Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 68 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Mbak Ayu terus berjalan dengan menggandeng tanganku, ia tak mengatakan sepatah katapun. Entah kenapa Mbak Ayu berubah jadi temperamen setelah mewarisi ilmu Leak itu.


"Kita harus pergi ke sekitar TKP, gue mau coba panggil arwah lelaki yang bernama Prayoga itu!" seru Mbak Ayu seraya masuk ke dalam taksi yang biasa mangkal di depan Rumah Sakit.


Aku masih berdiri mematung di luar, apa sekarang Mbak Ayu memiliki ilmu semacam itu juga. Dan apa tujuannya memanggil arwah korban tenggelam itu.


"Udah lu naik aja dulu, gak usah penasaran dengan apa yang mau gue lakuin. Gue cuma pengen tahu aja, apa yang membuat Prayoga tewas disana. Dan kemana perginya Agus dan yang lainnya, kenapa dia bisa samperin lu dengan wujud arwah seperti itu."


"Mbak Ayu yakin bisa manggil arwah lelaki itu?"


"Gue emang belum pernah lakuin, tapi apa salahnya gue coba. Harusnya sih gue bisa Ran, gimanapun gue kan pemimpin kelompok mereka. Soalnya tadi gue dapat penglihatan dari Calon Arang, kalau Agus dalam tekanan para pembelot. Lu tahu gak apa artinya pembelot?" tanya Mbak Ayu dengan menaikan dagunya.


"Pemberontak? atau penghianat nih maksudnya?" jawabku dengan mengerutkan kening.


"Keduanya sama aja keles!" seru Mbak Ayu.


Mobil yang kami tumpangi sudah bergerak meninggalkan Rumah Sakit, tapi tiba-tiba Mbak Rika menghubungi ku dan memberitahu jika saat ini dia berada di kostan Agus bersama Beny. Tapi berdasarkan informasi tetangga kost nya, Agus baru kembali ke kost dua hari yang lalu. Tapi sejak saat itu ia tak terlihat keluar dari kamar kostnya.


"Mungkin gak sih Ran, kalau Agus ada di dalam? soalnya pintu kost nya ga di gembok dari luar, itu kan artinya ada orang di dalam kamar?"


"Loh ngapain lu ke kost an Agus Mbak? kan dia udah beberapa hari ini ngilang gak tahu kemana."


"Ini si Beny butuhin file berita yang akan di release besok. Sebenarnya kita sengaja nunda sampai Agus balik, tapi karena gak ada kejelasan kapan dia berangkat, ya kita mastiin aja ke kost nya. Eh pas kita panggil-panggil dia gak nyahut sama sekali. Gimana ya Ran, kita jadi takut ada apa-apa sama Agus. Soalnya kamarnya gelap banget gak ada penerangan."


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, memikirkan perkataan Mbak Rika. Apa mungkin Agus berada di dalam kamar kostnya. Bukannya kemarin polisi sempat mengecek kesana, dan gak nemuin keberadaan Agus. Seakan tahu aku sedang kebingungan, Mbak Ayu bertanya padaku kenapa aku terlihat gelisah.

__ADS_1


"RANIAAA!" teriak Mbak Rika di seberang telepon sana.


Astaga aku sampai lupa, kalau Mbak Rika belum mematikan panggilan telepon nya.


"Sorry Mbak, gue lagi mikir nih. Gimana kalau lu tunggu gue aja, gue akan telepon Mas Adit biar otewe langsung ke kost Agus. Jadi kalau ada apa-apa kan gak akan jadi masalah buat kita, secara kan ada pihak yang berwajib."


"Ya udah buruan datang ya, gue agak takut nih di depan kost si Agus. Agak creepy gitu tahu gak."


Setelah mengatakan pada Mbak Rika jika aku sudah dalam perjalanan, kami mengakhiri panggilan telepon itu. Aku mengirim pesan singkat pada Mas Adit, dan memintanya pergi ke kost Agus sekarang juga.


"Pak kita ganti tujuan ya, ke Jalan Kartika nomor lima puluh lima." kataku pada sopir taksi.


"Loh ngapain kita kesana? kan gue mau ajak lu ke jembatan layang itu Ran!" seru Mbak Ayu kebingungan.


"Kalau emang Agus di kostnya, lalu kemana Om Dewa dan yang lainnya Ran?"


"Itu yang harus kita selidiki Mbak, udah ada satu korban yang meninggal. Kalau sampai Agus terlambat kita selamatkan, penelusuran kita akan sia-sia saja."


Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang, sepertinya ia sudah putus asa dengan semua misteri ini. Tiba-tiba ia berkata lirih pada dirinya sendiri, jika ia ingin meminta bantuan Calon Arang dan siap menumbalkan nyawa seseorang. Sontak saja aku membulatkan kedua mata, menatapnya dengan tajam.


"Lu jangan terpengaruh bisikan setan Mbak. Kita pasti bisa melalui ini semua, gue akan selalu bantu lu menguak semuanya. Please Mbak jangan pernah berpikir seperti itu lagi, karena lu akan buat usaha gue gak ada artinya."


"Kita serahin aja nyawa si Agus, toh dia udah sekarat. Dan belum tentu dia bakal mengatakan yang sebenarnya, bukankah lebih baik gue serahin nyawanya ke Calon Arang sebelum dia benar-benar tiada?"


Aku menggenggam tangan Mbak Ayu, menatapnya dengan sendu. Ku yakinkan jika semua itu gak akan menyelesaikan masalah, karena sekali ia melakukan perjanjian itu dengan Calon Arang. Mbak Ayu akan semakin terikat dengan sosok gaib itu, dan jiwanya akan sepenuhnya dikuasai oleh iblis itu.

__ADS_1


"Gue yakin Agus bakal ngomong yang sebenarnya, tapi gue minta sama lu Mbak jangan terbawa emosi. Siapa tahu arwah Agus datangin gue dan ceritain semua yang terjadi. Lu percaya gue kan Mbak?"


Tiba-tiba sopir taksi itu menyela percakapan ku, ia mengatakan jika dia sedikit tahu mengenai hal-hal klenik yang sedari tadi kami bicarakan.


"Saya bisa bantu manggilin arwah yang gentayangan neng. Kalau mau bapak bantu mah bisa aja neng."


Aku menjentikan jari mendapatkan ide dari penjelasan sopir taksi itu. Ku minta bapak itu ikut bersamaku ke kost Agus, dan meminta penjelasan darinya. Siapa orang yang bersamanya di gudang tua saat malam tewasnya Bu Wayan.


"Tolong ya Pak, tanyakan itu ke arwah teman saya. Karena ia masih gentayangan gak tahu dimana, semoga aja raganya masih bisa diselamatkan."


"Baik neng, saya akan coba bantu komunikasi."


Mbak Ayu menyikut tanganku, ia memperingatkan ku untuk tak semudah itu percaya pada orang yang tak ku kenal. Karena menurut Mbak Ayu para penghianat di kelompok pengikut Leak itu ada dimana-mana, dan mereka bisa menyamar menjadi apa saja. Aku mengaitkan kedua alis mata, menatap wajah sopir taksi yang tak terlihat jelas karena memakai masker wajah. Aku tak mungkin meminta bapak itu untuk membuka masker wajahnya, karena rata-rata orang sekarang memang memakai masker wajah untuk menghindari virus covid yang merajalela.


Dret dret dret.


Segera ku terima panggilan telepon itu, terdengar suara diseberang sana memberitahu ku jika ia akan membawa Agus ke Rumah Sakit.


"Ran, ini Adit udah datang sama Tante Ajeng dan perempuan yang satu kost sama lu. Mereka bawa Agus ke Rumah Sakit, karena kondisinya parah banget Ran. Seluruh tubuh Agus luka-luka dan mengeluarkan aroma busuk. Kayaknya dia udah sekarat deh, makanya Adit buru-buru bawa dia ke Rumah Sakit. Jadi lu pulang aja deh, gue juga gak ikut ke Rumah Sakit kok." jelas Mbak Rika dengan suara panik.


Aku memijat pangkal hidung, karena rasa pusing yang luar biasa ku rasakan. Kami belum sampai di kost Agus, dan Mbak Rika sudah memberikan kabar buruk itu padaku. Ku pandang wajah Mbak Ayu yang terlihat begitu serius, dan ku jelaskan jika Agus ditemukan dengan keadaan penuh luka.


"Pasti ini perbuatan Om Dewa, dia pasti ketakutan dan ingin melenyapkan Agus. Supaya gak ada saksi hidul yang bisa membahayakan nyawanya!" seru Mbak Ayu membulatkan kedua matanya seraya mengepalkan kedua tangan.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2