film itu. Beliau gak mau ada masalah selama proses syuting berlangsung. Makanya Pak Bos minta gue, buay nyuruh ngawasin proses syuting di gedung itu. Kalau ada demit yang iseng kan bisa lu tegur langsung. Jadi gak akan memakan waktu lama pas mereka ambil gambar disana. Jadi selain permintaan produser nya, Pak Bos juga nugasin lu kesana. Kali aja lu dapat bonus lagi, kan lumayan Ran!"


Terpaksa aku mengikuti perintah Mbak Rika. Jika ini bukan karena tugas dari Pak Bos, aku juga malas datang ke gedung itu lagi. Karena disana pasti ada sosok Endang. Yang masih berduka atas kepergian Mas Darman nya itu. Aku berjalan menuju meja kerja dengan perasaan tak karuan. Semoga tak ada masalah terjadi selama proses syuting berlangsung nanti. Aku melanjutkan pekerjaan, mengetik beberapa artikel harus release besok.


Tanpa terasa, sudah berjam-jam aku mengerjakan artikel. Aku melihat jam di pergelangan tangan, waktu menunjukan pukul empat lebih empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi jam kerja ku selesai, dan aku memutuskan berkemas. Karena setelah ini aku harus pergi ke rumah murid Mbak Ayu. Kami sudah janjian bertemu disana. Aku berjalan keluar kantor, dan menunggu ojol di depan. Terasa angin dingin berhembus, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Tak lama Driver ojol datang, dan membawaku pergi ke tempat tujuan. Kami sampai di komplek perumahan itu hampir magrib. Suasana di sekitar perumahan ini memang berbeda, hawa dingin begitu terasa. Mas ojol beberapa kali mengusap tengkuknya.


"Kakak tinggal disini gak takut ya?" Tanya Mas ojol seraya mengendarai motornya.


"Saya gak tinggal disini kok Mas. Cuma mau bertamu aja, emangnya Mas nya takut apa? Kok dari tadi saya perhatikan kayak orang gelisah gitu?"


"Saya bingung ceritanya gimana kak. Intinya perumahan ini angker kak, yang tinggal aja cuma beberapa keluarga doang. Pernah ada temen ojol saya yang diboncengin pocong kak. Mana pocongnya serem banget lagi katanya. Masak kain kafan nya ada bercak darahnya kak, kayak habis disiksa dalam kubur aja. Sejak saat itu, banyak ojol yang takut masuk kesini. Saya juga terpaksa nerima orderan kakak, karena tarikan saya kurang satu doang udah selesai dan dapat bonus. Makanya saya berani-beranikan ambil orderan ke perumahan ini."

__ADS_1


Penjelasan Mas ojol semakin menguatkan dugaanku. Jika pocong dengan kafan bernoda darah itu, ada hubungan nya dengan murid Mbak Ayu yang terbaring kaku di tempat tidurnya.


__ADS_2