
Ditengah kegelisahan, menantikan kedatangan Petter. Akhirnya ia muncul juga setelah menunggu hampir setengah harian. Ia datang dengan menyunggingkan senyumnya, berarti ia membawa kabar baik untuk ku. Dan dengan semangat aku bertanya dimana Beny sekarang, lalu Petter menunjuk keluar pintu. Tapi raut wajahnya agak berbeda, ia mengaku bingung kenapa Beny masih bisa melihatnya. Aku hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal, bagaimana mungkin Beny masih bisa melihat sosok Petter. Apakah ini faktor setelah memasuki dimensi gaib, tapi waktu itu Mbak Rika tak bisa melihat Petter lagi kok. Karena penasaran aku bergegas keluar dari kamar hotel, nampak Beny sedang berdiri diluar pintu. Tatapan matanya kodong, ia hanya diam dengan wajah kebingungan. Tak berselang lama Silvia mencariku, dan bertanya kenapa aku keluar tak berpamitan.
"Sorry Sil, saking semangatnya gue lupa kasih tau lu. Kalau sekarang Beny udah ketemu, tapi dia kayaknya lagi murung gitu. Sini deh kita hibur dia dulu!" Kataku seraya menarik tangan Silvia keluar dari pintu kamar.
Sesampainya diluar kamar, Silvia membalikan tubuhnya dan menoleh ke segala arah. Ia mengaitkan kedua alis mata, dan menaikan dagunya.
"Dimana Beny Ran?" Tanya Silvia seraya berkacak pinggang.
Deegh.
Jantung ku tiba-tiba berdetak tak karuan, kenapa Silvia bertanya dimana Beny sekarang. Jelas-jelas Beny ada di depan kami, tapi kenapa Silvia bertanya hal yang konyol seperti itu.
"Maksud lu gimana sih Sil, Beny kan ada disini!" Jawabku seraya menunjuk Beny yang hanya menundukkan kepala nya.
Whuuusd.
Petter melesat mendekati ku, ia mengatakan jika itulah yang ia bingungkan. Kenapa sampai saat ini Beny masih bisa melihatnya, tapi orang lain tak bisa melihat keberadaan Beny. Bahkan Petter menceritakan jika seseorang dapat menembus tubuh Beny, dan itulah yang membuat Beny shock berat sampai mereka terlambat mendatangi ku. Sontak saja aku terbelalak dengan membulatkan kedua mata, bagaimana mungkin semua itu terjadi. Apakah saat ini Beny sudah meninggal dunia, dan menjadi arwah penasaran. Nampaknya Silvia mengetahui kebingungan ku, dan ia menarik tanganku untuk meminta penjelasan.
"Tadi lu bilang Beny ada disini, dan gue gak bisa lihat dia. Apa maksudnya semua ini Ran? Jelasin ke gue, apa cuma lu aja yang bisa lihat Beny? Bukannya harusnya gue juga bisa lihat dia, atau mungkin gue yang udah jadi makhluk gaib dan gak bisa lihat dia?" Ucap Silvia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lu salah Sil, harusnya kalau lu yang jadi makhluk gaib tentu aja lu bisa lihat Beny sekarang. Tapi faktanya lain, lu yang gak bisa lihat dia. Itu artinya dunia kalian udah berbeda, entah apa yang sebenarnya terjadi. Gue juga masih bingung Sil!" Kataku seraya mengacak rambut kasar.
Beny berjalan mengambang dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menyentuh tanganku dan juga tangan Silvia. Tapi ia tak bisa melakukan nya, dan karena itulah Beny jadi makin shock dan berteriak lalu meneteskan air mata. Ia kebingungan dengan wujud baru nya, entah sebenarnya apa yang telah terjadi padanya. Aku berkomunikasi dengan Petter melalui batin dan meminta nya menenangkan Beny terlebih dulu. Karena aku harus mengajak Silvia masuk ke dalam kamar, supaya ia bisa tenang dan tak terguncang dengan apa yang terjadi saat ini.
"Sil lu disini dulu ya, gue akan cari tau apa yang sebenarnya terjadi. Gue janji sama lu, gue bakal dapatin informasi yang akurat, kenapa lu gak bisa lihat Beny tapi gue bisa. Gue harap semua akan baik-baik aja, lu tenangin diri dulu ya?"
"Tapi Ran, apa lu yakin Beny masih manusia? Terus kenapa gue gak bisa lihat dia?"
"Itulah yang harus gue cari tau Sil, gue juga bingung kenapa. Karena gue belum bisa mastiin Beny udah meninggal atau belum. Karena terkadang ada beberapa kasus jiwa seseorang terlepas dari raganya, tapi pada kenyataannya mereka masih hidup. Kayak orang yang lagi koma di rumah sakit, mereka itu bisa meninggalkan raga nya Sil. Makanya gue mau mastiin dulu, apa yang terjadi pada Beny. Lu gak usah cemas ya, bantu doa aja oke?"
Aku mendatangi Petter dan Beny yang sedang menunggu kedatangan ku. Mereka duduk di taman hotel, yang agak jauh dari keramaian. Karena aku harus berbicara langsung dengan Beny, dan tak ingin ada orang yang melihatku berbicara sendiri. Nampak keduanya sedang duduk di bangku taman, terlihat Beny hanya murung dengan menundukkan kepalanya. Kemudian Petter mengatakan jika sewaktu ia mencari Beny di dalam kereta hantu itu, tapi ia tak ada disana dan Petter tak dapat menemukan keberadaan Beny. Sampai akhirnya Petter menyusuri rel kereta api, dan ia menemukan Beny sedang duduk di pinggiran rel dengan memegangi kepalanya.
"Kalau kau saja tidak tau, bagaimana aku tau Petter! Tunggulah, aku akan bertanya padanya."
Aku duduk di samping Beny, dan bertanya bagaimana caranya dia bisa keluar dari kereta hantu itu. Tapi ia tak langsung menjawab pertanyaan ku, Beny malah membolak-balikan telapak tangannya. Dan berkata sebenarnya dia itu apa, kenapa semua orang dapat berjalan menembus tubuhnya.
"Gue udah mati ya Ran? Kenapa gue bisa jadi seperti ini." Pungkasnya tertunduk.
"Sabar Ben. Semua masih belum jelas, makanya gue mau denger cerita lu dulu. Supaya kita bisa tau apa yang sebenarnya terjadi sama lu. Jangan berpikiran buruk dulu, lu belum tentu meninggal kok, percaya deh sama gue!"
__ADS_1
"Jadi gue ini sebenarnya apa Ran? Kenapa gue bisa lihat Petter, dan Silvia juga gak bisa lihat kami?"
"Lu hanya jiwa tanpa raga Ben, mungkin saat ini raga lu ada di suatu tempat. Dan tanpa sadar lu keluar dari dalam tubuh lu, makanya sekarang lu ceritain ke gue apa aja yang lu inget setelah kita terpisah di kereta hantu?"
"Yang gue inget, setelah gue dorong Silvia dan kalian semua berhasil keluar dari gerbong. Gue berusaha melawan semua makhluk itu, dan melemparkan garam ke sosok yang megangin kaki gue. Tapi garam yang ada di saku jaket gue tinggal dikit, dan gue gak punya cara lain selain lari menerjang semua sosok yang menghalangi pintu gerbong di belakang. Dengan sisa garam yang gue genggam itu, ternyata gue hanya bisa singkirin beberapa sosok aja. Akhirnya gue nekat lompat dari pintu itu dengan mendorong semua yang ngalangin langkah gue. Setelah gue jatuh dan berguling-guling di rel kereta, kepala gue terbentur besi sampai gue gak sadarkan diri. Pas gue sadar, gue bangun dan melihat beberapa hantu yang seliweran di kebun gelap pinggiran rel kereta. Gue masih bingung tuh, kenapa gue tetap bisa melihat hantu-hantu itu. Gue ketakutan dan gak tau mau kemana, lu lihat aja kening gue ada bekas darahnya kan. Saat itu gue frustasi, dan mikir kalau gue udah mati pas lompat dari gerbong kereta. Gue tetep diem di pinggiran rel, sampai akhirnya Petter datangin gue. Makanya gue minta dia buat anterin ke tempat lu, pas gue masuk hotel semua orang dapat berjalan menembus tubuh gue. Makanya gue shock banget, gue juga bingung apa yang sebenarnya terjadi sama gue. Apa mungkin gue udah meninggal Ran?" Beny masih kebingungan dan terus meratapi nasibnya.
Bukankah biasanya jiwa tanpa raga yang tubuhnya masih ada di dunia bisa melakukan beberapa interaksi. Seperti Mbak Lia, yang pernah menangis di dekat Heni dan ia dapat mendengarkan suara tangisan nya. Sepertinya aku harus meminta Beny untuk mencoba berkomunikasi dengan Silvia, karena ada kemungkinan jika Beny masih hidup. Pasti Silvia dapat mendengar suara Beny, jika ia melakukan nya dengan sungguh-sungguh.
"Yuk kita coba cari tau, apa lu benar-benar masih hidup atau gak!"
"Gimana caranya Ran?"
"Lu harus coba komunikasi dengan Silvia, meski dia gak bisa lihat wujud lu seengaknya kalau lu emang masih hidup. Silvia pasti akan denger suara lu meski itu samar-samar, dengan begitu kita bisa tau kalau lu masih ada di dunia atau gak."
"Terus kalau misalnya gue emang masih hidup, dimana tubuh gue Ran? Bukannya gue harus segera masuk ke dalam tubuh gue?"
"Itulah yang harus kita cari tau setelah ini. Biar Petter saja yang mencari tubuh lu. Bukankah lu sadar di dekat rel kereta, mungkin aja tubuh lu masih ada di sekitar sana. Atau mungkin ada orang yang nemuin tubuh lu dan bawa lu ke rumah sakit. Makanya gue bilang jangan berpikiran negatif dulu."
Setelah itu aku dan Beny kembali ke kamar Hotel. Sementara Petter ku minta kembali ke lokasi dimana ia bertemu Beny tadi. Semoga ada titik terang mengenai misteri ini, aku harap Beny masih hidup dan jiwa nya hanya terlepas dari raga saja.
__ADS_1