Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 127 KAFAN BERNODA DARAH.


__ADS_3

Aku bangkit dari tidurku, lalu duduk di tepi ranjang dengan menundukkan kepala. Aku sedang mengatur nafas, dan mengumpulkan keberanian untuk melihat wujud pocong itu. Padahal aku sudah terbiasa melihat demit ataupun siluman lainnya. Tapi jika harus berhadapan dengan demit satu ini, memang agak sedikit berbeda. Aku seperti punya trauma melihat bentuknya.


"Ayo Rania. Kau bisa mengatasi nya, dia hanyalah demit biasa seperti lainnya!" Kataku pada diriku sendiri seraya mengepalkan kedua tangan.


Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke hadapan sosok pocong itu berdiri mengambang.


"Cepat lanjutkan penglihatan mu, sebelum pagi tiba dan aku harus berangkat kerja."


Pocong itu melesat mendekati ku, membulatkan matanya yang memerah. Gambaran masa lalunya tergambar lagi di kepalaku.


Setelah Ari memukul Dinar, ia hanya bisa menangis. Karena mulutnya tak bisa lagi berkata dengan sempurna, berganti dengan batuk yang memuncratkan sisa darah yang ada di dalam mulutnya. Sang pembaca mantra menghampiri Ari yang masih mengepalkan tangan dengan amarah di wajahnya.


"Sang pemimpin bangga dengan apa yang telah kau lakukan. Persembahan yang kau berikan sangat sempurna. Gadis ini masih perawan, dan pengorbanan mu malam ini akan menghasilkan uang yang melimpah." Ucapnya seraya menyodorkan sebilah pisau pada Ari.

__ADS_1


Nampak Dinar sangat terkejut dengan membulatkan kedua matanya. Ia tak menyangka, jika cintanya pada Ari akan berakhir seperti itu. Kedua mata yang selalu ditatap penuh cinta olehnya sudah berubah. Ari hanya mempermainkan nya saja. Dari awal kedekatan mereka seperti sudah direncanakan. Pantas saja, Ari tak pernah berbuat senonoh pada Dinar. Karena persembahan yang diminta adalah darah dari gadis yang masih perawan. Kekaguman Dinar pada Ari sirna, seharusnya ia tahu dari awal. Apalagi kedua orang tuanya sudah melarang nya dekat dengan Ari. Tapi inilah hasil dari apa yang Dinar perbuat. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, ia hanya bisa pasrah dengan berlinang air mata pilu.


"Lakukan sekarang! Sang pemimpin sudah tidak sabar menikmati hidangan darah gadis perawan itu!" Seru pembaca mantra dengan lantang.


Ari mengambil pisau dengan tersenyum melalui sudut bibirnya. Ia berdiri di samping tubuh Dinar. Terdengar sang pembaca mantra dan orang berjubah hitam lainnya ikut membaca mantra-mantra. Tak lama Ari menaikan pisau tepat di pergelangan tangan Dinar. Perempuan itu langsung menjerit histeris, meronta-ronta meminta ampunan dengan menangis.


"Mas Ari. Jangan bunuh aku Mas huhuhu. Aku mencintaimu Mas, jangan lakukan ini padaku!"


Sepertinya Ari tak memperdulikan jeritan Dinar, ia ikut membaca mantra dengan memegang pisau di tangannya. Saat mantra tak terdengar lagi, Ari menyayat kedua pergelangan tangan Dinar. Dan dua orang sudah siap menampung darah dengan mangkuk batok kelapa. Sepertinya, Dinar dibiarkan mati secara perlahan. Perempuan itu merintih merasakan sakit di tangannya. Tak lama setelah itu, Ari berdiri tepat di sekitar perut Dinar. Ia tak ragu menghujamkan pisau berkali-kali ke perut Dinar.


Nampak darah segar mengucur deras dari perut Dinar. Kakinya berusaha bergerak tapi ia tak mampu menggerakkan nya. Perempuan itu berteriak kesakitan memanggil Ayah dan Ibunya. Terbayang raut wajah kedua orang tuanya, Dinar menyesal tak mendengarkan nasehat mereka. Dan sekarang, ia mendapat hasil dari perbuatan nya sendiri. Perlahan Dinar merasa seluruh tubuhnya lemas, karena kehilangan banyak darah. Tapi ia belum mati, kesadarannya masih ada meski ia sudah tak bisa bergerak lagi. Dua orang melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, lalu dua orang lainnya menyiapkan kain kafan yang di letakan di lantai. Nampak sosok Nek Dijah datang, untuk membungkus tubuh Dinar dengan kain kafan. Nyawa Dinar sudah di ujung tanduk. Ia memandang wajah Ari yang penuh kemenangan. Dengan susah payah ia mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Ari. Lelaki yang sangat dicintainya itu ternyata menginginkan kematiannya. Kini Nek Dijah bersama tiga orang lainnya sedang mengkafani Dinar. Kain kafan yang awalnya berwarna putih, jadi bernoda darah karena darah yang masih keluar dari tangan dan perutnya. Masih terdengar suara rintihan dari bibir Dinar, tapi semua orang berjubah hitam itu mengacuhkan nya. Mereka masih membacakan mantra, menunggu tubuh Dinar selesai dibungkus.


Kain kafan yang menutupi seluruh tubuhnya hanya menyisakan bagian wajah yang terbuka. Dinar masih belum mati, meski nafasnya sudah melambat. Pandangan nya tak lepas dari wajah Ari yang menyeringai melihat hidupnya di ambang kematian. Dinar memandang senyuman Ari dengan penuh dendam. Dendam yang ia bawa sampai mati.

__ADS_1


Aku berkeringat dingin melihat kejadian mengerikan itu. Tak ku sangka cinta yang berawal indah berakhir dengan tragis. Bahkan setelah Dinar mati. Mereka membawa jazadnya pergi ke suatu tempat. Ari bersama tiga orang berjubah hitam itu mengemudikan mobil ke sebuah kebun kosong. Mereka menguburkan jazad Dinar tepat di bawah pohon besar. Tanpa nisan, Dinar dikebumikan dengan tidak layak. Dan baru aku sadar, jika kebun kosong itu adalah kebun yang terletak di belakang kost ini. Setelah menguburkan jazad Dinar, mereka semua pergi meninggalkan kebun itu. Tak pernah ada yang tahu disana terbaring jazad seorang perempuan. Bahkan teman-teman Dinar kesulitan mencarinya. Kedua orang tua Dinar datang ke kota, untuk mencari anak mereka. Tapi mereka kesulitan mencari keberadaan Dinar. Lalu mereka melaporkan kasus hilangnya Dinar. Dan Polisi sempat menginterogasi Ari di tempat kerja nya. Tapi ia mengaku sudah lama tak bertemu dengan Dinar. Karena tak ada bukti dan saksi yang mengarah pada Ari, Polisi pun tak bisa menetapkan nya sebagai pelaku. Akhirnya kasus hilangnya Dinar menggantung sampai sekarang.


Kemudian sosok pocong itu melesat pergi menembus tembok. Nampaknya ia pergi ke kebun belakang. Karena rasa penasaran, aku berniat mengikutinya. Baru saja aku membuka pintu kamar, bayangan seseorang mengejutkan ku. Mbak Ayu baru saja melakukan sembahyang di ruang keluarga. Ia masih mengenakan kebaya dan membawa sesajen di atas nampan.


"Loh Ran. Lu mau kemana tengah malam begini?" Tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya.


"Gue mau ke kebun belakang kost Mbak!" Jawabku seraya berlari meninggalkan nya.


Mungkin karena penasaran, Mbak Ayu mengikuti ku ke kebun. Ia kesulitan berjalan karena mengenakan kain jarik. Aku berjalan ke segala arah, berusaha menemukan pohon besar yang di tunjukkan pocong tadi. Tapi hampir semua pohon di kebun ini besar-besar, jadi aku kesulitan menemukan pohon yang di bawahnya ada jazad nya. Mengingat waktu yang terus berjalan, wajar saja jika semua pohon di kebun ini besarnya hampir sama. Aku berusaha mengingat tapi ternyata sangat sulit.


"Ngapain sih Ran?" Tanya Mbak Ayu dengan nafas tersengal-sengal.


"Gue udah tahu kenapa pocong itu mengenakan kafan bernoda darah Mbak. Dia itu korban sekte sesat. Sepertinya kelompok itu ada hubungannya dengan penganut ilmu hitam di gedung terbengkalai."

__ADS_1


Aku berusaha berkomunikasi dengan sosok pocong Dinar. Seharusnya pocong itu ada di kebun ini, karena tadi aku melihatnya menembus tembok kamarku. Apa pocong itu pergi ke tempat lainya, aku jadi penasaran kemana sosok pocong itu saat ini.


__ADS_2