Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 26 MISTERI PENEMUAN MAYAT


__ADS_3

"Kenapa harus aku? dan untuk apa aku mengorbankan sesuatu untukmu?" ku pandangi wajah perempuan bergaun merah itu, ia menundukan kepalanya dan tak lama ia menatapku dengan wajah sendu.


"Karena kau telah mencampuri urusannya, ia tak bisa mendapatkan apa yang seharusnya ia dapat. Jika tak ada penerus yang memuaskan nya, harus ada yang menggantikan posisi sang pemangku ritual. Dan kau telah mengambil pusaka keramat dari tempatnya, jika kau tak segera menemukan penerus itu, dirimu yang akan menggantikan posisinya." jelasnya dengan menyeringai.


Degh.


Kenapa harus aku? jantungku berdetak sangat kencang, otakku tak dapat berpikir dengan jernih. Aku segera menekan tombol lift berkali-kali, tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Ketika ku lihat angka di lift malah menunjukkan angka enam. Nampak perempuan bergaun merah itu masih berdiri di tempatnya, aku melangkahkan kaki menjauh darinya. Dan aku terjatuh setelah menabrak sesuatu di depanku.


Bruugh.


"Eh lu gak apa-apa kan Ran? tanya rekan kerjaku yang baru saja datang.


Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya, kini kedua Satpam yang berjaga di Lobby juga mendatangiku. Mereka bertanya kenapa aku hanya berdiri diam di depan lift, padahal pintu lift sudah terbuka beberapa kali. Aku bangkit berdiri seraya memandang pintu lift, dan perempuan bergaun merah itu sudah tidak ada disana.


"Maaf sepertinya saya banyak pikiran Pak." jelasku pada mereka, lalu aku berjalan kembali ke depan lift.


Aku memutuskan untuk fokus dengan pekerjaan, dan mengabaikan perbincanganku dengan perempuan misterius itu. Rekan kerjaku yang masih satu divisi mendatangi ku, ia menyerahkan berkas-berkas berita kriminal yang akan tayang hari ini.


"Lu harus selesaiin semuanya sebelum siang ini ya, soalnya sore nanti kita harus kerjain berkas lainnya." titahnya dengan mengingatkan ku akan deadline yang akan datang.


Aku menunjukkan jari jempol seraya menganggukan kepala, rekanku itu kembali ke meja kerjanya. Dan aku memulai semua tugasku, berkas yang menumpuk di meja semakin membuatku pusing. Sepertinya aku lebih cocok kerja di lapangan, gumamku dengan mengetik agenda berita yang akan tayang.


"Nih Ran ada kasus spesial untukmu." kata Mbak Rika yang baru saja mendatangiku, ia membawa amplop cokelat yang diberi warna stabilo merah bertuliskan 'PENDING'.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang, Belum selesai yang satu sudah datang lagi berkas yang lain, tapi berkas ini nampak berbeda dari yang sebelumnya.


"Kasus ini seharusnya bukan lu yang ngerjain, tapi karena dari awal lu yang ambil alih, jadi ya lu sekalian aja yang selesaiin. Ini kasus yang masih menjadi misteri, itu loh kasus penemuan mayat di gedung tua. Menurut informasi yang kita terima, bagian kepala mayat itu kan belum ditemukan. Jadi kita harus dapetin informasi yang terdepan, kalau Polisi udah bisa menguak misteri itu, usahakan lu bisa dapetin penjelasan dari pihak kepolisian. Secara lu kan deket tuh sama salah satu polisi yang nanganin kasus itu." kata Mbak Rika dengan menaikan alis matanya.


Tak lupa Mbak Rika mengingatkan ku tentang kasus kriminal yang sebelumnya ku kerjakan. Ia memintaku untuk segera menyelesaikan nya, dan menyerahkan ke koordinator Fino. Aku memberikan hormat pada Mbak Rika, menandakan aku siap melaksanakan perintahnya.


Ketika aku sibuk di depan layar monitor, ada pesan masuk dari Mbak Ayu. Ia memintaku pulang bersama Agus, supaya kami dapat makan malam bersama dengan Om Dewa dan Tante Ajeng. Ku balas dengan emoticon jempol, dan melanjutkan pekerjaanku.


Tanpa terasa jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul empat sore. Lagi-lagi aku melewatkan makan siang. Dari kejauhan terlihat Agus sedang menyerahkan hasil presscon nya pada Mbak Rika, aku bangkit berdiri dan menghampiri nya.


"Gus gue mau ngomong sama lu."


"Ngomong aja Ran, gue dengerin kok."


Mbak Rika melirik ku dari ekor matanya, ia penasaran kenapa tiba-tiba aku menghampiri Agus dan terkesan merahasiakan sesuatu darinya.


"Gak ada rahasia kok Mbak, ntar gue mau nebeng Agus aja." kataku serang berjalan meninggalkan mereka.


Aku duduk bersandar pada kursi, lalu aku teringat dengan perempuan misterius tadi. Darimana ia tahu jika kotak itu masih ada di dalam tas ku. Aku memang sengaja membawanya kemana-mana, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu aku dapat menemukan alamat Ketut Dewangga. Ku raih tas ransel di kolong meja, aku membuka resleting dan merogoh ke dalamnya. Kotak tua itu sudah hampir sepekan lebih tersimpan di dalam tas ku, dan semenjak itu pula aku kembali mengalami hal-hal yang menyeramkan. Jika hanya sekedar hantu yang mati penasaran, aku sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. Tapi sosok yang berhubungan dengan sesuatu yang ada di dalam kotak ini, benar-benar membuatku tak aman. Aku merasa di incar oleh sosok itu. Disaat aku masih menatap kotak yang ada di dalam tas, seseorang menyentuh pundakku, dan aku tersentak reflek menjatuhkan tas ransel yang ku pegangi.


"Eh sorry Ran, gue gak maksud ngagetin lu!" seru Agus berusaha mengambil tas ransel ku yang jatuh tadi.


Aku melompat dengan cepat dan meraih tas itu sebelum Agus menyentuhnya.

__ADS_1


"Gue aja Gus yang ambil, lu kapan datangnya sih? tau-tau udah nepuk pundak gue aja?" kataku dengan nafas yang berderu kencang.


"Ya gue baru dateng Ran, habisnya lu ngelamun sih. Emang ada apa an di dalam tas lu? sampai gue gak boleh ngambilin?" Agus mengaitkan kedua alis matanya, ia nampak penasaran.


Tanpa berbasa-basi lagi, aku langsung ke topik pembicaraan. Aku bertanya padanya tentang maksud ucapannya semalam, tapi ia nampak kebingungan seakan tak tahu apa-apa.


"Gak usah bercanda deh Gus, semalam lu telepon gue. Dan lu ngancem gue Gus, lu bilang orang-orang terdekat gue bisa dalam bahaya. Maksud lu ngomong gitu apa an Gus?" ucapku dengan menaikan kepala sambil berkacak pinggang.


Sekarang Agus mendekatkan kepalanya ke arahku, ia berbisik di telingaku.


"Bukan gue yang ngomong begitu, gue hanya menyampaikan pesan itu."


Aku membulatkan kedua mata menatap Agus dengan curiga. Nampak Agus menyeringai dengan sorot mata mengancam.


"Sebenarnya lu kenapa sih Gus? ada masalah apa lu sama gue? lu tahu apa tentang kotak yang gue bawa, jujur Gus ngomong aja!" seruku dengan nada suara marah.


Tanpa sadar suara ku terlalu kencang, dan membuat beberapa karyawan yang masih ada di kantor melirik ke arah kami. Aku berusaha menenangkan diri, dan merapikan peralatan kerja ku. Ku katakan pada Agus, jika ia harus menjelaskan semuanya padaku di luar kantor. Dari belakang Agus mengikuti langkahku, ia menawarkan tumpangan sampai ke kost.


"Kita bisa membicarakan ini di perjalanan, lu bareng gue aja ke rumah Om Dewa. Bukankah malam ini kita di undang makan malam disana?" kata Agus dengan tersenyum dari sudut bibirnya.


Aku tak langsung menjawab ajakan Agus, sebenarnya ada sedikit perasaan was-was ketika Agus mengatakan yang sebenarnya. Aku takut jika ia adalah salah satu pengikut Leak itu, bisa-bisa nyawaku terancam jika aku menerima ajakannya.


...Semoga Agus bukan salah satu dari pengikut Leak itu, dan akankah Rania pulang ke kost bersama Agus? tunggu cerita selanjutnya. ...

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2