
"Udah beres Ran, gue kirim email ke Mbak Rika langsung deh." Kata Wening seraya menghidupkan laptopnya.
Setelah ada panggilan telepon masuk tiba-tiba ia berjalan menjauh, dari raut wajahnya sepertinya ia sedang menerima panggilan telepon penting. Dan beberapa kali ia berbicara dengan manatapku, aku jadi curiga jangan-jangan dia sedang membicarakan ku dengan seseorang diseberang telepon sana. Ia menganggukan kepala lalu menghembuskan nafas panjang. Tak lama Wening memasukan ponselnya kembali ke dalam ransel.
"Ran gue mau ijin cuti boleh gak sih, ada sedikit masalah di kampung. Sebelum peliharaan Bu Kartika balik buat balas dendam, karena gue udah menjarain Tuan nya, gue harus balik dan bantu Pakde buat nangkap si merah."
"Nangkap? Buat apa an Wen? Kenapa gak dimusnahin aja sekalian?"
Wening hanya tersenyum melalui sudut bibirnya, ia tak mengatakan apapun lalu mengemasi semua peralatan dan memasukan semuanya ke dalam mobil.
"Pertanyaan gue bukan itu Ran! Gue mau cuti bakal dikasih gak menurut lu?"
"Lu ngomong terus terang aja Pak Bos, tujuan cuti lu buat apa. Biar gak dipermasalahkan sama Pak Arya. Dan lu harus keterangan berapa lama cutinya. Emang penting banget ya buat nangkep si merah?"
"Penting sih menurut gue. Karena dengan menguasai merah, gue bisa kendalikan dia. Jadi kalau sewaktu-waktu Bening memang berniat kembali ke alamnya, gue gak akan bingung harus gimana. Banyak hal yang bisa nguntungin kalau gue bisa naklukin kuntilanak merah itu!" Katanya dengan sorot mata tajam.
Jangan-jangan dia mau manfaatin merah supaya jadi pengikutnya. Dengan begitu dia bisa memerintah merah semaunya, bisa jadi dia ingin mengalahkan merah memang buat keuntungan nya sendiri. Dasar perempuan licik, aku sudah tau bagaimana jalan pikiran mu. Pantas saja tadi kau menatapku terus, mungkin kau sedang membayangkan jika kau berhasil menjalankan rencanamu.
__ADS_1
"Lu ngapain diem aja Ran? Yuk hunting bahan buat artikel kuliner." Kata Wening membalikkan tubuh nya.
Aku langsung berjalan menyusulnya, lalu mengemudikan mobil ke sebuat restaurant yang baru saja buka. Karena mereka sengaja membayar supaya kami mempromosikan tempat usahanya, supaya masuk dalam list rekomendasi di media kami. Tapi begitu sampai di restauran itu, aku melihat pemandangan yang sangat menjijikkan. Nampak beberapa makhluk sedang meludahi beberapa hidangan yang disajikan para pelayan. Dan semua pengunjung menikmati semua hidangan itu dengan lahap. Rasanya perutku sangat mual, kenapa pemilik restauran ini menggunakan penglaris dengan bantuan para makhluk gaib itu. Melihat sajian nya saja aku jijik, apalagi kalau harus menyantapnya.
"Ran gue aja kan yang pegang kamera, lu yang promosiin ya?"
"Gak mau gue! Gila lu Wen, dari tadi gue terusan yang in frame. Tadi kan gue udah habis dapetin bahan berita buat naikin rating, sekarang giliran lu lah. Biar gue gantian yang pegang kamera, jadi lu yang harus kasih rekomendasi tempat ini ke publik."
"Maksudnya lu suruh gue makan itu semua? Wah ini sih lebih parah dari dimaki-maki Bu Kartika di depan umum. Sumpah itu menjijikkan tau gak!"
"Ssstt lu jangan kenceng-kenceng ngomong nya Wen! Ntar yang punya resto denger kan gak enak. Mau bagaimana lagi, kita harus tetap profesional dan menjalankan tugas. Mereka udah bayar supaya masuk ke media kita, jadi lu harus tetap promosikan semua makanan yang dihidangkan mereka." Kataku dengan tersenyum puas.
"Rasain lu, makan tuh air ludah demit!" Batinku di dalam hati menertawakan Wening.
Nampak Wening menelan ludahnya kasar, ia memegangi perutnya dan menahan muntah. Kemudian ia berlari ke toilet tergesa-gesa, aku yakin dia sudah memuntahkan isi perutnya sebelum menyantap hidangan yang disiapkan untuknya. Aah senang nya bisa melihat Wening nampak bodoh hari ini. Biar dia tau kalau dia tak bisa seenaknya sendiri membuat ku kesusahan. Setelah ini pasti akan lebih menyenangkan ketika melihatnya memakan semua makanan yang harus ia rekomendasikan. Mau tak mau ia harus tetap malahap makanan itu, hahaha aku benar-benar puas bisa membalasnya. Mungkin ini yang dinamakan tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Ran bisa tunggu sebentar gak, perut gue belum-belum udah gak enak nih!" Ucap Wening yang baru saja kembali dari toilet.
__ADS_1
"Udah lu tahan aja Wen. Kita gak ada waktu banyak loh. Dari sini ke kantor pasti bakal makan waktu lama, apalagi kalau sore gini kan macet parah. Kalau kita kelamaan disini, bisa pulang malam loh. Terus gimana lu mau ijin ke Pak Bos, mumpung ini hari minggu si Bos agak santai, jadi lu bisa enak ngomong nya buat minta ijin cuti." Kataku menahan tawa.
"Syukurin lu Wen, gue kerjain. Udah gak sabar gue lihat lu makan makanan menjijikkan itu. Kayaknya sih gak masalah sih, karena kelakuan lu sama menjijikkan nya kayak makanan yang mau lu makan itu." Ucapku di dalam hati dengan tersenyum melalui sudut bibir.
Aku sudah bersiap membawa kamera dan menyorot ke arahnya. Wening sedang duduk di depan meja yang dipenuhi berbagai macam hidangan yang nampak menggugah selera. Tapi itu jika dilihat dengan mata orang normal. Tapi berbeda jika aku ataupun Wening yang melihatnya. Karena kami sudah melihat sendiri, bagaimana menjijikkan nya makanan itu. Ia kini nampak merekomendasikan satu persatu makanan, dengan menjelaskan berbagai bahan dan yang ada di dalam menu dan setiap penyajian nya. Di samping nya ada sang pemilik restauran yang turut membantu Wening mempromosikan semua menu yang ada di restauran miliknya. Raut wajah Wening nampak tertekan ketika ia harus memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya. Karena tak tahan melihat ekspresi nya, aku menundukkan kepala dan sedikit tertawa. Senang sekali melihatnya tertekan seperti itu, ia terpaksa menelan makanan yang sudah terkena ludah makhluk gaib yang sekarang berada tepat di samping pemiliknya. Dari kejauhan pun aku melihat sosok Bening sedang melihat kembaran nya itu tak berdaya karena tuntutan pekerjaan. Sepertinya jiwa Bening ikut puas melihat pemandangan yang jarang dilihatnya itu. Wening yang selalu penuh ambisi kini tak berdaya, ia sedang mencicipi semua makanan dengan menyunggingkan senyumnya. Aku yang menyorot kamera saja rasanya pengen muntah. Apalagi ia yang terpaksa menelan semuanya. Dan setelah selesai meliput itu, Wening langsung lari ke toilet dengan memegangi perutnya. Aku langsung tertawa lepas, dan semua orang keheranan melihatku.
"Terima kasih ya Mbak sudah bantu restauran saya. Ini ada beberapa voucher buat kalian berdua, bisa digunakan kapan saja jika datang kesini. Sampaikan pada Pak Arya, saya sangat berterima kasih." Ucap perempuan paruh baya itu seraya menyerahkan beberapa lembar voucher.
"Oh iya Bu, ini sudah pekerjaan kami. Terima kasih juga udah dikasih banyak hidangan buat testi hari ini." Kataku basa-basi.
Tak lama Wening datang, ia nampak terhuyung lemas. Dan si Ibu pemilik restauran itu terkejut melihat Wening.
"Loh kok lemes begitu Mbak? Apa makanannya kurang enak ya?"
"Enak kok Bu, saya memang sudah gak enak badan dari tadi." Jelas Wening dengan menghembuskan nafas panjang.
"Atau mau dibungkusin makanannya aja, biar bisa dimakan di jalan?"
__ADS_1
Sontak saja aku dan Wening dengan kompak menjawab tidak. Kami beralasan sudah kenyang, dan bergegas pamit undur diri. Kami langsung mengemasi semua peralatan, dan masuk ke dalam mobil.