Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 227 KASUS TERPECAHKAN!


__ADS_3

Entah apa yang terjadi, karena kedua murid itu malah terlihat ketakutan. Aku dan Mbak Ayu dapat melihat nya berdasarkan ekpresi dari raut wajah keduanya.


"Gimana nih Ran, ini udah termasuk kejahatan pada anak dibawah umur. Harusnya sih kita langsung samperin aja tuh orang!"


"Pengennya sih gitu Mbak, tapi apa gak buat gaduh disini. Mana jenazah udah mau dimakamkan lagi!"


"Mau gak mau kita harus tegas Ran! Masalah yang lainnya belakangan aja mikirnya. Yang penting kita bisa mengungkap kebenaran!" Kata Mbak Ayu seraya melangkahkan kakinya.


Karena aku termasuk orang luar di lingkungan mereka, aku memutuskan untuk bergabung bersama para pelayat dan mendampingi Nenek Arfi yang sedang sangat terguncang. Beliau diminta tetap tinggal di rumah dan tak mengantarkan sampai ke tempat pemakaman. Tapi sang Nenek memaksa, ia ingin mengantar cucunya ke tempat peristirahatan terakhir. Ku pegang tangan Nek Asri, menopang tubuhnya supaya ia kuat berdiri. Ia menatapku dengan menyunggingkan senyum, lalu berterima kasih karena membantu menopang tubuhnya. Dari kejauhan samar-samar aku melihat Wening. Ia berjalan mendatangi Mbak Ayu dan kedua muridnya yang sedang berbicara dengan Pak Roni. Entah apa yang ia lakukan disana, aku hanya diam dengan menerka-nerka. Mulai terjadi ketegangan di antara mereka, bahkan Wening sampai mengeluarkan kamera di dalam ransel. Apa mungkin dia berusaha menekan lelaki itu ya, supaya mengakui perbuatan nya. Tapi bagaimana Wening bisa tau apa yang sebenarnya terjadi, jika ia sendiri baru saja datang kesana. Dan beberapa lelaki warga kampung terpancing untuk mendatangi mereka, sampai akhirnya keadaan benar-benar diluar kendali. Lalu seorang lelaki paruh baya meminta rombongan warga untuk lebih dulu berangkat ke pemakaman. Karena sisanya masih tetap tinggal disana, aku jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Tapi aku tak bisa meninggalkan Nek Asri seorang diri, karena tak ada lagi yang memapahnya untuk berjalan. Akhirnya aku terpaksa mengiringi jenazah Arfi sampai ke Tempat pemakaman umum.


Beberapa orang membantu menurunkan jenazah ke liang lahat. Tiba-tiba Arfi melesat dengan berlinang air mata, dan beberapa tokoh masyarakat di kampung itu menghentikan proses pemakaman. Dari belakang nya, ada Mbak Ayu dengan dua muridnya dan juga Wening yang datang dengan menyorot kamera. Sontak saja aku terbelalak. Kenapa Wening menyorot kamera di tempat ini. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, dari belakang mereka, nampak Pak Roni sedang berjalan dikawal dua orang di kanan dan kirinya. Kedua tangannya mengarah ke belakang, sepertinya kedua orang yang bersamanya adalah petugas dari kepolisian. Dan seseorang yang paling ku kenal berdiri di belakang mereka semuanya. Mas Adit datang dengan membawa berkas yang akan diserahkan ke Nek Asri sebagai satu-satunya keluarga Arfi yang ada disana. Aku tak mengerti dengan semua ini, sebenarnya ada apa kenapa Mas Adit bisa tiba-tiba datang ke pemakaman ini juga.

__ADS_1


"Ada apa ini Pak?" Tanya Nek Asri dengan raut wajah kebingungan.


"Tenang Nek, mereka ini adalah petugas dari kepolisian yang menangani kecelakaan Arfi. Pelakunya sudah tertangkap, dan ada dugaan lain juga. Biar nanti Pak Polisi ini yang menjelaskan di Kantor, tapi Nek Asri harus menandatangani berkas autopsi ini dulu. Karena Polisi juga mendapat informasi lain atas kecelakaan yang di alami Arfi." Jelas Pak RT setempat yang ada di samping Mas Adit.


"Maksudnya gimana Pak Polisi?" Tanya Nek Asri dengan terbatuk dan berlinang air mata.


"Nanti saya jelaskan di Kantor saja ya Nek. Itu adalah pelaku yang menabrak cucu Nenek sampai tewas. Dia mempunyai motif melakukan kejahatan itu, karena itulah untuk menguak kebenarannya, perlu dilakukan autopsi pada tubuh korban." Jawab Mas Adit seraya menunjuk Pak Roni yang tertunduk pasrah.


Seketika Nek Asri semakin lemas. Ia tak bisa mengendalikan dirinya sampai akhirnya ia pingsan, dengan menggenggam berkas yang ada di tangannya. Beberapa petugas inavis datang mengambil alih jenazah Arfi untuk dibawa ke rumah sakit polri. Suasana jadi kacau, karena pemakaman tak bisa dilangsungkan. Beberapa warga membopong tubuh renta Nek Asri ke mobil. Kini kedua murid itu dibawa sebagai saksi, dan nanti Mbak Ayu yang akan mendampingi mereka.


"Gak apa-apa kok Mbak, gue masih ada Wening yang nemenin."

__ADS_1


"Nah iya lu sama Wening aja udah lebih dari cukup. Dia ini hebat banget loh Ran, hanya dengan gertakan aja bisa bikin nyali Pak Roni menciut. Dia pura-pura ngambil video, dan membuka fakta kematian Arfi karena putus asa tak mendapat pertanggung jawaban darinya. Dan kedua murid gue ikut ngungkap semuanya, kalau sebelum kecelakaan si Arfi udah ngaku ke mereka. Kalau dia dalam keadaan hamil janin dari guru mereka, ya Pak Roni itu. Dan beberapa warga ada yang denger. Makanya tadi sempat ricuh, tapi gak lama Adit datang bersama petugas. Karena mereka menemukan kejanggalan dari hasil diberikan Dokter. Katanya korban dalam kondisi hamil, karena masih terlalu muda usia kandungan nya. Makanya terjadi kekeliruan di awal, untungnya Adit cepat tanggap. Dia datang sebelum jenazah dikuburkan. Dan dia juga berhasil menemukan pelaku tabrak lari, Pak Roni pakai mobil rental buat nabrak Arfi. Ketahuan kan datanya, dan di lokasi tadi Pak Roni akhirnya mengakui segalanya." Pungkas Mbak Ayu bercerita dengan detail.


Tak lama Mas Adit datang dan mengajak Mbak Ayu pergi bersamanya ke kantor polisi. Karena kedua muridnya sudah menunggu di mobil. Tapi sebelum mereka pergi, Mas Adit menjabat tangan Wening dan berterima kasih padanya. Dari ucapannya aku mengartikan jika si Wening inilah yang membantu penyelidikan polisi. Ia yang memberitahu beberapa informasi pada petugas, karena itulah kasus ini lebih cepat dipecahkan. Entah apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba Wening menjadi pahlawan di antara orang-orang terdekatku. Aku hanya menyunggingkan senyum menanggapi cerita Mas Adit mengenai rekan kerja baru ku ini.


"Jadi kalian berteman Ran? Baguslah, kasus di Bogor pasti akan cepat terpecahkan kalau kalian berpartner. Sepertinya rekanmu ini pandai menguak misteri Ran." Ucap Mas Adit tersenyum menatap Wening.


"Kok kalian bisa saling kenal Mas? Gue aja baru hari ini kenalan sama Wening." Kataku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Oh lu belum tau ya Ran, kalau gue yang terakhir liputan pas ada kasus di Bogor? Terus kemarin juga, gue yang meliput berita kejadian kecelakaan korban ini. Jadi gue ngeliput sekalian tanya-tanya ke beberapa saksi di lokasi TKP. Mereka nyebutin mobil dengan nomor polisi yang acak. Gue iseng cari datanya, pas gue nemu kok bukan atas nama pribadi. Tapi kayak nama CV gitu, nah tadi pagi gue datangim CV itu ternyata tempat penyewaan mobil rental. Pas gue tanya mobil dengan nomor polisi itu, si pegawai disana bilang mobil lagi disewa. Nah otomatis ada data yang nyewa mobilnya dong. Gue minta ke mereka, tapi pihak rental gak mau kasih tau dengan alasan privasi. Terus sebelum ke kantor tadi, gue hubungi Pak Adit ini buat datang ke tempat rental mobil. Karena hanya polisi yang bisa mendapatkan informasi data penyewa mobil. Eh gak tau nya mereka berhasil mendapatkan informasi lebih dari petunjuk yang gue kasih. Makanya sekarang kasus ini jadi terungkap lebih cepat." Kata Wening menceritakan segalanya.


"Wah lu hebat juga ya Wen. Kayaknya lu cocok deh jadi partner Rania. Kalian bisa jadi detektif dadakan, karena kalian sama-sama memiliki bakat memecahkan misteri." Celetuk Mbak Ayu sebelum ia pergi bersama Mas Adit.

__ADS_1


Aku hanya diam tak mengatakan apa-apa. Pikiran ku masih tertuju pada Wening, karena semuanya terlalu kebetulan bagiku. Atau mungkin ini hanya firasat ku saja, karena biasanya aku yang selalu memecahkan misteri. Tapi kali ini agak berbeda, atau mungkin aku hanya tak terbiasa dengan seseorang yang membantu memecahkan misteri yang sedang ku tangani.



__ADS_2