
Pak Jarwo menyunggingkan senyum dan menjelaskan jika ia baik-baik saja. Tentu saja aku tak semudah itu percaya, karena yang ku lihat sekarang ia sangat lemah.
"Sebenarnya adu kekuatan yang kau lihat melalui batin itu berakhir imbang Nduk. Aku jadi seperti ini karena kehabisan energi saja. Dan setelah banyak istirahat pasti akan kembali seperti semula. Sebelum datang kesini banyak sekali urusan yang ku lakukan, dan aku memang kurang istirahat. Jika adzan subuh tak segera berkumandang waktu itu, mungkin kami sama-sama akan saling terluka parah. Dia lawan yang cukup tangguh, jadi kita harus waspada." Kata Pak Jarwo dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tapi kenapa setelah sekian lama mereka baru membalas dendam Pak? Bukankah mereka juga berniat membalas Mbah Karto juga, tapi kenapa setelah beliau tiada, mereka baru menyerang semua orang yang ada disini?"
"Itulah Raniaaa... Aku juga bertanya-tanya, mungkin saja mereka sengaja mengumpulkan kekuatan besar terlebih dulu. Tapi mereka terlambat, karena ternyata Allah sudah terlebih dulu memanggil Mbah Karto kembali ke sisiNya. Entah itu jadi keberuntungan atau keapesan mereka. Intinya mereka melakukan balas dendam secara halus, sampai tak ada yang menyadari jika warga Desa ini berada dalam ancaman besar. Beruntung nya kau cepat menyadarinya, entah apa yang akan terjadi jika kita terlambat melawan. Untuk sementara semua wilayah Desa ini aman, tapi semua warga yang sudah terlanjur dikirimi santet mungkin akan tetap menjadi korban. Meski tak semuanya akan tewas, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ku ini. Kau pun juga tak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan mereka Nduk. Kau hanya mampu melindungi mereka saja." Jelas Pak Jarwo dengan wajah sendu.
"Pak Jarwo sudah cukup melindungi semua orang yang ada disini. Tak perlu merasa bersalah jika memang Bapak tak mampu menyelamatkan semua orang, setidaknya kita sudah berusaha semampunya. Pak Jarwo harus memulihkan diri dulu, untuk sementara Rania yang akan berusaha memastikan keamanan Desa ini."
"Penangkal yang ku buat mengelilingi Desa ini mungkin tak akan bertahan lama Nduk. Mintalah bantuan para demit asli penunggu Desa ini untuk memantau sekeliling wilayah. Jika ada kiriman sihir atau santet lainnya, mereka pasti akan tau lebih dulu. Jadi kau bisa menangkalnya dengan kekuatan yang kau miliki."
"Apa boleh kita memanfaatkan demit-demit seperti itu Pak?"
"InsyaAllah tidak apa-apa Nduk, kau tak berbuat musrik dengan memberikan sesuatu pada mereka. Karena ku lihat mereka sangat menghargai mu, setiap kali kau datang ataupun pergi dari Desa ini, para demit itu selalu mengiringi perjalanan mu sampai batas Desa. Mungkin mereka sangat berterima kasih, karena dulu kau membuat mereka terbebas dari perbudakan yang dilakukan almarhum Mbah Wongso. Pasti ketika kau meminta tolong, para demit itu akan suka rela membantu mu."
__ADS_1
Hmm aku jadi kembali teringat semua demit yang pernah menjadi budak Mbah Wongso. Bahkan dulu Petter sempat ingin dijadikan budaknya Mbah Wongso juga. Tapi semua demit yang ada di bekas rumah Mbah Wongso itu, apakah mereka juga demit peliharaan yang tetap bertahan disana.
"Tapi Pak sebelum itu bisakah Pak Jarwo membantu memindahkan semua demit yang ada di rumah bekas Mbah Wongso. Kasihan warga yang tinggal di dekat sana, mereka ketakutan dan terganggu dengan demit yang menempati rumah kosong itu."
"Kalau itu InsyaAllah aku bisa melakukannya tak perlu menunggu kekuatan ku pulih. Tapi aku tetap membutuhkan bantuan orang lain."
"Terima kasih Pak, itu sudah Rania pikirkan. Setelah ini Rania akan ke rumah Pak Haji Faruk. Beliau yang akan membantu membersihkan rumah kosong itu, barulah Pak Jarwo bisa memindahkan mereka ke tempat lain. Tapi setelah pembersihan, mungkin kita harus menggunakan bangunan itu supaya tak ditempati makhluk gaib lagi. Atau solusi lainnya, kita bongkar saja rumah itu."
"Nanti kita bahas di Balai Desa saja Nduk, minta semua warga kumpul disana. Kita minta pendapat semua orang, biar ada kesepakatan mufakat."
"Tolong ya Pak sampaikan ke semua warga, dan minta tolong Pal Haji Faruk sekalian datang. Karena kita membutuhkan bantuan beliau."
"Sebenarnya ada masalah apa to Nduk, kenapa tiba-tiba ada pembahasan tentang rumah bekas Mbah Wongso. Apa semua bencana di Desa ini ada hubungan dengannya?" Tanya Pak Sapri nampak curiga.
Aku menundukkan kepala tak tau harus berkata apa. Jika aku menjelaskan semuanya, maka Pak Sapri akan panik. Dan bisa saja semua warga akan tau, lalu akan membuat semua orang cemas. Tapi Pak Sapri meyakinkan ku, jika ia tak akan bercerita pada orang lain. Karena setelah kepergian Mbah Karto, Pak Sapri lah yang selalu di andalkan warga Desa. Meski ia tak memiliki kesaktian seperti Mbah Karto, tapi ia termasuk yang tertua di Desa. Akhirnya aku terpaksa menceritakan semuanya dengan detail, mengenai Wening dan Pakde nya. Sontak saja Pak Sapri terkejut dengan membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Perempuan yang datang bersamamu tempo hari itu, dia sangat mirip dengan seseorang yang pernah ku kenal. Wajahnya mengingatkan ku dengan almarhum anak Mbah Wongso yang meninggal karena kecelakaan. Mungkinkah perempuan itu ada hubungannya Nduk?"
"Ternyata Pak Sapri sudah mencurigai nya ya? Dia memanglah cucu almarhum Mbah Wongso."
"Tapi kenapa kau membawanya kembali ke Desa ini Nduk? Jika kau sudah tau dia dan Pakde nya berniat jahat pada kita semua?"
"Tenang dulu Pak. Rania hanya pura-pura tak tau siapa dia sebenarnya, karena Rania ingin tau apa rencana dia. Wening namanya, dia sengaja bekerja di satu kantor bersamaku. Dari awal dia selalu berniat mengambil semua yang Rania punya Pak. Padahal Rania gak pernah kenal dia, tapi dia selalu berbicara tentang Kakeknya yang meninggal karena terusir dari rumahnya sendiri. Dia dan Pakde nya sudah membuat beberapa warga meninggal, dengan cara halus. Sehingga kalian tak menyadari, jika sakitnya warga itu karena santet."
Nampak Pak Sapri lemas dan menopang tubuhnya dengan berpegangan ke tiang. Ia pasti sangat terkejut begitu tau kebenarannya. Segera ku minta beliau pergi ke rumah Pak Haji Faruk dulu, dan menceritakan semuanya.
"Tolong ya Pak jangan sampai ada orang lain yang tau selain Pak Haji. Warga hanya boleh tau mengenai pembersihan rumah bekas Mbah Wongso saja. Tapi jangan ceritakan mengenai keluarga Mbah Wongso yang membalas dendam pada kita."
'Kau tenang saja Nduk, aku tak akan mengatakan pada warga lain. Pantas saja kau dan Pak Jarwo langsung datang ke Desa ini dari awal aku memang sudah curiga. Apalagi setelah melihat wajah gadis yang bersamamu itu. Semoga saja Warto tak bisa mengalahkan Pak Jarwo ya Nduk."
Warto? Entah nama siapa yang disebutkan Pak Sapri. Mungkinkah itu nama Pakdenya Wening. Astaga semua masalah jadi melebar karena seseorang dari masa lalu datang kembali untuk menuntut balas. Meski sebenarnya masuk akal jika mereka marah karena terusir dari rumahnya sendiri. Tapi kenapa tak dibicarakan baik-baik saja, daripada harus mencelakai banyak nyawa orang lain. Semoga saja kami dapat menghentikan perbuatan jahat Wening dan Pakde nya.
__ADS_1