
Aku terbangun karena mendengar suara adzan, ku regangkan otot-otot ditubuh, lalu beranjak bangun dan menunaikan shalat subuh. Setelah itu aku melihat jadwal di buku jurnal, ternyata hari ini tak ada liputan. Karena penelusuran ku mengenai anaknya Purnama sudah selesai, aku dapat sedikit bersantai dan mengajukan libur pada Mbak Rika. Sepertinya aku memang butuh sedikit hiburan, terlalu berjibaku dengan urusan pekerjaan dan hal-hal gaib membuatku lupa dengan masalah yang ada di Desa. Aku bangkit berdiri dan tasbih yang ada di pangkuan ku terjatuh. Terlihat cahaya putih berpendar keluar dari dalam tasbih itu. Tadi memang aku menggunakannya saat ibadah, apa mungkin ini yang Bapak bersorban putih itu maksud. Ketika aku sering menggunakannya untuk ibadah, akan semakin besar manfaatnya untukku. Ya semoga saja, kelak aku bisa menggunakan nya untuk kebaikan.
Dreet dreet dreet.
Terdengar suara ponsel yang bergetar, entah siapa yang menghubungi ku sepagi ini. Ku lihat layar ponsel, terlihat panggilan telepon dari Wati. Aah syukurlah Wati menelepon ku. Baru saja aku memikirkan nya, dan dia langsung menelepon ku. Begitu aku sentuh tombol terima telepon, terdengar suara sendu Wati. Sepertinya, masalah tempo hari menjadi beban pikiran nya. Aku berusaha menenangkan nya, dan memberinya semangat.
"Rania... Sepertinya aku harus menepati janji mendiang Simbah. Menurut Pak Haji Faruk, janji Simbah ibarat hutang yang belum dibayarnya. Apalagi beliau sudah tiada, itu akan membuat beliau tak tenang di alam keabadian. Mungkin beberapa bulan lagi, aku harus segera menikah dengan cucu Pak Mitro. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membalas budi pada Simbah. Kau tak perlu pulang ke Desa, aku memberitahu mu supaya kau terkejut ketika melihatku sudah menikah nanti. Ibu tak sampai hati menyampaikan berita ini padamu ataupun kedua orang tuamu. Jadi tolong rahasiakan ini, sampai di hari pernikahan ku nanti. Ibu tak mau orang tuamu cemas, dan tiba-tiba pulang ke Desa." Ucap Wati terisak.
Hatiku terasa teriris, tak sampai hati mendengar ucapan Wati. Bagaimana mungkin dia berkorban sebesar itu, untuk menepati janji mendiang Simbah Parti. Memang sebelumnya Simbah pernah mendatangi ku lewat mimpi, beliau memintaku ikhlas dengan keputusan yang Bude Walimah ambil. Karena sudah lama ia memikirkan nya, hanya saja Bude tak pernah tahu, jika yang harus menikah dengan Wati adalah cucu Pak Mitro yang memiliki keterbelakangan mental.
"Wati... Maafkan aku tak bisa membantumu huhuhu."
Kami sama-sama menangis, dan saling menguatkan. Pengorbanan yang Wati lakukan sangatlah besar, mungkin aku tak akan sanggup melakukan nya. Karena ada pertanyaan yang mengganjal dihatiku, aku pun menanyakan nya pada Wati.
"Apa kau melakukan pengorbanan ini untuk menyelamatkan ku Wat? Karena Bude dan kau merasa berhutang budi pada mendiang Simbah, karena telat merawat dan menjaga Ibumu sewaktu kecil dulu? Kalau itu tujuanmu, aku tak bisa menerimanya. Itu gak adil untumu Wati." Kataku dengan hati yang terasa sesak.
__ADS_1
"Gak kok Ran. Itu bukan hanya janji Simbah pada Pak Mitro, tapi itu juga janji Ibu pada mendiang Simbah. Jadi kau gak usah ngerasa gimana-gimana, bukannya janji emang harus ditepati. Karena itulah Ibu memberitahukan ini padaku, dan Ibu gak pernah maksain buat nepatin janjinya. Tapi aku yang menginginkan nya, biar semuanya jadi tenang dan gak ada keributan lagi. Soalnya Pak Mitro menuntut hutang yang pernah ia pinjamkan pada Simbah beserta bunganya, kalau gak ada satupun dari cucu Simbah yang mau menikahi cucunya."
"Astaghfirullah. Cobaan apa lagi ini, kenapa keluarga ku harus menghadapi masalah pelik seperti ini. Mengingat hutang Simbah tak tertulis berapa jumlahnya, dan belum ditambahkan bunganya. Bisa saja pihak Pak Mitro menulisnya sesuka hatinya, untuk menekan keluarga kita. Apa kau yakin Wat, akan menikahi cucunya yang keterbelakangan mental itu?"
"InsyaAllah aku ikhlas Ran, kau bisa kembali ke Desa setelah aku menikah nanti. Tolong jaga dan sering-sering menanyakan kabar Ibuku ya, karena beliau pasti akan menutupi kesedihan nya di hadapanku."
Setelah itu kami mengakhiri panggilan telepon itu. Aku terduduk lemas di kursi teras, beban berat yang baru saja berkurang. Kini bertambah lebih berat di pundakku, aku tak tahu harus bagaimana untuk menghentikan niat Wati menikah dengan cucu Pak Mitro. Tapi jika aku menghentikan nya, tak hanya janji Simbah yang tak terwujud, tapi juga janji Bude pada Simbah. Doa ku hanya satu, semoga Wati bisa hidup bahagia setelah pernikahannya nanti. Meski aku agak ragu, jika Wati bisa bahagia bersama calon suaminya.
"Rania, ngapain ngelamun disitu?" tanya Mbak Ayu di depan pintu kamarnya.
"Gue lagi merenung aja Mbak, ada masalah di Desa. Dan Wati gak akan balik kesini lagi."
"Ya udah, kalau gitu kapan-kapan kita aja yang datang ke Desa jenguk Wati dan Bude Walimah."
Aku hanya menganggukan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Tak lama sosok Endang cekikikan di atas pohon. Kakinya uncang-uncang seraya memainkan rambut panjangnya. Mbak Ayu menyadari kehadiran Endang, dan berusaha mengusir nya.
__ADS_1
"Udah Mbak, gak apa-apa, biarin aja dia gak ganggu kok."
Akhirnya kami mengacuhkan Endang, dan membiarkan nya bersama demit lainnya yang biasa tinggal di lorong gelap rumah ini. Mbak Ayu membahas rencana pernikahan Wati, dan menghubungkan nya dengan judul film yang akan kami lihat di bioskop nanti.
"Semoga aja Wati gak jadi Pengabdi Mertua kayak di berita viral itu ya Ran hehehe."
"Mana mungkin sih Mbak, Wati kan gak kayak gitu orangnya."
"Maksudnya bukan Pengabdi Mertua yang viral karena perselingkuhan itu Ran. Tapi Pengabdi Mertua yang mau akuin apa aja, karena takut ngelawan mertuanya. Bisa aja Wati diperdaya buat ngelakuin pesugihan, ya gak?"
Aku terdiam mendengar ucapan Mbak Ayu, karena sebelumnya Pak Jarwo pernah mengatakan padaku tentang keluarga Pak Mitro yang melakukan pesugihan. Dan akan menumbalkan nyawa keturunannya, kalaupun yang ditumbalkan berhasil selamat dan tetap hidup. Maka orang itu akan hidup dalam ketidakwarasan.
"Lu kenapa lagi sih Ran, kok jadi murung gitu?"
"Kata-kata lu barusan bener Mbak, keluarga dari pihak lelaki yang akan menikah dengan Wati memang mempraktikkan pesugihan. Gue takut kalau Wati terkena imbasnya." ucapku seraya menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
"Ya udah, kita berdoa aja supaya itu gak terjadi. Lebih baik kita cari jalan-jalan pagi dulu yuk, cari udara segar supaya otakmu lebih fresh."
Aku dan Mbak Ayu memutuskan untuk joging di sekitar rumah. Udara pagi di hari minggu seperti ini lebih menyegarkan dibanding hari biasa. Karena terlalu banyak polusi udara di Ibukota. Aku merasa ada seseorang yang mengawasi kami sejak keluar dari rumah kuno itu. Tapi ketika aku menoleh ke belakang tak ada siapapun, Mbak Ayu memintaku untuk berpikir positif dan tak terlalu mencemaskan sesuatu. Setidaknya untuk hari ini, aku harus mengistirahatkan otakku, karena sudah terlalu lama aku berjibaku dengan hal-hal yang berbau mistis.