Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 129 KAFAN BERNODA DARAH.


__ADS_3

Pagi itu, aku berniat mengantar Mbak Ayu pergi menemui pengacara mendiang Bu Wayan. Tapi kami mendapatkan kabar, jika Tante Ajeng berserta rombongan yang bersamanya mengalami kecelakaan lalu lintas. Aku jadi curiga, jika kecelakaan yang mereka alami ada hubungannya dengan pocong Dinar. Karena ia bertujuan untuk membalaskan dendam.


"Mungkin lu bener Ran, tapi apa gunanya dia minta bantuan lu kalau masih pengen balas dendam?"


"Kayaknya tujuannya ngasih tahu semuanya, supaya gue bantu nemuin jazad nya dan menyempurnakan nya. Masalah dendam, gue gak mau ikut campur lagi sih Mbak. Kasus yang di alami pocong Dinar berbeda dengan kasus Endang. Kematian Dinar benar-benar tidak adil, seandainya gue jadi dia, pasti gue juga akan membalas dendam. Dia gak seharusnya tiada, tapi ia berakhir dengan tragis. Sampai jazadnya gak ada yang tahu dimana. Seandainya dia ngasih tahu gue dimana lokasi nya, pasti gue bakal bisa lebih cepat membongkar kuburan nya."


"Seperti yang lu bilang Ran, mungkin dia gak cuma pengen jazadnya ditemukan. Tapi dia juga pengen keadilan, dan mungkin dia mau membalaskan dendam nya sendiri."


"Wajar aja sih Mbak kalau dia mau balas dendam. Tapi masalahnya, gak semua orang yang dia celakai itu bersalah. Lebih baik kita jenguk Tante Ajeng di rumah sakit."


Kami memutuskan untuk pergi ke kantor pengacara terlebih dulu, baru setelahnya menjenguk Tante Ajeng. Di kantor pengacara, Mbak Ayu mendapat penjelasan yang berbeda dari apa yang Tante Ajeng ucapkan. Menurut sang pengacara, rumah itu memang sedang dalam sengketa. Tapi mendiang Bu Wayan lah yang justru menebus sertifikat rumah itu dari Bank. Dan Bu Wayan tak memiliki anak tiri, hanya seorang anak angkat saja. Dan itu tak membuatnya memiliki hak waris atas apa yang ditinggalkan mendiang Bu Wayan. Jadi secara hukum Mbak Ayu lah yang menjadi pemilik sah rumah kuno itu. Tapi kenapa Tante Ajeng mengatakan yang sebaliknya ya. Aku jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia tutupi. Selalu ada misteri jika itu berhubungan dengan Tante Ajeng ataupun Om Dewa.


"Jadi gimana Mbak, lu masih mau jengukin Tante Ajeng?"


"Kita harus tetap kesana Ran. Sekalian lu hubungi Adit, tanya apakah ada perkembangan dari kasus penganiayaan Pak Darman?"


Saat ini kami dalam perjalanan ke rumah sakit, dan aku menghubungi Mas Adit melalui pesan singkat. Masih belum ada jawaban darinya, sepertinya ia sedang sibuk. Jadi aku tak mengganggu nya lagi.

__ADS_1


"Adit masih belum balas ya Ran?"


"Belum Mbak. Gue punya feeling kalau kasus Dinar dan penganut ilmu hitam yang nyiksa Pak Darman saling berkaitan."


Mbak Ayu hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan ku. Menurutnya, kecelakaan yang terjadi ini belum tentu ada hubungannya dengan sosok pocong Dinar. Karena itulah kami harus mencari tahu lebih dulu.


Sesampainya di rumah sakit, kami langsung menemui Tante Ajeng yang terbaring di brangkar. Nampak raut wajahnya cemas melihat kedatangan kami. Mbak Ayu tak banyak basa-basi, ia to the point mengatakan pada Tante Ajeng mengenai sertifikat rumah kuno itu. Tapi Tante Ajeng berdalih, jika ia tak tahu kebenarannya, karena hanya sedikit yang ia tahu.


"Baiklah kalau Tante gak mau jujur. Dahayu mau tanya aja, apa yang sebenarnya terjadi sampai Tante mengalami kecelakaan?"


Mbak Ayu berniat menjawab pertanyaan Tante Ajeng, tapi aku menghentikan nya, dan memberitahu melalui gestur tubuh. Jika ia tak boleh mengatakan apapun padanya.


"Kami gak mengenalnya kok Tante, ya sudah Tante istirahat lagi aja. Kami permisi dulu, semoga Tante cepat sembuh." Ucapku seraya berpamitan dan pergi dari sana.


Kami melangkahkan kaki keluar, menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Nampak pocong Dinar sedang berdiri mengambang di depan jendela. Karena penasaran kami bergegas menghampiri nya, dan melihat apa yang sedang ia lihat di dalam ruangan. Nampak seorang lelaki sedang dalam perawatan Dokter. Tubuhnya penuh alat-alat kedokteran, begitu aku dapat melihay wajahnya dengan jelas, aku pun tak terkejut. Jika pocong Dinar menunggu nya di luar ruangan.


"Apakah dia yang ingin kau celakai? Lebih baik serahkan kasus ini pada Polisi, jadi kau bisa beristirahat dengan tenang. Tunjukanlah dimana jasadmu berada, kami akan membantu mengungkap semuanya."

__ADS_1


"Dia harus mati, tak kan ku biarkan dia tenang di dunia ini!" Kata pocong itu dengan energi penuh kemarahan.


"Bukannya orang yang memakai kaos hitam yang kau incar? Kenapa orang ini kau celakai juga?" Sahut Mbak Ayu menggaruk kepala yang tak gatal.


Aku menepuk jidat, karena mendengar pertanyaan konyol Mbak Ayu. Dia tak tahu saja, kalau lelaki yang ia maksud adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Dinar. Tadi Tante Ajeng memanggil nama Edi dan Bowo. Dan yang menyetir mobil adalah Edi, pasti Bowo itu adalah Ari Wibowo itu. Tante Ajeng memanggilnya dengan sebutan Bowo. Fixs, mereka memang saling mengenal.


Sosok pocong Dinar membalikan tubuh hampa nya ke arah Mbak Ayu, lalu membulatkan kedua matanya yang memerah. Sontak saja Mbak Ayu tercengang, ia kebingungan kenapa pocong Dinar tiba-tiba marah padanya.


"Ngapain lu melototin gue kayak gitu? Lu pikir gue takut sama lu hah? Gue kan cuma tanya, kalau gak mau jawab ya gak usah melotot. Udah jadi demit aja ngambekan!" Pungkas Mbak Ayu memalingkan wajahnya.


"Lu juga sih Mbak, tersinggung kan tuh pocong. Lelaki itu adalah kekasihnya semasa hidup dulu, dia itulah yang numbalin Dinar ke sekte sesat itu. Mungkin tadi dia turun dari mobil, jadi kita gak tahu ada dia di dalam."


Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya, ia bertanya pada pocong Dinar. Apakah Tante Ajeng juga salah satu dari kelompok itu. Tapi jawaban pocong itu membuat kami bingung. Karena menurutnya, ia tak pernah melihat wajah Tante Ajeng. Pocong Dinar hanya ingin mencelakai Edi dan Ari saja. Tapi keberadaan Tante Ajeng lah yang membuatnya ikut celaka.


"Eh Cong! Emang lu yakin kalau perempuan yang bersama mereka gak terlibat waktu prosesi persembahan? Lu ada lihat wajah pemimpin mereka gak?" Tanya Mbak Ayu meyakinkan sosok pocong Dinar.


Pocong itu menggelengkan kepala, karena dalam keadaan sekarat yang ia lihat hanyalah wajah Ari. Lelaki yang menghianati nya dengan begitu kejamnya. Aku pun tak ingin membuang waktu lebih lama bertemu dengan sosok pocong Dinar. Aku memaksanya untuk menunjukkan dimana letak jazadnya, supaya kami dapat segera menguburkan nya secara layak.

__ADS_1


__ADS_2