Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 74 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Pagi itu aku kembali melakukan rutinitas seperti biasa untuk berangkat ke kantor. Nampak Mbak Ayu sudah bersiap untuk pergi, ia membawa setumpuk berkas di tangannya.


"Mbak lu kayak mahasiswa yang mau nyusun skripsi aja sih, banyak banget tuh berkasnya!"


"Ini hasil tugas kelompok para murid Ran, gue gak sempet meriksa kan semalem. Ya udah gue bawa balik lagi aja ke sekolah, biar gue kerjain disana. Kalau lu dapat kabar mengenai Om Dewa jangan lupa kasih tahu gue ya!" katanya seraya masuk ke dalam taksi online yang sudah ada di depan pagar.


Aku hanya menganggukan kepala lalu melambaikan tangan padanya. Ku tengok teras rumah utama, terpampang garis kuning yang memanjang. Tak lama setelah itu Tante Ajeng keluar dari rumahnya bersama Janni yang sudaj memakai seragam perawat.


"Loh Janni lu tidur di rumah utama?"


"Iya nih Ran, gue temenin Tante Ajeng. Sekarang juga kita mau sama-sama berangkat ke Rumah Sakit. Kebetulan gue shift pagi, dan sore nanti mau sekalian ke pemakaman Umi. Lu mau bareng gue gak? soalnya kan Tante Ajeng harus jaga si Agus, soalnya dia belum sadarkan diri juga."


"Kalau kau sibuk, biar si Janni aja yang pergi Ran. Tante juga titip ucapan duka cita aja, hawatir ninggalin Agus sendirian. Takut terjadi hal-hal yang gak di inginkan."


"Lihat nanti deh, soalnya Rania ada kerjaan diluar kantor. Nanti kita kabar-kabar lagi aja, duluan ya tuh Mas ojol udah datang."


Aku bergegas naik ke boncengan motor Mas ojol, dan ia menanyakan kabarku dengan senyum ramahnya. Aku mengaitkan kedua alis mata, merasa aneh dengan keakraban yang Mas ojol itu tunjukan.


"Wah pasti kakak lupa ya sama saya? ini saya ojol yang pernah anterin kakak liputan di stadion waktu kerusuhan itu loh. Malah adik saya jadi korban disana." ucapnya tak lagi terdengar suara tawanya.


"Eh iya sorry sorry Mas, soalnya saya gak sempat lihat aplikasi. Jadi gak tahu kalau Mas nya yang terima orderan saya. Udah lama banget ya Masnya gak pernah dapat orderan dari saya, kabar saya lagi gak begitu bagus Mas. Biasalah banyak yang harus di urus, Masnya sendiri apa kabar?"

__ADS_1


"Alhamdulillah kak saya baik, pantas aja kakak diem aja pas saya tanya kabar. Pasti dikiranya saya sok kenal sok deket ya kak hehehe."


"Syukurlah Masnya masih bisa senyum bahagia, gak kayak saya yang gak tahu kapan bisa senyum lega lagi." kataku seraya menghembuskan nafas panjang.


"Eh iya kak, kalau saya gak salah lihat, beberapa hari lalu saya lihat kakak di sekitar rumah saya. Apa kakak ada liputan di daerah Kampung Tanah Baru?"


Aku diam untuk sesaat, mengingat nama Kampung Tanah Baru. Barulah teringat olehku, ketika Mas ojol menyebutkan nama Pak Markum. Ternyata ia tinggal di daerah yang sama, dan ia sedikit tahu mengenai orang-orang yang tinggal disana.


"Kalau kakak ada liputan kesana lagi, bisa minta tolong saya aja. Biar saya bisa bantu komunikasi dengan warga sekitar."


Tanpa basa-basi aku bertanya mengenai keluarga Cahaya Purnama yang ditemukan tewas di rumahnya. Mas ojol menceritakan jika saat itu ia masih remaja, jadi tak begitu tahu berita yang sebenarnya.


"Beberapa warga ada yang bilang kalau mereka tewas dibunuh, tapi tak ada yang melaporkan kasus itu ke polisi kak. Memangnya ada apa kak? apa kakak mengenal mereka?"


Aku berjalan ke Lobby kantor menyapa beberapa rekan kerja, aku mendengar desas-desus mengenai Agus yang ditemukan penuh luka di kostnya. Beberapa dari mereka mengaku melihat Agus pulang ke kostnya di antar oleh beberapa orang lelaki dan satu orang perempuan yang memapahnya sampai kamar kostnya. Aku pun ikut menanggapi cerita mereka, jika tak ada yang melihat Agus bersama orang lain saat pulang ke kostnya.


"Lu salah Ran, ada tiga orang yang bawa si Agus masuk kamar. Tapi sepertinya dia dalam keadaan gak sadarkan diri. Kebetulan sepupu gue ada yang satu kostan sama dia. Nih lihat aja chat an dia masih ada di hape gue" katanya seraya menunjukan chat di wassap nya.


"Loh tapi kata tetangga kost sebelahnya, dia lihat Agus masuk kamar sendirian." aku juga menjelaskan apa yang ku ketahui, karena itu adalah pengakuan nya pada Mbak Rika dan juga Beny.


"Jangan-jangan ada sesuatu yang mengancam nyawa Agus. Aku jadi mencemaskan keselamatannya, lebih baik aku pergi ke Rumah Sakit." batinku cemas lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Panggilan seseorang menghentikan langkahku, Mbak Rika mengejarku dan memberikan berkas yang harus serahkan ke tim marketing. Terpaksa aku meminta maaf padanya, kalau aku tak bisa mengerjakannya sekarang.


"Kalau berkas ini harus diselesaikan secepatnya, lebih baik lu minta yang lain kerjain deh Mbak. Gue harus selamatin nyawa Agus sebelum semua terlambat."


"Tunggu gue ikut lu Ran!" seru Mbak Rika mengejarku sebelum menyerahkan berkas itu ke resepsionis.


Mbak Rika mengaku curiga dengan Tante Ajeng dan juga Janni, menurutnya ada yang aneh dengan ekspresi mereka yang terlihat biasa saja sewaktu mendatangi Agus di kostnya.


"Gue sama Beny kan masih ada disana semalam, masa reaksi Tante Ajeng biasa aja. Dia baru terlihat cemas sewaktu Adit datang, malahan si Janni cuek banget asyik ngobrol sama tetangga kostnya si Agus."


"Tetangga kost Agus yang ngasih info ke lu itu Mbak?"


"Iya yang itu, mereka ngobrol serius kayak yang udah kenal lama gitu."


"Fixs kecurigaan gue tepat!" kataku seraya menjentikan jari.


Meskipun Om Dewa adalah dalang dibalik kematian Bu Wayan, pasti ada yang terjadi sebelumnya. Karena awalnya Om Dewa tak tertarik menjadi sang penerus, entah kenapa ia berubah pikiran. Dan kini Tante Ajeng terlihat tak bersalah, tapi aku yakin jika dia juga terlibat dalam semua kejahatan itu. Aku akan mencari bukti keterlibatan nya, semoga saja aku tak terlambat menyelamatkan Agus. Seandainya aku menyadari semua dari awal, pasti semua sudah selesai dari lama.


"Lu kenapa diem aja Ran? yuk masuk, tuh sopirnya udah nungguin." panggil Mbak Rika yang sudah ada di dalam taksi.


"Kali ini gue harus bongkar kedok Tante Ajeng, ia pasti bekerja sama dengan Janni, dan mereka sengaja mau lenyapin Agus buat menghilangkan jejak."

__ADS_1


Aku segera masuk ke dalam taksi, rasanya aku tak sabar lagi ingin membongkar kebohongan Tante Ajeng. Karena di kostan Agus juga memiliki rekaman cctv, dan aku sudah meminta Mas Adit untuk mengambil rekaman cctv sewaktu Agus kembali ke kostnya. Semoga itu bisa menjadu bukti keterlibatan Tante Ajeng.


...Bersambung. ...


__ADS_2