
Hantu perempuan itu masih berdiri mengambang di depanku, ia diam tak menjawab pertanyaan ku. Aura negatifnya sangat besar, ia mengeluarkan hawa panas di sekitarnya. Karena merasa tak nyaman, aku memundurkan langkah, dan tetap menatapnya tanpa berkedip. Tak lama sosok itu membalikan tubuhnya, nampak belatung-belatung berjatuhan dari belakang punggung nya. Kedua mataku terbelalak dengan mulut terbuka, aku sangat terkejut begitu mengetahui punggung hantu itu berlubang dengan darah yang masih menetes. Rasanya isi perutku akan keluar semua, sudah lama sekali aku tak pernah bertemu dengan hantu Sundel bolong. Aura negarif yang sangat kuat, seperti ingin menguasai diriku. Dengan cepat aku berlari ke dalam rumah. Tapi sosok itu melesat mengikuti ku dan berhenti tepat di depan pintu kamar ku. Sundel bolong itu menaikan dagunya, dan menampakkan wajahnya yang penuh amarah dan dendam.
"Siapa kau? Kenapa kau mendatangi ku hah?" Tanyaku dengan membulatkan kedua mata.
Tak ada jawaban darinya, Sundel bolong itu hanya menyeringai dengan memainkan rambut panjangnya.
"Kalau kau gak mau jawab pertanyaan ku, pergilah dari sini! Aku gak mau lihat wujud menyeramkan mu lagi!"
"Dimana si ****** itu?" Jerit Sundel bolong itu melotot di hadapanku.
"Si siapa yang kau maksud? Aku tak mengerti ucapanmu!" Sahutku dengan menelan ludah kasar.
Whuuus.
Sosok Sundel bolong itu melesat masuk ke dalam ragaku. Ia memberikan penglihatan nya padaku.
Gambaran-gambaran semasa hidupnya, terlihat di kepalaku seperti potongan video. Ia dijodohkan dengan seorang pemuda teman baik Ayahnya. Narti gadis periang, dan pandai bergaul berhasil merebut hati Darman pada pandangan pertama. Karena ingin lebih mengenal calon suaminya, Narti diminta ikut ke tempat bekerja Darman di pelosok desa. Supaya Narti bisa menyiapkan kebutuhan Darman selama bekerja disana. Karena kontrak kerjanya hanya tersisa selama satu bulan lagi. Kedatangannya disambut seorang gadis yang terlihat ramah menyapanya untuk pertama kalinya. Tapi seiring berjalannya waktu, Narti curiga dengan gelagat yang perempuan itu tunjukkan. Narti curiga, jika gadis yang mengenalkan dirinya dengan nama Endang itu memiliki perasaan khusus pada calon suaminya. Narti sempat menemui Endang diam-diam, dan menanyakan kenapania sering sekali menemui Darman dibelakangnya. Dan terang-terangan Endang mengatakan, jika mereka memiliki hubungan dekat.
"Apa kau tahu jika saat ini aku sedang mengandung bayi dari Mas Darman. Dan kami akan segera menikah, lebih baik kau tinggalkan desa ini. Karena Mas Darman tak pernah mencintaimu, ia setuju dijodohkan denganmu karena paksaan orang tuanya saja!" Ucap Endang dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
Narti adalah perempuan moderen, dan pola pikirnya tak sesempit yang Endang bayangkan. Narti tak menggubris ucapan Endang, dan mematahkan hati Endang dengan perkataan nya. Narti tak perduli dengan kata-kata Endang mengenai hubungan nya dengan Darman. Ia justru memanas-manasi Endang, dengan mengatakan persiapan pernikahan nya bersama Darman sudah berjalan.
"Kau tak akan bisa mempengaruhi ku, aku tahu perempuan macam apa kau ini. Semua pemuda di desa ini bergunjing tentangmu. Dan Mas Darman sudah menceritakan semua padaku!"
"Kau akan menyesal telah mengatakan itu padaku! Mas Darman mu itu akan menjadi milikku lagi, lihat saja nanti!" Ancam Endang seraya melangkahkan kakinya pergi.
Gambaran berganti lagi, saat Narti dan Darman baru saja melangsungkan pernikahan mereka. Usaha yang digeluti Darman jatuh bangkrut, dan tak lama Narti sakit-sakitan. Semua tabungan mereka habis untuk mengobati penyakit yang diderita Narti. Tak ada satupun Dokter yang bisa menyembuhkan nya. Lalu mereka mendatangi seseorang yang mengerti dengan dunia gaib, ia menjelaskan jika Narti dikirimi santet oleh orang yang membenci nya. Saat itu mereka baru tahu, kalau yang mengirimkan santet itu sudah tiada. Dan menginginkan Narti menyusulnya ke alam baka. Disaat kandungan nya berusia empat minggu, Narti tak bisa menahan sakitnya lebih lama lagi. Akhirnya ia meninggal dunia bersama jabang bayi yang ada di dalam kandungan nya. Narti mati membawa rasa penasaran, dan ia menaruh dendam pada orang yang telah membuatnya tiada bersama calon anaknya.
Setelah itu Narti keluar dari dalam ragaku. Ia merintih menahan sakit dari dalam perutnya. Aku terbelalak melihatnya memuntahkan gumpalan darah. Ku katakan padanya, supaya tak menaruh dendam pada Endang. Karena itu hanya akan menyiksa jiwanya. Hantu Narti tenggelam dalam dendamnya, emosi yang ia rasakan sampai akhir hidupnya terbawa sampai ia tiada. Dan baru sekarang ia yakin, jika semua yang terjadi padanya adalah karena ulah Endang. Energi yang penuh dendam dan kebencian, membuat Narti melupakan sifat baiknya. Narti terus mencari sosok yang menyakiti dan bertanggung jawab atas kematiannya.
"Aku akan membalaskan dendam pada Endang. Dia harus menanggung semua kejahatan nya!" Pekik Narti melotot.
Ia melesat pergi meninggalkan ku sebelum aku berhasil membujuknya. Sosok Narti, pergi dan meninggalkan jejak belatung yang tercecer di depan kamarku. Terpaksa aku membersihkan nya sebelum masuk ke dalam. Tak lama Mbak Ayu datang bersama Heni dan Leni, mereka baru kembali setelah keluar makan.
"Nih Ran, gue bawain Nasi goreng istimewa Bang Tigor, tadi kita tunggu lu pulang sampai kelaparan. Makanya gue bungkusin buat lu!" Seru Mbak Ayu seraya menenteng bungkusan plastik.
Terdengar suara Heni dan Leni yang berteriak jijik karena melihat belatung di atas pengki yang ku pegang.
"Kok bisa ada belatung sih Mbak? Jijik banget deh!" Teriak Leni bergidik.
__ADS_1
Mbak Ayu pun nampak heran, dan ia menaikan dagunya mengajukan pertanyaan yang sama seperti Leni.
"Tadi ada Sundel bolong datangin gue Mbak!" Ucapku setengah berbisik.
"Hah, yang bener aja Ran? Ngapain tuh sundel datang kesini?" Tanya Mbak Ayu dengan wajah keheranan.
Sontak saja Heni dan Leni menatap bingung padaku, keduanya bertanya, siapa Sundel yang dimaksud Mbak Ayu.
"Hmm itu tadi kucing tetangga, bawa bangkai tikus kesini, makanya ada belatung di depan kamar gue."
"Oh tuh kucing namanya Sundel ya Mbak? Kok jelek banget sih ngasih namanya." Sahut Heni mengaitkan kedua alis matanya.
Mbak Ayu langsung menjelaskan, jika kata Sundel ia gunakan karena kesal dengan tingkah kucing itu.
"Gue cuma asal manggil kok, habisnya kesel tuh kucing suka bawa bangkai kesini. Kalau namanya ya gue gak tahu siapa."
"Tuh udah gue buang belatung nya, tenang aja Sundelnya udah pergi kok. Sana kalian pada istirahat dulu, besok hari pertama kuliah kan? Semangat ya." Kataku seraya menepuk pundak Heni dan Leni.
Keduanya akhirnya masuk ke dalam kamar, sementara Mbak Ayu mengikuti ku masuk ke dalam kamar. Ternyata ia penasaran dengan sosok yang dari tadi kami bicarakan.
__ADS_1