
Di dalam sebuah ruangan gelap, dengan aroma lembap yang sangat pekat. Bapak penjaga itu menengadahkan tangannya seperti sedang berdoa. Setelahnya, ia mengusap kedua matanya dengan tangannya sendiri. Lalu ia berjalan ke berbagai sudut ruangan itu. Ia membongkar tumpukan barang usang yang menggunung di sudut ruangan.
"Dek tolong bantu saya, pindahin barang-barang ini." Ucapnya dengan keringat yang membasahi keningnya.
Tak banyak bertanya, aku dan Mbak Ayu langsung melakukannya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari belakang kami. Nampak tangan kekar dengan pergelangan baju yang dinaikan ke atas, Ia mengangkat tumpukan barang dengan mudahnya.
"Loh Mas Adit ngapain kesini?" Tanya tercengang melihatnya.
"Aku juga ingin membantu kalian!" Jawabnya menyunggingkan senyumnya.
Entah kenapa senyumnya terasa manis di mataku, tapi aku tak pernah memiliki perasaan lain untuknya. Karena itulah, aku jadi canggung kalau Mbak Ayu selalu berkata-kata seakan menggoda kami.
"Loh Adit kesini bawa pasukan ternyata, syukurlah kita gak usah angkat-angkat barang ini." Pungkas Mbak Ayu seraya meregangkan otot-otot di tubuhnya.
Mas Adit bersama para petugas mulai memindahkan barang yang menumpuk itu. Bapak penjaga tiba-tiba komat-kamit sendiri. Ketika ku lihat melalui batin, rupanya beliau sedang berkomunikasi dengan Endang. Dari penjelasan nya, ia tak memiliki niat buruk pada Pak Darman. Awalnya ia senang, melihat Pak Darman dan juga Narti terpojok. Melihat Narti tak berdaya harus meninggalkan Pak Darman, membuat Endang jadi besar kepala. Ia merasa puas, karena sekali lagi melihat keduanya harus terpisah. Tapi semakin lama ia melihat Pak Darman disiksa dan kesakitan. Perasaan campur aduk menggelayutinya. Endang tak tega, melihat lelaki yang pernah dicintainya itu tersiksa. Akhirnya, ia memanfaatkan waktu yang tepat untuk menyelamatkan Mas Darman tercintanya itu. Begitu asap tebal memenuhi ruangan, ia langsung membawa pergi Pak Darman dari tempat penyiksaan.
"Gilak! Ternyata demit masih punya perasaan juga ya Ran!" Seru Mbak Ayu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dih dari tadi lu juga nyimak Mbak?"
"Emangnya gue buta tuli apa! Sampe gak bisa nyimak. Astaga, demit bisa bucin juga ya!" Celetuk Mbak Ayu membuat Mas Adit menghentikan aktivitas nya.
"Si siapa yang buncin Mbak? Saya kesini karena tuntutan pekerjaan juga kok!" Sahut Mas Adit canggung.
Duh. Kenapa Mas Adit pake ngerasa segala lagi. Padahal kan, bukan dia yang lagi kita omongin. Semoga aja, gak ada omongan aneh-aneh dari Mbak Ayu. Batinku di dalam hati.
"Lapor Pak. Kami menemukan seorang lelaki tak sadarkan diri dengan banyak luka. Dia ada di dalam tumpukan barang-barang itu!" Ucap seorang petugas dengan wibawanya.
Mereka langsung mengecek kondisi Pak Darman, lalau mengevakuasi nya, untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat.
Bapak penjaga gedung mendatangi Mas Adit, beliau mengatakan. Jika terkadang sesuatu memang sulit dijelaskan secara nalar.
"Kita hidup di dunia ini berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata Pak. Terkadang memang sulit diterima secara nalar. Logika manusia selalu menentang hal-hal yang terlihat tabu. Tapi itulah kenyataan nya, baru saja sosok yang menyelamatkan lelaki itu mengatakan. Jika semua orang yang menyiksa lelaki tadi akan berkumpul pada malam jumat kliwon. Tepat di tengah malam, Polisi bisa langsung menangkap semua pelakunya." Pungkas si Bapak penjaga gedung dengan nada suara berat.
Aaah... Lega nya, kali ini aku serasa mendapat bantuan dari banyak pihak. Semoga kondisi Pak Darman cepat membaik, karena sejujurnya, aku sangat cemas melihat keadaan nya yang memperihatinkan. Nampak raut wajah Endang berubah sendu. Kedua matanya sayu, dan ia pergi melesat entah kemana.
__ADS_1
"Kasihan Mbak Endang! Dia pasti galau sekarang. Antara benci dan cinta memang beda tipis. Untungnya gue lagi gak ada yang dicintai, jadi gak gampang galau kayak gitu."
"Ya udah Mbak, kita balik aja yuk. Semalaman melek, udah kayak ikan aja gak tidur. Untung nya hari minggu ini gue dapat jatah libur."
Akhirnya kami berpamitan dengan Bapak penjaga gedung itu. Ia menasehati aku dan Mbak Ayu, untuk tak mengikuti proses penggrebekan para penganut ilmu hitam itu.
"Kalian bisa celaka jika ada disana. Biar saja semua dikerjakan pihak yang berwajib. Di negara ini kan ada hukum, kalau kita gak bisa menegakkan keadilan. Biar saja Polisi yang melakukan nya. Meski mereka berilmu, ada tatanan hukum yang tak bisa mereka hindari. Saran ku, jangan pernah datang lagi ke tempat itu. Meski kelak pelaku nya akan tertangkap, sebagian dari anggota itu masih ada. Mereka tersebar, bersama masyarakat sekitar. Karena malam itu, tak semua anggota hadir. Bahkan masih ada satu pemimpin yang belum kalian ketahui!"
"Darimana Bapak tahu itu?" Tanyaku dengan menelan saliva.
"Endang diam-diam sering mengikuti Sundel bolong itu. Ia mengetahuinya, ketika datang ke tempat para penganut ilmu hitam itu berkumpul. Ada tatanan dunia yang tak bisa mereka hindari, sisanya biar Polisi yang mengurus. Kalian sudah cukup berusaha keras, pulang lah dan istirahat."
Setelah itu kami berpamitan pada lelaki tua itu. Mas Adit sedang berbicara dengannya, dan meminta nya tak masuk ke dalam ruangan tadi lagi. Karena polisi harus melakukan investigasi, meski secara nalar tak bisa ditemukan bukti atau saksi bagaimana Pak Darman bisa sampai disana. Tapi Polisi tetap harus melakukan pekerjaan nya.
"Kalian pulang saja. Kalau korban sudah sadar, semua baru bisa terungkap. Nanti aku kabari lagi mengenai perkembangan nya." Kata Mas Adit dengan senyum ramahnya.
Kami menghubungi Adik ipar Pak Darman, dan memberitahu nya. Jika motornya ada di gedung ini, dan memintanya mengambil nya. Karena aku dan Mbak Ayu sangat lelah, dan ingin langsung kembali ke kostan.
__ADS_1
Hari minggu ini berlalu dengan sangat cepat. Seharian aku dan Mbak Ayu tak keluar dari kamar. Bahkan kami melewatkan makan, sampai akhirnya perut terasa melilit dan keroncongan. Aku mengirimkan pesan singkat pada Mbak Ayu, untuk mengajaknya ke depan komplek, membeli nasi goreng spesial Bang Tigor. Tak lama setelah itu, kami berjalan kaki ke depan keluar. Suasana malam ini berbeda dari sebelumnya. Terasa hawa dingin yang tak seperti biasanya. Banyak sekali energi jahat yang serasa mendekat. Seakan merasakan hal yang sama, aku dan Mbak Ayu sama-sama menoleh ke berbagai arah. Terdengar rintihan sendu perempuan, aku memicingkan kedua mata. Mencari sumber suara itu berasal, di sudut tempat gelap sesosok pocong berdiri mengambang dengan kain kafan yang bercampur noda darah. Aku merasa tak asing dengan sosoknya, meski banyak sekali pocong yang pernah aku lihat. Berbeda dengan pocong yang satu ini. Ia mengeluarkan aura kesedihan yang begitu besar. Aura yang dikeluarkan dari jiwanya terasa sangat dingin, hingga bisa membekukan tulang. Mbak Ayu diam dengan memejamkan kedua matanya, lalu mengeluarkan liontin peninggalan mendiang Ibu nya. Mengarahkan nya ke arah pocong itu bersembunyi di balik pohon pisang. Setelah terdengar bunyi ledakan, muncul asap tebal di sekitar sana. Pocong itu menghilang begitu saja, entah apa tujuannya mengikuti kami. Yang jelas, saat ini kami sedang sangat lelah, dan tak ingin berurusan dengan hal-hal gaib lagi.