
Aku semakin bingung melihat perdebatan sepasang suami istri ini. Aku jadi dilema untuk memikirkan siapa yang memiliki niat baik dan yang berniat jahat. Nampak Mbak Ayu juga tak dapat memahami apapun, dan aku mengerti dengan ketidaktahuan nya. Om Dewa dan Tante Ajeng sama-sama berjasa dalam kehidupan Mbak Ayu. Keduanya yang selama ini menjaganya, wajar saja ia tak dapat membedakan siapa yang memiliki niat jahat padanya.
"Gus cepat antar Dahayu menemui Petugas Polisi, ia harus segera melihat makam Ibu nya." perintah Tante Ajeng dengan suara tegas.
"Untuk apa Dahayu pergi kesana? kita harusnya melakukan ritual untuk menemukan bagian tubuh yang hilang itu, baru setelahnya Dahayu bisa pergi ke makam Ibunya dan menyempurnakan jazadnya." sahut Om Dewa dengan menarik tangan Mbak Ayu.
"Lihat kan kau memang ingin mengulur waktu, supaya kau bisa mempengaruhi Dahayu. Terserah kau saja Yu, kau sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Tentukan saja apa yang kau mau sekarang, Tante tak mau terlalu mengaturmu, biar kau putuskan sendiri."
Perlahan Mbak Ayu melepaskan tangan Om Dewa, ia meminta maaf pada lelaki yang telah membesarkannya itu. Menurut Mbak Ayu, bukannya ia tak mau mematuhi perkataan Om Dewa, hanya saja dirinya terlalu rindu dengan Ibunya. Mbak Ayu ingin melihat makam Ibunya, meski ia tahu usahanya tak akan merubah segalanya. Karena Ibunya sudah pergi untuk selamanya.
"Sebenarnya Dahayu gak pernah berpikir siapa yang benar ataupun salah di antara Om dan Tante. Kalian berdua adalah pengganti orang tua ku, tapi sekarang kalian berdebat hanya karena aku. Maafkan Dahayu Om, Tante. Tapi kalian tak perlu berdebat hanya karena masalah ini. Mengenai Ibuku yang telah tiada, biarkan aku memastikannya dulu. Benarkah informasi tersebut, sementara ini kita tunda pembahasan masalah ritual ataupun penerus ilmu itu. Dahayu hanya ingin fokus mencari kebenaran tentang jazad itu."
Setelah mendengar penjelasan Mbak Ayu, Om Dewa hanya bisa menitikan air matanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, ia berdiri di sudut ruang tamu. Tangannya mengepal memukuli tembok beberapa kali. Sedangkan Tante Ajeng sedang duduk dengan memijat pangkal hidungnya. Ia meminta Agus untuk mengambilkan nya obat sakit kepala, Tante Ajeng mengeluh migrain nya kambuh.
Setelah diputuskan, Om Dewa yang akan pergi menemani Mbak Ayu ke Kantor Polisi. Karena kondisi Tante Ajeng yang mendadak sakit kepala, sementara aku dan Agus harus berangkat bekerja.
"Gus gue nebeng sampai kantor ya?"
"Lu udah gak takut lagi bareng gue? semalam aja lu gak mau semotor sama gue!" kata Agus di atas motornya.
__ADS_1
"Ya sorry Gus. Gue kan negatif thinking sama lu. Habisnya tingkah lu mencurigakan sih, kayak ada yang lu sembunyiin dari gue."
"Jadi sekarang lu udah percaya sama gue? lu percaya juga dong sama Tante Ajeng?"
"Gak gitu juga sih Gus, gue hanya mencoba untuk percaya. Bukan berarti gue percaya seratus persen dengan cerita Tante Ajeng. Ya, kita lihat aja nanti kedepannya gimana. Udah yuk ah jalan, ntar yang ada bisa telat kita kalau kebanyakan ngobrol disini."
Disepanjang perjalanan kami membahas tentang hasil presscon Agus kemarin. Dan dari cerita Agus, Polisi sudah berhasil mendapatkan DNA korban. Jadi jika ada seseorang yang mengaku sebagai keluarga nya, hasilnya tinggal dicocokkan saja. Karena masih penasaran dengan perdebatan pagi tadi, aku bertanya pada Agus, bagaimana awal mula kejadian itu terjadi.
"Yang gue denger sih Tante Ajeng memberitahu kabar tentang mayat Kakaknya yang ditemukan di gedung tua itu. Tante bilang jazadnya gak sempurna, jadi Tante ingin menyempurnakan jazad itu, dan mencari kepala yang terpenggal hilang itu. Tapi Om Dewa menolak, dia gak mau Dahayu mengetahui kebenaran tentang Ibunya."
"Kebenaran jika Ibunya Mbak Ayu udah meninggal gitu Gus?"
"Sebenarnya arwah Ibunya juga gak mau kalau anaknya menjadi penerusnya Gus, makanya Mbak Ayu diharuskan memakai kalung peninggalan Ibunya."
"Hah. Kalung apa? kenapa lu gak cerita itu ke Tante Ajeng? lu bilang gak tahu apq aja isi kotak tua itu?"
Astaga lagi-lagi aku terjebak dengan ucapanku sendiri. Tanpa sadar aku mengatakan sesuatu yang ku rahasiakan dari mereka semua. Terpaksa aku berbohong pada Agus, jika aku baru diberitahu Mas Adit mengenai kalung itu. Dari nada suaranya sih, Agus agak ragu dengan penjelasan ku. Ah masa bodohlah, yang penting aku udah menjawab rasa penasarannya.
Sesampainya di Kantor, aku masuk dulu ke dalam Lobby. Pandangan mataku tertuju ke arah Lift, karena di depan sana ada sosok perempuan bergaun merah yang sedang berdiri menatap ku dengan tatapan tajam. Di tangan kanannya membawa bungkusan yang berisi rambut seseorang. Aku berjalan perlahan ke arahnya, dan sebelum aku sampai di depannya. Perempuan itu melemparkan bungkusan itu tepat di bawah kakiku. Nampak sesuatu menggelinding keluar dari bungkusan berwarna hitam. Tak salah lagi itu adalah kepala Bu Wayan Sukmawati. Nampak kedua bola matanya melotot dengan lidah yang menjulur keluar. Sontak saja aku berteriak histeris dengan menutupi kedua mataku.
__ADS_1
"Aaakkh tolong, tolong!" seruku ketakutan.
Seseorang menepuk pundakku beberapa kali, tapi aku masih menutupi kedua mataku dengan tangan.
"Eh lu kenapa Ran?" ucap seseorang yang suaranya familiar di telinga ku.
Ya, dia adalah Mbak Rika. Ia terheran-heran melihatku berteriak histeris di pagi hari seperti itu.
"I itu Mbak ada kepala mayat." sahutku dengan menunjuk ke bawah kaki.
"Kepala mayat apa sih Ran? coba lu lihat deh, gak ada apa-apa disini. Kayaknya lu masih ngantuk deh, jadi halu kalau lihat yang enggak-enggak."
Mbak Rika benar, tak ada apapun di lantai itu. Bahkan perempuan misterius itu tiba-tiba hilang tanpa jejak. Ku pandang ke segala arah, tak ku temukan wujudnya. Entah dimana perempuan itu saat ini.
"Gue gak halu Mbak. Lu lupa gue bisa ngelihat yang gak kasat mata? mungkin memang itu yang gue lihat tadi, tapi gue terlalu syok dan histeris."
Terlihat kerumunan orang pergi satu persatu, setelah mengetahui jika tidak ada apa-apa dengan ku. Mbak Rika menegurku, karena aku terlalu sering membuat kehebohan di depan lift. Aku mengaitkan kedua alis mata, kalau di pikir-pikir memang sudah beberapa kali aku bertemu dengan perempuan misterius itu di depan lift. Bahkan pertemuan pertama kami di dalam lift juga. Entah apa tujuan perempuan itu, sepertinya aku harus bertanya pada Agus. Karena Malik pernah berkata, jika Agus mengetahui sesuatu tentang perempuan misterius itu.
...Jadi siapa sebenarnya perempuan bergaun merah itu? kenapa ia memberi tanda keberadaan kepala Wayan Sukmawati? tunggu dengan sabar ya di episode yang akan datang 😉...
__ADS_1
...Bersambung. ...