
Sosok Malik melesat ke arahku, ia membisikkan sesuatu padaku. Aku mengerutkan kening setelah mendengar ucapannya. Menurut Malik, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Agus dan juga Tante Ajeng. Keduanya beberapa kali kedapatan berbicara sembunyi-sembunyi dari semua orang.
"Aku tak tahu pasti apa rencana mereka, yang jelas kau harus berhati-hati dengan orang-orang yang ada disini. Aku merasa mereka mempunyai rahasia masing-masing." kata Malik memperingatkan ku.
Aku hanya menganggukan kepala mendengar bisikan Malik. Kini aku duduk di samping Agus, dan memintanya untuk berbicara yang sejujurnya, tentang maksud dan tujuannya yang tiba-tiba memperingatkan ku tentang kotak tua usang yang ku temukan itu.
"Gue bakal jelasin ke lu, kalau lu udah ngasih tahu gue apa aja isi di dalam kotak itu. Gue cuman mau mastiin, bener atau enggak kotak itu yang sedang kami cari."
"Hah kami? memangnya siapa aja yang tahu tentang kotak itu? jangan-jangan Agus tahu siapa saja orang yang dimaksud di dalam surat itu." batinku didalam hati.
"Emang siapa aja yang nyari kotak itu Gus? kalau lu kasih tahu gue, InsyaAllah gue bisa kasih tahu lu apa aja isi di dalam kotak itu. Tapi sorry nih, gue gak bisa ngasih lihat kotak itu, seperti yang gue jelaskan tadi. Kotak itu ada di Kantor Polisi." aku sengaja tak mengatakan yang sebenarnya, berjaga-jaga aja supaya kotak itu tetap aman di dalam tas ranselku.
"Jadi gini Ran, keluarga dan kerabat gue melakukan ritual tertentu buat memuja Dewa yang kita percaya. Kami biasa melakukan sembahyang di puncak bukit, supaya kehidupan kami selalu berkecukupan dan bisa terhindar dari marabahaya. Nah kami kehilangan salah satu tokoh penting dalam upacara adat itu, dan hanya orang yang udah dipilih aja, yang bisa memimpin semua ritual persembahyangan. Masalahnya, sang pemangku ritual gak diketahui keberadaan nya dimana. Ada desas-desus yang mengatakan, kalau pemimpin ritual itu udah gak ada. Tapi gak ada yang tahu keberadaan terakhirnya, kalau emang orang tersebut udah meninggal. Kami harus segera mencari pengganti nya, dan gak sembarang orang bisa menggantikan posisi sang pemangku. Gue tahu mungkin lu gak paham dengan penjelasan gue, intinya kalau emang bener kotak yang lu temuin itu milik orang yang kami cari, berarti ada petunjuk di dalam kotak itu. Karena setelah presscon tadi, gue jadi yakin kalau emang mayat tanpa kepala itu adalah orang yang kami cari." penjelasan Agus membuat ku terkesiap, karena ucapannya cukup masuk akal bagiku.
Aku menelan saliva dengan peluh yang membasahi kening. Aku berniat untuk menceritakan apa yang ku ketahui tentang Bu Wayan, dan juga isi surat wasiatnya. Tapi Mbak Ayu datang mengajak kami untuk ke dalam.
"Yuk masuk, kalian udah ditunggu buat makan malam bersama!" seru Mbak Ayu seraya berjalan masuk kembali.
__ADS_1
Aku dan Agus saling menatap, kita menunda obrolan penting itu dan segera masuk ke dalam rumah. Nampak sorot mata Tante Ajeng sangat dalam, memperhatikan gerakan tangan Agus. Sepertinya Agus memberi kode pada Tante Ajeng, jika ia akan menjelaskan semuanya nanti.
Hidangan makan malam nampak menggugah selera, apalagi dengan suasana kekeluargaan seperti ini. Ada sajian ayam betutu, sate lilit, sayur kangkung plecing, dan aneka buah-buahan sebagai pencuci mulut. Nampaknya keluarga ini mempunyai garis keturunan orang Bali, pantas saja tak ada satupun dari mereka yang menjawab salamku.
"Wah makanannya sedep banget ya Jeng, kamu pinter masak khas Bali ya?" ucap Bude Walimah mengagumi cita rasa masakan Tante Ajeng.
"Saya udah biasa bantu Ibu masak di rumah makan pas masih singel dulu Mbakyu. Keluarga kami sempat tinggal di Bali dalam waktu yang lumayan lama. Setelah kami menikah, kami memilih merantau ke Kota ini. Kalau tahu masakan saya di puji enak begini, tahu gitu dari dulu buka restoran aja ya Pah." kata Tante Ajeng dengan menyunggingkan senyumnya.
Dari obrolan malam ini, aku mendapatkan kesimpulan. Jika Om Dewa dan Tante Ajeng beragama Hindu, dan buah-buahan beserta janur yang menghitam itu adalah bekas sesajen yang biasa mereka pakai untuk sembahyang. Aku melamun tak melanjutkan makanan yang sudah tersaji di depanku. Om Dewa menatapku dengan curiga, beliau bertanya apa yang sedang mengganggu pikiraanku di meja makan saat itu.
"Gak ada yang dipikirkan kok Om, Rania tiba-tiba ngerasa pusing aja." aku memijat pangkal hidung, karena satu persatu misteri mulai terkuak.
Sesampainya di kamar, aku duduk di ranjang dengan menyenderkan kepala di tembok. Aku masih sibuk memikirkan sangkut pautnya antara Agus dan Tante Ajeng yang terlihat mempunyai maksud tersembunyi. Sedangkan Om Dewa terlihat biasa saja, atau mungkin memang dia berpura-pura tak tahu apa-apa.
"Kalian berdua tidur di ranjang ya, biar Ibu tidur di karpet aja." kata Bude Walimah seraya membuatkanku teh hangat.
"Bude kan baru sembuh, jadi Bude aja yang tidur di ranjang. Aku dan Wati akan tidur di karpet."
__ADS_1
Awalnya Bude Walimah sempat menolak, tapi aku terus memaksanya, dan beliau tak dapat menolak lagi.
"Bener tuh Bu kata Rania, Ibu di ranjang aja. Lagipula ada yang mau kita obrolin dulu, jadi Ibu bisa tidur duluan, besok Wati ajak jalan muter-muter Jakarta." kata Wati dengan memijat pundak Ibunya.
Aku duduk di ruang depan dengan menggelar karpet di lantai, teh hangat buatan Bude sudah mulai dingin. Otakku benar-benar kacau, tak dapat membuat kesimpulan yang benar. Wati datang duduk di sebelahku, ia bertanya apa sedang mengganggu pikiranku. Segera ku ceritakan semua keluh kesahku, mengenai Agus yang mengancamku karena ia tahu kotak misterius yang ku temukan.
"Kamu kan udah pernah denger cerita tentang mauat tanpa kepala itu kan, nah menurutmu mungkin gak sih mayat itu ada hubungannya dengan keluarga Om Dewa dan Tante Ajeng?" tanyaku dengan memijat pangkal hidung.
"Tunggu deh Ran, kamu pernah cerita kan kalau Mbak Ayu dirawat sama Om Dewa sejak kecil. Dan Mbak Ayu gak pernah lagi ketemu orang tua nya. Bisa jadi loh Om Dewa itu adiknya Bu Wayan, mayat tanpa kepala itu dan Mbak Ayu anak yang dicari sama Bu Wayan juga." celetuk Wati yang suka bicara ceplas-ceplos.
"Eh kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu Wat?"
"Jadi gini Ran simpelnya. Kamu pernah bilang, jika di dalam surat Bu Wayan, beliau mengatakan adiknya bernama Ketut Dewangga. Sang adik menjaga dan merawat anaknya, karena gak mau keturunannya jadi penerus ilmu Leak. Nah tadi baru kita tahu, kalau Om Dewa dan Tante Ajeng sempat tinggal di Bali juga. Bisa jadi kan orang yang kamu telusuri jejaknya adalah orang yang selama ini berada di dekat mu. Aku tahu sih, kesannya aku sok tahu gitu. Tapi apa salahnya menganalisa, ya gak?"
"Ada benarnya juga kata Wati, sepertinya masuk akal juga. Secara aku juga gak tahu nama panjang Om Dewa, jika mereka beragama Hindu. Bisa jadi juga kan Om Dewa bernama Ketut Dewangga. Apa lebih baik aku bertanya langsung pada beliau?" batinku di dalam hati resah.
...Semoga Rania menemukan jalan untuk menguak kebenaran. Apakah Agus dan Tante Ajeng benar-benar memiliki niat yang buruk? tunggu di episode selanjutnya, semoga kalian sehat selalu teman" amin. ...
__ADS_1
...Bersambung. ...