Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 158 FAKTA TERSEMBUNYI?


__ADS_3

Mbak Ayu berkacak pinggang dengan nafas yang berderu kencang. Ia merasa kesal tak dapat membuat Pak Mitro ataupun Bu Kartika mengakui semua dakwaannya.


"Sabar Mbak, kita akan bersama-sama membongkar kebusukannya. Tapi kau tak bisa gegabah dalam mengambil keputusan!" Ucap Lala menenangkan Mbak Ayu.


Aku sangat tahu sifat Mbak Ayu, semenjak ia menguasai ilmu Leak, kesabaran nya sangat tipis setipis tisu. Jadi wajar saja jika ia mudah tersulut emosi.


"Tenang Mbak. Kita bisa bertanya langsung pada Mbok Genuk. Aku rasa kita bisa mempercayai nya!" Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Gue gak tahu kenapa ada feeling lain sama Mbok Genuk. Gue gak ada maksud bilang dia jahat ya, tapi dia juga gak sebaik yang kalian kira. Kayaknya dia menyembunyikan sesuatu deh!" Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang.


"Maksudnya gimana Mbak?"


"La minta tolong anakmu aja buat nyari tahu. Kayaknya Mbok Genuk itu juga menyembunyikan sesuatu, meski dia gak maksud nyelakain orang tapi firasat gue lain sama dia!"


Lala hanya terdiam, ia menundukan kepalanya tak tahu harus menjawab apa. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Nampaknya Mbok Genuk mendengar ucapan Mbak Ayu, dan ia mendatangi kami dengan menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Kau tak salah Nduk mempunyai firasat lain padaku. Kau sangat peka dengan orang-orang di sekitarmu. Aku memang mempunyai niat lain, aku masuk ke keluarga Sumitro untuk melindungi cucuku, Ibu Pramono adalah anak tiri ku, sejak kecil ia dirawat oleh kakak ku. Karena itulah keluarga Sumitro tak tahu jika aku adalah Nenek nya Pramono juga. Sewaktu Pramono baru dilahirkan, kakak ku memberitahu jika anak tiriku sudah melahirkan seorang anak lelaki. Karena rasa bersalahku tak pernah menyayangi nya, dan lebih mengasihi anak kandungku, aku berpura-pura menjadi perawat untuk mengasuh Pramono. Sampai hari na'as itu tiba. Kedua orang tua Pramono mengalami kecelakaan, anak perempuan ku berhasil selamat, tapi ia frustasi mengetahui jika anak dan suaminya meninggal dunia. Dengan bantuanku, Ibu Pramono memuja sosok gaib untuk membawa Pramono kembali dari kematian. Tapi syaratnya juga berat, ia harus bertukar nyawa dengan Pramono. Karena itulah setelah Pramono hidup kembali, sang Ibu pun meninggal dunia. Karena itulah perjanjian yang sudah di atur. Awalnya aku yang akan memberikan nyawa ku sebagai pengganti, tapi sosok gaib itu hanya mau nyawa anak perempuan tiri ku itu sebagai bayarannya. Dan disaat-saat terakhirnya, aku terpaksa mengaku padanya, jika aku adalah Ibu kandung nya supaya dia tenang meninggalkan dunia ini dan mempercayakan Pramono padaku. Lalu ia meminta ku berjanji, untuk menjaga dan mengasuh Pramono sampai ia bisa hidup mapan sendiri. Tapi apalah daya, Pramono kembali hidup dengan kondisi cacat mental. Sesuai dengan perjanjian Pak Mitro dengan sosok gaib yang dipuja nya. Aku sedang berusaha menyembuhkan Pramono, supaya ia bisa kembali normal lagi. Tapi ternyata itu sangat rumit, Pramono hanya bisa kembali normal jika Pak Mitro tiada di tangan sosok gaib peliharaan nya sendiri. Meski begitu aku tak putus asa untuk menyembuhkan mental Pramono. Perlahan ia jauh lebih baik, meski terkadang ia bersikal seperti anak kecil kembali. Ada kalanya ia tiba-tiba bersikap dewasa, tapi kondisi itu tak berlangsung lama. Karena terhalang oleh perjanjian gaib yang kakeknya lakukan sendiri. Aku memiliki tujuan untuk melenyapkan nyawa Pak Mitro di tangan peliharaan nya sendiri. Supaya Pramono bisa benar-benar sembuh, karena salah satu dari kalian sepertinya sudah mengetahui jati diriku. Karena itulah aku berkata yang sebenarnya, supaya kalian tak salah paham padaku. Dan memang benar, jika keluarga Sumitro melakukan pesugihan dan dibantu oleh sosok kuntilanak merah. Setiap setahun sekali keluarga Sumitro harus menumbalkan satu nyawa. Dan seharusnya tahun ini adalah giliran Kartika memberikan persembahan. Tapi ia tak kunjung memiliki keturunan dari suaminya yang ada di kota. Menurut desas-desus di antara keluarga, suami Kartika menikahi perempuan lain. Sehingga ia semakin jarang berhubungan dengan suaminya, dan kemungkinan nya mempunyai keturunan semakin kecil. Apalagi sang suami sudah berumur, jadi ia akan kesulitan memberikan keturunan. Karena masalah itu, Pramono terpaksa dinikahkan dengan Wati. Supaya keduanya bisa memberikan keturunan, yang akan menjadi calon tumbal selanjutnya. Karena jika di tahun ini tak ada yang bisa ditumbalkan dari keturunan langsung keluarga Sumitro, nyawa Kartika ataupun romonya yang akan menjadi persembahan." Ucap Mbok Genuk dengan wajah serius.


Rupanya Bude Walimah mendengar semua ucapan Mbok Genuk. Ia terduduk lemas dengan berlinang air mata. Bude merasa hancur mendengar penjelasan Mbok Genuk.


"Lantas apa yang akan terjadi pada nasib kedua anak itu Mbok huhuhu!" Seru Bude Walimah berderai air mata.


Aku langsung menghampiri Bude dan memeluknya. Ku minta beliau untuk menenangkan diri, supaya tangisan nya tak terdengar oleh semua orang yang ada di rumah. Kemudian Mbak Ayu memeluk Bude Walimah, dan mengatakan jika ia akan membantu untuk menjaga Wati bagaimanapun caranya.


"Kalian semua tenang saja, selama ada aku di dekat Pramono dan Wati. Keduanya akan tetap aman. Aku lah yang akan melindunginya, jika keduanya sampai memiliki keturunan di tahun ini. Kemungkinan keturunan mereka akan di ambil untuk tumbal selanjutnya. Yang ku hawatirkan adalah ketika Pramono tiba-tiba menjadi normal disaat-saat tertentu. Dan keduanya melakukan hubungan suami istri, mereka bisa saja memiliki keturunan. Dan anak mereka nantinya akan menjadi calon tumbal selanjutnya!" Mbok Genuk menundukkan kepala dengan menghembuskan nafas panjang.


"Buto ireng! Dia salah satunya yang dipuja keluarga Sumitro!"


Mendengar jawaban Mbok Genuk, nampak Lala membulatkan kedua matanya seraya menggelengkan kepala. Karena penasaran Mbak Ayu pun bertanya pada Lala, kenapa ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut. Hanya aku yang paham, kenapa Lala bereaksi sedemikian rupa. Karena dulu suami gaibnya dari bangsa Buto ireng, dan anak gaibnya juga berasal dari bangsa yang sama. Karena itulah Lala bereaksi seperti itu. Ia pasti merasa cemas, jika sosok-sosok yang dikenalnya adalah sosok yang dipuja Pak Mitro.


"La, tenanglah. Apa yang kau pikirkan belum tentu benar!" Kataku dengan menggenggam tangan nya.

__ADS_1


"Ta tapi Ran..." Ucap Lala dengan mata berkaca-kaca.


Semua orang menatap Lala dengan penuh tanya. Aku hanya bisa mendekap Lala dan memintanya tenang. Kemudian Mbok Genuk pun duduk di samping Lala, menyentuh pundaknya seraya memejamkan kedua mata. Setelah itu ia mengatakan jika Lala mempunyai kenangan dan masa lalu bersama para bangsa buto ireng. Karena itulah ia menjadi terguncang begitu.


"Tenanglah Nduk. Buto ireng tak hanya tinggal di satu kerajaan saja. Bisa jadi Buto yang kau kenal bukanlah sosok yang dipuja keluarga Sumitro!" Pungkas Mbok Genuk seraya menyunggingkan senyumnya.


Nampak Mbak Ayu terkejut, ia membulatkan kedua matanya. Begitu tahu, jika sosok gain yang memiliki hubungan dengan Lala adalah Buto ireng.


"Bagaimana mungkin La, kau mengenal mereka."


Kemudian Bude Walimah mendatangi Lala dan meminta nya untuk istirahat saja, supaya ia tak memikirkan hal-hal yang belum tentu kebenaran nya.


"Gak Bude. Lala harus bertanya pada Senopati, apakah dia ataupun bangsa nya mempunyai perjanjian dengan keluarga Sumitro. Lala gak mau kalau kelak anak Wati akan menjadi tumbal."


"Sudah La, tenang saja. Semua belum pasti kok, biarlah Mbok Genuk yang akan mencari tahu kebenarannya. Benar kan Mbok?" Tanya ku menatap wajah perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


Akhirnya Bude Walimah mengajak Lala untuk ke kamar, supaya ia bisa istirahat. Sementara aku dan Mbak Ayu masih duduk di ruang tamu bersama Mbok Genuk. Nampaknya Mbok Genuk sedang memikirkan sesuatu, karena ia hanya diam membisu tanpa berkata-kata.


__ADS_2