
Disaat aku sedang termenung di depan jendela kamar, Mbak Ayu tiba-tiba mengejutkan ku. Ia membuka pintu kamar ku dan berlari terburu-buru.
"Gawat Ran! Mbok Genuk dan Pak Jarwo sedang berperang di dimensi gaib, kita harus membantunya Ran!"
"Maksudnya gimana sih Mbak? Ngebantu gimana caranya?"
"Kita harus menyusul ke dimensi gaib, gue tau gimana caranya kita bisa sampai kesana!"
"Lu yakin Mbak?"
Mbak Ayu hanya menganggukkan kepala dengan sorot mata tajam. Tak ada keraguan atau rasa takut di matanya. Meski ragu, aku harus percaya dengan keyakinan nya. Ia mengajakku keluar rumah dan menuju kebun gelap yang ada di belakang rumah.
"Kita harus melepas jiwa Ran!"
__ADS_1
"Tapi siapa yang akan menjaga raga kita di alam manusia Mbak? Raga kita bisa di ambil alih sama makhluk gaib lain Mbak!"
"Tenang aja Ran, gue bakal panggil salah satu anggota leak. Biar dia yang jaga raga kita, tunggu bentar ya."
Mbak Ayu duduk menyilangkan kedua kaki serta menyatukan tangan di depan dada. Kedua matanya terpejam seraya membaca mantra-mantra. Tak lama sesosok makhluk dengan mata besar dan lidah menjulur keluar datang. Ia nampak siaga dengan gerakan berlenggak lenggok. Aku tercekat dan menelan ludah kasar, sepertinya makhluk itu adalah salah satu anggota leak yang dipanggil Mbak Ayu. Tak lama Mbak Ayu membuka kedua matanya, ia berkomunikasi dengan makhluk tersebut.
"Ayo Ran, kita lakukan sekarang! Ketika kita ngelepas jiwa, sosok itu yang akan jaga raga kita. Tenang aja, gak ada manusia biasa yang bisa lihat dia. Makanya kalau bisa kita harus cepat kembali, kalau gak di alam manusia ini kita bisa pergi selama berhari-hari." Pungkas Mbak Ayu seraya menarik tangan ku.
Tanpa menunggu lama, aku segera mengambil posisi untuk melakukan ritual melepas jiwa. Tak berselang lama jiwa ku melayang ke atas udara. Nampak lingkaran merah membentang mengelilingi tubuh kami. Sosok menyeramkan yang ditugaskan Mbak Ayu berada di luar lingkaran, dan waspada melihat ke sekitarnya. Ia benar-benar menjaga raga kami, bahkan dari sosok makhluk halus biasa. Ku lihat jiwa Mbak Ayu baru saja melesat ke atas, jiwa nya yang baru saja terlepas dari raga langsung menarik jiwa ku terbang entah kemana. Kami sampai di sebuah tempat gelap dan gersang, diluarnya banyak sekali makhluk gaib yang berjaga. Mbak Ayu memberi intruksi supaya kami langsung masuk menembus segerombolan makhluk gaib yang ada di depan kami. Tapi aku ragu untuk melakukan nya, makhluk itu terlalu banyak untuk kami lewati begitu saja.
"Ta tapi caranya gimana Mbak? Gue belum pernah melakukan hal itu sebelumnya!"
"Hanya lu yang tau caranya gimana Rania! Lu pasti bisa, tinggal bagaimana caranya lu bisa menguasai mustika itu. Liontin yang lu pakai bukan barang sembarangan, lu harus tau cara menggunakan nya untuk semua keadaan!"
__ADS_1
Mendengar penjelasan Mbak Ayu, aku merasa termotivasi dan ingin mencoba menggunakan liontin ini sesuai yang ku mau. Aku menengadahkan tangan ke atas seraya berdoa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa, tak lama aku mendengarkan bisikan dari sosok yang tak asing di pendengaran ku. Pangeran Jin Muslim memberikan petunjuk, jika aku bisa menggunakan liontin yang ku bawa sesuai kebutuhan jika itu memang ku lakukan demi kebaikan. Aku menghembuskan nafas lega, alhamdulillah aku semakin percaya diri untuk menghadapi makhluk gaib yang ada di tempat ini.
"Gimana Ran?"
"InsyaAllah gue bisa Mbak, bentar ya gue coba dulu!"
Aku menggenggam liontin seraya membaca doa, ku fokuskan pikiran sesuai apa yang ku mau. Tak lama wujudku berubah seperti makhluk yang tinggal di alam ini. Tangan dan kaki ku dipenuhi bulu dan berubah menjijikkan. Saat ku tatap Mbak Ayu, ia pun juga sudah berubah wujud. Ia membulatkan kedua mata seraya menaikan dagunya.
"Apa yang lu lakuin Ran? Kenapa wujud kita bisa berubah jadi seperti mereka?"
"Tadi katanya kita harus menyamar biar mereka gak tau siapa kita, ya udah hanya ini yang bisa gue lakuin Mbak!"
"Gue bilang cuma nipu mereka, supaya mereka gak bisa lihat wujud kita. Tapi ya sudahlah, dengan begini kita malah lebih leluasa membaur dengan mereka. Meski begitu kita harus tetap berhati-hati Ran!"
__ADS_1
Dengan memantapkan hati, kami sama-sama melangkahkan kaki melewati beberapa sosok yang sedang berjaga di depan gapura besar dengan hiasan kepala raksasa di atas puncaknya. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, dan secara anehnya kami dapat memahami dan menjawab pertanyaan sosok itu. Entah dimana kami harus mencari Wening dan Pramono, karena kemungkinan saat ini Pak Jarwo dan Mbok Genuk sedang melawan makhluk gaib peliharaan Pak Warto. Samar-samar aku melihat seorang lelaki muda di ikat rantai besi. Aku memperhatikan dengan seksama, siapakah orang dibalik penutup kepala yang menutupi wajah itu. Aku melangkah menghampiri lelaki itu, tapi Mbak Ayu menghentikan ku. Ia melarang ku berbuat gegabah, dan menarik tangan ku menjauh dari sana. Mbak Ayu berkomunikasi melalui batin, meminta ku untuk melihat keadaan sekitar terlebih dulu sebelum kami melakukan sesuatu. Karena jika kami sampai tertangkap, akan menyulitkan kami berdua untuk menghadapi semua makhluk yang ada di alam ini. Akhirnya kami kembali berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap dan gersang. Ada berbagai pasukan yang berjaga di sepanjang lorong, mereka membawa tombak berapi di ujungnya. Nampaknya tempat ini benar-benar dijaga sangat ketat, jika sampai kami salah mengambil keputusan, kami bisa tertangkap dan terpaksa melawan semua makhluk yang ada disini. Pantas saja Mbak Ayu melarang ku berbuat gegabah, dan melihat situasi terlebih dulu. Semoga saja kami dapat menemukan petunjuk dimana keberadaan Wening dan juga Pramono. Meski sebenarnya kami tak harus menolong Wening, tapi rasa kemanusiaan lah yang membuat kami terpaksa menyelamatkan nya.