Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 185 FLASHBACK 4.


__ADS_3

Aku meyakinkan sosok Narsih supaya melanjutkan penglihatan terakhirnya. Ku jelaskan padanya, jika ia harus menerima luka batin itu sekali lagi. Supaya ia dapat melepaskan semua beban nya, dan tak terbawa dendam selamanya. Ia pun menganggukkan kepala seraya melesat ke arah ku, lalu menyentuh pundak ku sekali lagi supaya aku dapat melihat kembali kisah hidupnya.


Flashback on.


"Tolooong... Tolooooong aku!" Narsih berusaha menjerit semampu nya.


Tapi seseorang yang menindih tubuh Narsih malah mencekik leher nya. Narsih berusaha meronta tapi kepalanya yang berdarah membuatnya tak berdaya. Kedua kaki Narsih dipegang oleh seorang lelaki yang mengenakan penutup wajah. Narsih semakin kesulitan bernafas, karena tangan seseorang masih mencengkeram lehernya. Meski pandangan matanya semakin kabur, Narsih masih bisa mendengar suara orang-orang itu.


"Kami harus apa lagi Mas?"


"Kalian bunuh saja perempuan simpanan Belanda itu!" Jawab seorang lelaki yang berdiri di samping tubuh Narsih.


Narsih sempat tercengang dan tak meronta setelah mendengar suara lelaki itu. Di tengah suara hujan yang semakin deras, terdengar suara lain yang semakin membuat Narsih terkejut. Suara seorang perempuan yang semakin membuat hati Narsih hancur. Kedua pemilik suara itu tak asing di telinga Narsih, ia pun berusaha mengumpulkan sisa tenaga nya untuk melihat kedua orang yang sangat ia sayang. Suara Bardi dan juga Risma, keduanya ingin melihat Narsih tiada.


Air mata Narsih mengalir semakin deras, bercampur dengan derasnya air hujan yang turun dari atas langit gelap. Narsih menghentikan perlawanan, karena sakit hati begitu mendengar suara Bardi dan juga Risma. Cekikikan keduanya membuat hati Narsih dipenuhi tanya. Kenapa mereka ingin membunuh Narsih, ada apa sebenarnya. Tangan Narsih berusaha meraih ke arah keduanya berdiri, tapi sepasang tangan kekar melingkat di leher Narsih dan mencekiknya. Tangannya meronta mencoba meraih kaki Bardi ataupun Risma, tapi ia tak berdaya karena cekikan itu membuat Narsih kesulitan bernafas. Kedua mata Narsih tak lepas menatap ke arah dua orang yang ada di samping nya, dua orang yang sangat ia kenal Bardi dan juga Risma. Meski wajah keduanya tak terlihat jelas karena pandangan mata Narsih gelap, tapi ia sangat hafal dengan pemilik kedua suara yang memerintahkan untuk membunuh nya.


Sampai akhirnya Narsih mulai lemas, tangannya berhenti meronta. Karena cekikan di lehernya semakin kencang dan membuatnya semakin lemas kehilangan nafas. Pandangan matanya semakin gelap, dan ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Barulah Narsih sadar kembali, ia bangkit dari kematian karena membawa dendam di dalam hatinya.


Narsih si penari jaipong telah tiada, dengan membawa dendam dan penyesalan yang ia bawa selamanya.


Flashback off.

__ADS_1


Narsih kembali melepaskan tangannya dari pundak ku. Ia berlinang air mata, belum mengetahui apa maksud tujuan Bardi dan Risma membunuh nya. Rasa penasaran itu ia bawa sampai akhir ajalnya. Aku menjelaskan pada Narsih, jika ia harus menerima takdirnya meski ia tak tahu apa motif kedua orang terdekatnya untuk membunuhnya. Tapi Narsih bersikeras untuk mencari tahu kebenarannya, sementara ia sendiri tak tahu dimana keberadaan kedua orang tersebut.


"Pasti mereka berdua juga sudah tiada Narsih, untuk apa kau mencari mereka lagi?"


"Aku mati dengan membawa rasa penasaran, kenapa mereka begitu tega membunuh ku. Padahal aku sangat menyayangi mereka, apa hanya karena uang Risma melakukan itu padaku. Mungkin ia ingin memiliki uang di dalam kotak penyimpanan itu. Tapi Mas Bardi, kenapa ia bersekongkol dengan Risma huhuhu." Ucap sosok Narsih berlinang air mata darah.


Aku hanya diam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tiba-tiba Mbak Rika datang dan meminta ku untuk lekas mandi. Karena kami harus bersial berangkat kerja. Akhirnya aku menunda pembahasan mengenai misteri kematian Narsih. Dan meminta nya kembali lagi nanti malam, karena aku harus pergi ke kantor setelah ini. Sepertinya sosok Narsih mengerti, dan ia pergi meninggalkan kost an entah kemana. Aku hanya menghembuskan nafas panjang, heran kenapa ada orang seperti Risma di dunia ini. Dia benar-benar tak tahu berterima kasih, padahal Narsih sudah mengangkat derajatnya, dan membantu kehidupan nya. Jangan-jangan kematian Simbahnya juga karena Risma lagi. Astaga, kenapa aku jadi memiliki pikiran buruk seperti itu ya.


"Ngapain sih ngelamun? Buruan sana mandi ntar kita beli sarapan nasi uduk aja di depan!" Seru Mbak Rika di depan cermin.


Akhirnya aku mandi dan bersiap-sial, setelah selesai selesai semuanya kami berangkat ke gang depan untuk membeli nasi uduk. Ku lihat sosok Narsih ada di sekitar sana, ia sedang duduk diam di dalam aula gelap. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, melihat sosok itu gentayangan dipenuhi rasa penyesalan sampai sekarang.


Plaaak!


"Udah samain aja lah Mbak, nih bentar lagi taksi online nya datang!"


Setelah itu kami sama-sama berangkat naik taski online. Sesampainya di kantor, kami langsung buru-buru naik ke atas. Sepertinya ada liputan mendadak mengenai sebuah bangunan tua yang baru saja ditemukan tulang belulang. Dan para jurnalis sedang mendapatkan tugas meliput ke berbagai wilayah. Dan Mbak Rika terpaksa menugaskan ku bersama Beny untuk meliput.


"Jangan-jangan itu tulang tentara Belanda yang masih tertinggal di bangunan tua itu lagi." Kata Beny yang sedang sibuk mengemas barang-barang nya.


"Bisa jadi Ben, inget lu harus sorot lebih dekat ya. Kita belum tahu itu tulang dari para penjajah atau bukan, bisa jadi itu tulang korban pembunuhan. Ada untungnya juga Rania yang meliput, kita bisa cepet tahu siapa pemilik tulang itu kalau aja roh pemilik nya ada di sekitar sana." Jelas Mbak Rika dengan mengaitkan kedua alis mata.

__ADS_1


"Emang kampret ya lu pada, gue berasa dimanfaatkan tau gak! Emang penting banget ya ngeliput berita semacam ini?"


"Sebenarnya gak harus juga sih Ran, tapi berkat lu rating kita lebih tinggi dari yang lainnya. Lu satu-satunya jurnalis yang bawain berita misteri dengan apa adanya, dan natural banget. Karena itulah team kita dikenal dengan sebutan ghost hunter sekarang!" Ucap Mbak Rika dengan menyunggingkan senyum.


Dengan berat hati aku menerima tugas itu bersama Beny. Kami berangkat menggunakan mobil kantor. Di tengah-tengah perjalanan aku mendapatkan kabar dari Mas Adit, jika Mbak Lia sudah sadar dari koma dan menceritakan semua kejadian mengenai kecelakaan yang di alami Fendi.


"Soal Guntur, petugas sudah mengkonfirmasi jika beberapa hari sewaktu Dahlia datang ke Desa. Guntur juga ada di Desa itu, jadi kami bisa menjadikan nya tertuduh. Untuk kasus percobaan pembunuhan terhadap Dahlia. Tapi untuk kasusnya Fendi, si Guntur itu udah resmi jadi tersangka. Karena polisi sudah mengumpulkan cukup bukti. Kita tinggal tunggu persidangan aja, karena dia akan dikenakan pasal berlapis karena telah dengan sengaja ingin mencelakai Dahlia juga." Jelas Mas Adit diseberang telepon sana.


"Alhamdulillah ya Mas, satu persatu masalah sudah selesai. Terus Mas Adit kapan pulangnya?"


"Kau udah kangen sama aku ya?"


"Apa sih Mas, cuma nanya doang kalik! Ya udah gak usah balik aja kalau gitu!"


"Mungkin besok aku sudah sampai Jakarta, karena kan aku yang nanganin kasus kecelakaan Fendi. Jadi aku juga harus hadir sebelum persidangan dimulai."


Setelah itu aku mengakhiri panggilan telepon, dan menghembuskan nafas lega. Akhirnya masalah Fendi dan Mbak Lia selesai juga. Tapi apakah Fendi sudah kembali kembali ke alam keabadian lagi. Semoga saja ia benar-benar kembali ke alamnya, supaya aku tak perlu direpotkan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


"Eh Ran, gue denger-denger lu dapat privilege dari Pak Bos karena dapat tugas khusus ya?" Tanya Beny seraya mengemudikan mobil.


"Ya gitu deh Ben, tugas khusus yang gak semuanya bisa lakuin. Dan itu yang buat gue makin kesulitan sekarang!" Jawabku dengan memijat pangkal hidung ku.

__ADS_1


Aku baru ingat, jika masih ada satu masalah lagi yang belum terselesaikan. Yaitu masalah dengan Bu Kartika, entah kapan aku bisa mengakhirinya. Apalagi sekarang kami jadi kerabat, bagaimana aku menjelaskan nya pada Pak Bos. Tapi aku tetap harus menjalankan tugas darinya, mengusut kebenaran mengenai kematian Mama nya. Karena ia mencurigai Bu Kartika adalah dalangnya. Walaupun sebenarnya aku tak tahu pasti, tapi aku mempunyai insting yang sama dengan Pak Bos. Karena sifat Bu Kartika yang serakah dan ingin menjadi yang utama dalam berbagai hal, bisa jadi ia mengutus si merah untuk melenyapkan Mama Pak Bos. Dan itu yang membuatku kesulitan, karena tak akan mudah membuat Bu Kartika mengakui segalanya.


__ADS_2