
Pagi itu aku sampai di kantor lebih pagi dari biasanya. Aku sudah membuat janji untuk bertemu dengan bos besar, untuk membicarakan Cahaya Purnama. Dari kejauhan nampak Mbak Rika lari terburu-buru menghampiriku, nafasnya tersengal-sengal dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Aduh capek banget nih gue, Pak Bos belum datang kan Ran?"
"Belum kok Mbak, tenang aja. Nih minum dulu biar gak ngos-ngosan."
Aku menyodorkan satu botol air mineral padanya, dan Mbak Rika langsung meneguknya tanpa jeda.
"Jadi perempuan itu udah ketemu tapi anaknya gak ada gitu?"
"Iya Mbak, gak ada yang tahu kemana anaknya." aku tak melanjutkan perkataan lagi, karena Pak Bos besar datang.
Kami langsung mengikuti langkahnya ke ruang meeting. Lelaki berjas hitam itu duduk di hadapan kami, lalu menjelaskan jika kasus ini bisa sampai selesai ku telusuri, ia akan memberikan bonus dan kenaikan pangkat pada kami. Kini Mbak Rika mengembangkan senyumnya, ia sangat bersemangat mendengar penjelasan Bos besar itu.
"Lantas apa yang sudah kau temukan dari penelusuran mu?" tanya lelaki itu menatap tajam ke arahku.
Aku menjelaskan berbagai hal mengenai perempuan yang dihamili papanya, kembaran dari Cahaya Bulan itu kini dalam keadaan hilang akal. Tak memungkinkan untukku menyelidikinya lebih dalam.
__ADS_1
"Ada baiknya bapak membawa Purnama ke Rumah Sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut."
"Bukankah kau pernah berkata jika warga di sekitar tempat tinggalnya tak bisa membawanya kesana karena tak ada tanda tangan dari pihak keluarga?"
"Saya rasa itu hanya alasan salah satu dari orang yang berniat jahat padanya. Karena ada masalah lain yang menyangkut keluarga Cahaya Purnama. Bapak tahu kembarannya yang dulu bekerja disini kan, dia tewas bersama ibunya karena diracuni oleh seseorang di sekitar tempat tinggalnya. Ada yang menginginkan harta peninggalan orang tuanya. Karena itulah ada yang sengaja menahan Purnama disana, dan memberikan obat dengan dosis tinggi supaya perempuan itu semakin kehilangan akal sehatnya. Karena Bapak adalah orang yang memiliki kuasa, saya rasa Bapak bisa membantu Purnama untuk mendapatkan pengobatan kejiwaan. Jadi saya akan semakin mudah menelusuri dimana keberadaan anak yang ia lahirkan. Jadi Papa anda bisa cepat terbebas dari rasa bersalahnya, dan semua misteri ini dapat terpecahkan."
Whuusd.
Di sela-sela pembicaraan ku, arwah Cahaya Bulan melesat masuk ke dalam bersama hantu kecil Aurora. Keduanya semakin dekat, bahkan sekarang Aurora sudah tak merengek lagi ketika bertemu denganku. Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya hantu kecil itu tak merengek di hadapanku lagi. Tanpa aku tahu arwah Cahaya Bulan masuk ke dalam tubuhku. Ia seperti memberikan penglihatan masa lalu di kepalaku. Terlihat gambaran seperti video yang terekam di kepalaku. Nampaknya itu adalah gambaran kejadian disaat Bulan dan ibunya didatangi oleh seseorang yang mengenakan jaket dan topi berwarna hitam. Ia mencampurkan sesuatu ke dalam teko air minum, dan keduanya pun tak tahu lalu meminum air yang sudah tercampur racun itu. Ketika seseorang yang mengenakan topi itu membuka topinya, nampak rambut panjang menjuntai ke bawah. Wajahnya nampak tak asing dimataku, tak lama perempuan itu pergi meninggalkan rumah Bulan. Dan saat itu racun yang masuk ke dalam tubuhnya belum bekerja. Karena itulah tak ada yang curiga dengan kedatangan perempuan itu. Tak lama setelah itu perempuan itu pergi ke kebun kosong yang ada di depan gang, ia bertemu dengan seorang perempuan yang mengenakan kerudung hitam dengan baju gamis panjang warna coklat. Keduanya terdengar berbicara tentang pembagian hasil. Aku sangat terkejut begitu melihat sajah perempuan dibalik kerudung hitam itu. Ia adalah istri Pak Markum, dan pasti perempuan yang memakai jaket dan topi hitam itu adalah ibu-ibu yang pernah memaki ku tempo hari itu. Pantas saja ia yang ditugaskan memberikan obat dengan dosis tinggi pada Purnama. Jadi selama ini kecurigaan ku sudah terbukti benar, aku harus merencanakan sesuatu supaya mereka mengakui semua kejahatannya.
"Ran Raniaa sadar Ran!" Pekik seseorang dengan menggoncang-goncangkan tubuhku.
Pak Bos besar menatapku penuh keheranan, ia terlihat cemas melihatku dalam keadaan kerasukan. Sementara Mbak Rika yang sudah terbiasa melihatku seperti itu, sedikit tenang dan berusaha membaca doa sebisanya. Ku katakan pada mereka, jika aku sudah tidak apa-apa.
"Maaf kalau saya membuat suasana jadi kacau, tadi arwah Cahaya Bulan merasuki tubuh saya karena ingin memberitahukan sesuatu."
"Apa dia memberitahu dimana keberadaan anak kembarannya?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, lalu menjelaskan padanya jika aku hanya diberikan penglihatan perihal misteri kematiannya dan juga ibunya. Ku minta Pak Bos untuk segera membawa Purnama, karena aku cemas jika sampai istri Pak Markum berusaha menghabisi Purnama juga. Karena saat ini Purnama adalah satu-satunya orang yang masih memiliki hak waris atas peninggalan harta orang tuanya.
"Baiklah kita pergi bersama menemui perempuan itu, aku akan membawanya ke Rumah Sakit jiwa. Supaya kesehatan mentalnya dapat kembali, tapi bagaimana caranya kau akan mengungkap kejahatan yang orang-orang itu lakukan?" tanya Pak Bos dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Biar itu menjadi tugas saya, Bapak hanya perlu menjaga keselamatan Purnama. Tapi saya minta Bapak jangan membongkar kejahatan mereka sekarang, takutnya mereka malah nekat mencelakai Purnama."
Setelah sepakat dengan rencanaku, kami semua pergi ke Rumah Sakit tempat dimana Purnama dirawat saat ini. Mbak Rika terpaksa ikut kesana, karena aku membutuhkan bantuannya untuk mengungkap segalanya. Aku harus berhati-hati dengan istri Pak Markum, ternyata ia rela melakukan segalanya. Bahkan untuk melindungi dirinya dari pembalasan Bulan, ia sampai mendatangi dukun dan membuat Bulan tak bisa mendekatinya.
Sesampainya di Rumah Sakit, nampak Pak Markum dan istrinya sedang duduk di luar ruangan. Mereka terlihat saling sikut melihatku datang bersama Pak Bos.
"Perkenalkan Pak, Bu. Ini adalah Bos besar saya di kantor, tujuan beliau datang kemari untuk membawa Purnama. Dan memeriksakan nya ke Ahli Kejiwaan."
"Tapi kan harus ada persetujuan dari pihak keluarga, dan tak ada yang akan menjamin nya." Sahut istri Pak Markum dengan mengerutkan keningnya.
"Ibu tenang saja, saya yang akan mengurus semua ijin dan jaminannya. Saya ingin beliau ini cepat sembuh, karena Papa saya sudah lama ingin bertemu dengannya. Bagaimanapun saya ingin semuanya jelas, kasihan anaknya yang tak tahu keberadaan nya dimana. Hanya ibunya saja yang dapat menjelaskan keberadaan anak itu dimana."
Nampak wajah istri Pak Markum semakin gusar. Ia berkeringat dengan meremas kedua tangannya, ini semakin memperjelas kecurigaan ku tentangnya. Pasti saat ini ia sedang memikirkan sebuah cara untuk menghentikan kami membawa Purnama pergi.
__ADS_1
...Bersambung. ...
Buat yang udah update aplikasinya, sekarang tombol favorit berubah jadi subscribe di atas kanan novel titik tiga. Tekan tombol Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari othor. Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komentarnya, bisa juga kasih Gift atau Vote nya ya. Terima kasih semua kesayanganku 🤗😘