Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 186 PENGAKUAN DOSA?


__ADS_3

Sesampainya di gedung tua terbengkalai, aku dan Beny mengikuti instruksi polisi. Karena kami tak boleh sembarangan menyentuh sesuatu. Entah berapa banyak gedung tua terbengkalai di Jakarta, karena selalu saja ada hal-hal yang terjadi di tempat seperti ini. Tim forensik mengumpulkan tulang-tulang itu, aku mewawancarai nya dan mereka mengatakan jika tulang-tulang itu sebagian sudah ada yang hancur hanya menyisakan beberapa bagian saja. Dan kemungkinan pemilik tulang-tulang itu sudah lama dikubur disana. Jadi berdasarkan keterangan, tak ada kejadian apapun yang terjadi disana. Meski Beny merasa sia-sia meliput di tempat ini, aku tak merasa begitu. Karena setidaknya aku sudah menjalankan tugas, walau hasilnya diluar harapan. Dan ekor mata ku menangkap sekelebat bayangan seorang perempuan. Ia berpenampilan sama seperti Narsih, tapi mana mungkin Narsih mengikuti ku sampai ke tempat ini.


"Ah pasti itu bukan Narsih, hanya sosok lain yang berpenampilan sama sepertinya." Gumam ku pada diri sendiri.


Ternyata Beny mendengar ucapan ku, ia bertanya apa yang aku lihat di sekitar tempat ini.


"Gue lihat penampakan demit penari, kenapa lu mau lihat Ben?"


Whuuuss...


Hembusan angin kencang menerpa tubuhku, seketika aku membalikkan tubuh dan melihat sesosok demit penari yang berpenampilan seperti Narsih tadi tengah berdiri mengambang tepat di belakang tubuhku.


"Apa kau mengenal Mbak Narsih si penari jaipong?" Tanya nya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Aku terkejut dengan mulut menganga, perempuan yang berpenampilan seperti Narsih adalah Risma. Perempuan yang telah menghianati Narsih, hingga membuatnya tiada. Suara teriakan Beny menyadarkan ku, dan aku kembali ke dunia ku. Peluh membasahi kening, aku hanya menggelengkan kepala tak percaya. Kenapa aku harus bertemu dengan sosok penghianat seperti Risma. Aku tak akan sudi membantunya, karena bagaimana pun dulunya dia adalah manusia yang jahat. Tak ku hiraukan sosok Risma, dan pergi bersama Beny ke kantor polisi. Karena kami harus mewawancarai Mas Adit terkait kasus kecelakaan yang menewaskan Fendi. Tapi sosok Risma terus mengikuti ku, bahkan ia menyatukan kedua tangan dengan wajah iba. Ia ingin meminta maaf pada sosok Narsih, karena dia telah mendapat balasan dari semua perbuatan nya pada Narsih dan juga Simbahnya. Sontak saja aku membalikkan tubuh, dan berkacak pinggang di depan sosok Risma. Aku membulatkan kedua mata penuh amarah, rasanya ingin ku maki dengan cacian dan sumpah serapah. Kenapa ada manusia yang begitu jahat seperti dia. Akhirnya aku meminta Beny menunggu di mobil, dan ku jelaskan jika ada sedikit urusan dengan makhluk tak kasat mata.


"Kalau gue terlalu lama, lu bisa telepon gue. Oke?" Kata ku pada Beny lalu melangkahkan kaki ke bawah pohon besar, yang ada di depan pintu masuk gedung tua.


Aku duduk di batu besar yang ada tepat di bawah pohon. Sosok Risma melesat mengikuti ku kesana, dengan wajah sendu ia mengutarakan penyesalan nya. Tapi aku tak mau tertipu seperti Narsih, jadi tak ku hiraukan beberapa ucapan nya. Dan ku minta ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana dan apa yang telah membuat Simbah Narsih tiada. Dan kenapa ia bisa sampai tega bekerja sama dengan Bardi untuk membunuh Narsih. Padahal Narsih lah yang telah mengangkat derajatnya, dan memberikan kehidupan baru padanya. Kini sosok Risma menundukkan kepala, dan berlinang air mata.


"Kau tau tulang-tulang yang ditemukan tadi adalah sebagian tulang-tulang ku. Aku telah menerima ganjaran atas apa yang ku perbuat semasa hidup." Ucap Risma tertunduk.


Aku hanya diam, tapi ada perasaan puas melihat Risma berakhir menderita seperti itu. Setidaknya ia tak bisa merasakan kebahagiaan meski telah merenggut segalanya dari Narsih. Risma pantas menerima semua kepahitan itu, lantas siapa yang telah menguburkan dia disana.


"Lalu kenapa kau tiada dengan memakai pakaian seperti itu?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Risma mengatakan, jika Bardi mencekiknya dengan selendang yang mengikat di lehernya sampai tewas. Karena Bardi cemburu, ketika Risma diam-diam menemui Meneer William Van Houten. Kekasih Narsih yang dulu sempat dekat dengannya. Lalu Bardi juga menguasai semua uang peninggalan Narsih, yang ada di kotak penyimpanan uang.

__ADS_1


"Waktu itu aku memanasi Mas Bardi, dengan mengatakan jika Mbak Narsih diam-diam berhubungan dengan Meneer William. Dan ia mendapatkan banyak uang dari Meneer itu. Karena rasa cemburu dan iri, Mas Bardi bertekad ingin membunuh Mbak Narsih. Mas Bardi melihat semua surat yang dikirimkan Meneer William. Dan ia tak terima karena merasa dihianati oleh Mbak Narsih."


"Lantas kau, apa motif mu mencelakai Simbahnya dan bekerja sama dengan Bardi untuk membunuh Narsih?" Kata ku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Aku ingin menggantikan posisi Mbak Narsih untuk memperoleh kejayaan. Apalagi setelah aku melihat semua uang yang ada di dalam kotak penyimpanan Mbak Narsih. Aku tahu Mbak Narsih tak hanya sekedar menari, tapi ia juga menerima permintaan khusus untuk mendapatkan uang-uang itu. Aku sangat marah dan kecewa pada Mbak Narsih, karena ka melarang ku menerima permintaan khusus dari para Meneer Belanda itu. Aku tahu Mbak Narsih tak ingin aku menjadi saingannya, karena itulah niatku untuk menguasai harta Mbak Narsih semakin besar. Aku juga telah menyingkirkan halangan lainnya, supaya aku terbebas dari larangan Mbak Narsih. Termasuk Simbah, yang kerap kali menjadi hambatan setiap kali aku harus menari. Mbak Narsih selalu meminta ku mejaga Simbahnya yang penyakitan itu. Sampai akhirnya aku kesal dan membungkam wajah Simbah dengan bantal tidurnya sendiri. Aku terpaksa mengakhiri hidup Simbah, supaya tak ada rintangan dalam perjalanan karir ku menari jaipong. Semua yang aku lakukan adalah salah Mbak Narsih sendiri, seandainya ia tak melarang ku menerima permintaan khusus para Meneer. Dan membiarkan ku pergi meninggalkan Simbahnya, pasti semua tak akan berakhir seperti itu." Jelas sosok Risma dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Jadi kau tak bisa menikmati hasil kejahatan mu karena Bardi juga telah melenyapkan mu? Bukankah karma langsung kau bayar Risma? Kau menghianati seseorang yang telah baik padamu, dan kau dihianati pula oleh orang yang kau percayai?" Kataku berdecih di hadapannya.


"Ya meskipun awalnya aku juga berencana melenyapkan Mas Bardi, tapi begitu tahu dia memiliki tujuan yang sama. Yakni menguasai harta Mbak Narsih, akhirnya aku bekerja sama dengannya. Untuk membayar centeng di desa sebelah, dan merencakan pembunuhan pada Mbak Narsih. Semua warga desa hanya tahu jika Mbak Narsih frustasi karena ditinggal mati Simbahnya, dan ia menggantung diri di kebun belakang rumah. Seakan karma berlaku padaku, ketika aku sedang menari di daerah batavia dan bertemu dengan sosok Meneer William yang sangat dicintai Mbak Narsih itu. Mas Bardi mengetahui segalanya, dan mencekik ku sampai tewas dengan selendang tari ku ini. Jasad ku di kubur di gedung itu, sampai sekarang barulah terungkap. Tapi semua percuma, tak ada gunanya mereka membawa tulang-tulang itu. Aku mati karena keegoisan dan keserakahan. Aku ingin meminta maaf pada Mbak Narsih supaya aku dapat mendapatkan ampunan untuk jiwa ku ini." Pungkas Risma tertunduk.


Entah aku harus bagaimana mempertemukan kedua jiwa tanpa raga ini atau tidak. Aku hawatir jika nantinya Narsih murka, dan membuat jiwa nya semakin tenggelam dalam dendam dan amarah. Dan itu akan mengakibatkan nya semakin terperangkap di alam fana ini. Tiba-tiba dering ponsel mengejutkan ku, nampak panggilan telepon masuk dari Beny. Aaah rupanya aku terlalu lama berada disini, ku katakan pada sosok Risma. Untuk menunggu kabar dariku, aku harus memikirkan nya terlebih dulu. Untuk mengambil keputusan yang tepat, mempertemukan nya dengan Narsih atau tidak.


"Aku akan berkomunikasi melalui batin denganmu. Tetaplah berada di tempat ini, setidaknya jasadmu akan dikuburkan dengan layak, meskipun tanpa nama. Bagaimanapun kau pantas mendapatkan nya Risma!" Seruku seraya memalingkan wajah.

__ADS_1


Aku berjalan pergi meninggalkan sosok Risma. Sebenarnya pantang bagiku membantu makhluk tak kasat mata sepertinya. Karena ia telah berbuat jahat selama hidupnya, tapi aku juga tak tega melihat sosok Narsih. Karena ia mati penasaran, dengan membawa tanda tanya besar. Kenapa orang-orang terdekatnya itu tega membunuh nya, dan kini aku sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan nya. Semoga saja Narsih tak semakin murka, ketika ia mengetahui jika Risma juga telah melenyapkan Simbahnya. Karena jika aku jadi Narsih pun, aku tak akan pernah bisa menerima kenyataan itu.


__ADS_2