
Aku membuka pintu pagar, dan memasukkan motor ke dalam garasi. Nampak Ce Edoh baru saja datang, sepertinya ia baru kembali dari warung depan.
"Mbak Rania baru aja pulang ya? Tadi di depan jalan raya ada orang di bacok Mbak. Kasihan banget deh, sampai sekarang masih ramai loh."
"Jalan depan mana Ce? Kok saya gak denger beritanya ya."
"Itu loh Mbak, jalan depan yang ke arah Pasar. Tadi ada anak sekolahan yang tawuran atau apa kurang tau saya. Kasihan anaknya sampai meninggal di tempat."
"Jadi Ce Edoh dari sana?"
"Iya sekalian belanja gula di warung. Saya masuk duluan Mbak."
Setelah itu Ce Edoh masuk ke rumah utama, dan tak ku hiraukan berita tawuran tadi. Kemudian aku langsung masuk ke dalam kamar. Selesai membersihkan diri dan shalat, aku duduk termenung di ruang depan. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku bisa menemukan Petter.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunan ku. Ku dongakan kepala ke atas melihat siapa yang ada diluar sana.
"Ini gue Ran!" Seru Mbak Ayu dari luar sana.
"Masuk aja Mbak. Gak gue kunci kok pintunya!"
"Lu tumben gak duduk di teras depan? Lu sakit ya?" Tanya nya seraya meletakkan punggung tangan nya ke kening ku.
"Gue gak apa-apa kok Mbak. Lagi pusing aja mikirin dimana Petter saat ini. Kayaknya gue harus ngelepas jiwa deh, biar mudah nemuin keberadaan Petter."
__ADS_1
Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata, menatap ku dengan serius. Ia melarang ku melakukan itu, karena seperti yang sudah kami tau. Jika aku terlalu sering meninggalkan raga ku, maka aura ku akan semakin terang membuat para makhluk tak kasat mata akan lebih sering mendatangi ku.
"Selain itu juga akan ngebahayain diri lu sendiri Ran! Kalau tiba-tiba ada yang ngambil alih raga lu gimana?"
"Kayaknya masih bisa gue handel deh Mbak, gue punya tasbih dan liontin ini. Senggaknya ada perisai yang akan jaga tubuh gue, selama jiwa gue pergi meninggalkan raga. Semua ini demi Petter Mbak, gue harus melakukan nya."
"Lu yakin Ran? Gimana kalau gue minta bantuan Calon Arang aja? Sekarang gue udah bisa ngendaliin tuh makhluk kok. Sesuai kata para sesepuh banjar, Calon Arang akan mengikuti pola pikir pemiliknya. Dan jangan sampai gue yang ngikutin pola pikirnya, karena ntar gue yang akan berubah jadi beringas kayak dia. Makanya sekarang gue bisa pergunain ilmu Leak ini buat kebaikan."
"Tapi Mbak gue juga pengen usaha sendiri."
"Ya udah kita pergi sama-sama aja, gue gak mau lu pergi ke alam lain seorang diri. Lu buat perisai di sekitar tubuh kita dulu, baru setelah itu kita melakukan penelusuran ke alam lain." Pungkas Mbak Ayu dengan menggenggam tangan ku.
Aku menyunggingkan senyum lalu duduk dengan melipat kedua kaki. Ku satukan kedua tangan seraya membaca ayat-ayat suci. Ku genggam tasbih di tangan kanan ku, perlahan suar keemasan berpendar dari dalam tasbih memantulkan energi kuat di sekitar tubuh ku dan juga Mbak Ayu. Cahaya putih mengelilingi tubuh kami, kemudian kami fokus dengan berpasrah diri. Tak lama setelah itu jiwa ku tersedot keluar dari dalam raga. Aku tengah melayang di atas udara, tubuhku hanya berupa kepulan asap putih yang setipis udara nyaris tak tersentuh.
Whuuus.
"Ya udah yuk, kita mau kemana dulu nih?" Tanya Mbak Ayu seraya melesat mengelilingi kamar ku.
"Dih lu ngapain kayak bocah gitu Mbak. Pakai segala terbang kesana kesini!" Jawabku heran melihat tingkahnya yang mengingatkan ku dengan Petter.
"Seru juga ya Ran kalau kita bisa melesat secepat ini. Gak usah kena macet kalau berangkat kerja!"
"Udah yuk Mbak kita pergi sekarang. Ke tempat tinggal Silvia dulu, karena awalnya Petter ada disana sebelum menghilang." Kata ku seraya melesat menembus tembok kamar.
Secepat kilat kami langsung sampai di kamar Silvia. Ia sedang sibuk di depan monitor laptop nya. Ku fokuskan pikiran dengan menggenggam liontin yang menggantung di leher. Nampak gambaran-gambaran ketika Petter masih berada disana. Ia keluar dari kamar Silvia dengan wajah cemas. Entah kemana ia pergi tanpa berpamitan pada Mamanya yang saat itu tak menyadari jika ia pergi dari sana.
__ADS_1
"Rania gue dapet petunjuk dari demit bocah yang ada diluar sana." Ucap Mbak Ayu mengejutkan ku.
"Gue udah tau kok Mbak kalau Petter emang pergi sendiri dari kamar Silvia. Jadi gak ada yang bawa dia, tapi kemana dia pergi malam itu. Anehnya dia gak pamit, kayak ada yang urgent gitu. Mana raut wajahnya kayak yang lagi cemas gitu loh."
"Nah itu yang mau gue kasih tau, kata demit bocah yang tadi gue tanya. Dia lihat hantu Belanda melesat pergi ke bangunan tua yang ada di jalan kunti. Kali aja yang dia lihat itu Petter, coba aja kita cari di sekitar jalan itu."
Aku diam mengingat nama jalan yang disebut Mbak Ayu. Sepertinya aku familiar dengan daerah itu. Dan benar saja, begitu kami sampai di sekitar sana. Aku mengingat ketika pertama kali datang kesini. Di sekitar sini ada gedung tua yang menjadi saksi bisu tewasnya mendiang Bu Wayan.
"Kenapa Ran, kok berhenti?"
"Gue inget pertama kali datang ke daerah sini buat liputan pertama. Dan gue ketemu mendiang Bu Wayan yang minta tolong ke gue. Aah udah lama juga ya, dan sekarang gue datang lagi buat cari sahabat kecil gue." Kataku tertunduk.
"Thanks ya Ran, udah bantu mendiang Ibu gue. Makanya sekarang gue juga bantuin lu, buat cari sahabat kecil lu itu."
"Sama-sama Mbak. Ya udah yuk kita pencar aja gimana, ntar kita ketemu lagi di depan pohon beringin besar itu!" Ucapku seraya melesat pergi.
Aku masuk ke dalam bangunan tua yang sama sekali belum pernah ku datangi. Nampak gelap dan banyak debu yang menumpuk sampai tebal. Banyak sekali demit beterbangan saling menabrak. Aku berhenti melesat, dan memanggil sesosok demit yang sedang duduk dengan uncang-uncang kaki.
"Loh Endang! Ternyata kau sekarang tinggal disini?" Tanya ku terkejut bisa melihatnya lagi.
Hanya terdengar suara cekikikan nya, Endang memainkan rambutnya dengan bersenandung kecil.
"Apa yang membawamu datang kesini?" Jawab Endang dengan pertanyaan.
"Apa kau melihat hantu anak kecil berdarah Belanda di gedung ini?"
__ADS_1
Endang cekikikan mendengar pertanyaan ku. Menurutnya di gedung itu banyak hantu Belanda, jadi ia tak tau hantu mana yang aku maksud. Tanpa berbasa-basi aku memberikan penglihatan pada Endang, mengenai sosok Petter yang sedang ku cari keberadaan nya. Nampak Endang menghentikan tawa nya, dan menunjuk ke sebuah gedung yang ada di samping bangunan ini. Apakah Endang mengatakan yang sebenarnya, karena terkadang demit sepertinya suka iseng dan mengatakan kebohongan.