Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 132 KAFAN BERNODA DARAH.


__ADS_3

Setelah diskusi panjang bersama Mbak Ayu dan Mas Adit. Kami mencapai kesepakatan untuk mengorek informasi dari Tante Ajeng. Dan yang bisa melakukan nya hanya Mas Adit sebagai anggota kepolisian. Ia pergi ke ruangan Tante Ajeng seorang diri, sementara aku dan Mbak Ayu menunggu diluar ruangan.


Beberapa petugas masih berjaga di depan ruangan khusus, dimana Ari sedang dirawat dengan tangan terborgol. Kami menunggu Mas Adit sudah hampir tiga puluh menit, dan ia belum keluar dari ruangan Tante Ajeng. Sampai akhirnya seorang petugas mendatangi nya, dan ia pergi tergesa-gesa tanpa berpamitan pada kami.


"Lah malah pergi gitu aja, gimana sih Adit! Masak kita nunggu tanpa hasil disini, coba lu tanya petugas yang lain deh Ran!" Pungkas Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang.


Aku bangkit berdiri mengacungkan jari jempol pada Mbak Ayu. Lalu bertanya pada petugas jaga, kemana perginya Mas Adit. Dan petugas memberitahu jika Mas Adit dipanggil oleh komandan nya. Karena ada urusan yang sangat penting dan mendesak.


"Pulang aja dulu yuk Mbak, Mas Adit lagi ketemu komandannya. Sepertinya dia lagi sibuk, ntar juga ngasih kabar ke kita."


Disaat kami akan melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, terlihat Dokter dan beberapa perawat berlarian ke sebuah ruangan. Ternyata ada pasien yang kritis, dan membutuhkan penanganan.


"Loh Mbak itu pocong ngapain keluar dari ruangan itu? Jangan-jangan pocong itu udah nyelakain pasien lagi!" Kataku seraya menepuk pundak Mbak Ayu.


Kami langsung mengikuti kemana pocong itu pergi. Ia berdiri mengambang di sudut ruangan gelap. Ternyata ia baru saja mendatangi Edi, dan lelaki itu ketakutan sampai jarum infus yang menempel di tangan nya menusuk lebih dalam ke tubuhnya. Hingga darahnya bercampur dengan cairan infus, dan kondisi nya kritis kehilangan banyak darah.


"Daripada kau melakukan itu, lebih baik kau beritahu saja dimana jazadmu saat ini. Aku akan membantumu terlepas dari ikatan yang menyiksa jiwa mu itu."


Sosok pocong itu hanya diam menundukkan kepala nya. Ia menganggukan kepala bersedia memberitahu letak jasadnya dikuburkan. Lalu Mbak Ayu menunjukan foto Tante Ajeng yang ada di ponselnya.

__ADS_1


"Coba kau lihat baik-baik, apa dia adalah salah satu anggota sekte sesat yang telah membunuhmu?"


Pocong Dinar menggelengkan kepala, membuat kami kecewa dengan jawabannya. Aku sudah menduganya, jika Dinar pasti tak akan mengenali wajah Tante Ajeng. Karena sewaktu ia memberikan penglihatan nya padaku, aku sama sekali tak melihay wajah Tante Ajeng di antara banyaknya orang disana. Mungkin ia bersembunyi di balik jubah penutup kepala. Dan satu-satunya orang yang yang tak terlihat wajahnya adalah sang pemimpin anggota. Tapi aku juga tak bisa menuduh Tante Ajeng tanpa bukti. Hal seperti ini justru membuatku frustasi, karena batin ku mengatakan jika Tante Ajeng memiliki keterikatan dengan para anggota nya termasuk Edi dan Ari. Tak lama terdengar suara brangkar yang didorong, nampaknya itu adalah para perawat yang berlarian ke ruangan Edi. Dan dibelakangnya ada jiwa tanpa raga yang mengikuti dari belakang. Mbak Ayu membulatkan kedua matanya, dan mengatakan jika itu adalah jiwa Edi. Ternyata ia sudah tiada, dan jiwa nya masih berusaha memasuki raganya kembali.


"Makhluk seperti mereka terkadang ada yang tidak bisa menerima takdir, makanya kayak gitu Mbak. Paling sebentar lagi dijemput malaikat izrail."


"Emang malaikat nya kena macet ya Ran, kok sampai telat bawa makhluk keji macam dia!"


"Entahlah, gue belum pernah ketemu malaikat. Jadi gue gak tahu kena macet atau enggak, kalau lu mau tahu tunggu giliran aja Mbak."


Plaak.


"Emang lu kata gue udah mau mati apa!"


"Eh bentar Mbak, Mas Adit telepon nih." Kataku seraya menerima panggilan telepon itu.


"Ran. Kau dan Mbak Ayu kemana? Di kost cuma ada anak baru, aku sudah di lokasi kebun belakang kost kalian nih. Tadi pelaku udah ngasih tahu lokasinya, tapi kami tetep butuh bantuanmu buat nyari lokasi yang tepat. Kami udah lepasin anjing pelacak, tapi sepertinya kurang efisien. Karena tuh jasad udah lama, pasti udah gak meninggalkan bau. Pasti anjing pelacak akan kesulitan mencari keberadaan mayatnya. Kau bisa kesini sekarang gak?" Tanya Mas Adit di seberang telepon sana.


"Oh oke Mas, kami segera otewe kesana. Tunggu ya!" Jawabku seraya menutup panggilan telepon itu.

__ADS_1


Aku meminta pocong Dinar pergi ke kebun tempat jasadnya berada, supaya aku lebih mudah mengetahui dimana lokasi kuburan nya. Sementara aku dan Mbak Ayu langsung naik taksi kesana. Tak ku hiraukan jiwa tanpa raga Edi, ia pantas mendapat kematian. Meski secara tak langsung pocong Dinar yang menyebabkan kematiannya.


Disepanjang perjalanan, Mbak Ayu terus membahas Om dan Tante nya itu. Menurutnya, keduanya kecewa tak mendapatkan apa yang mereka mau. Dengan mewarisi ilmu Leak peninggalan keluarganya, dan mereka mengikuti ajaran sesat untuk mendapatkan apa yang mereka mau.


"Mungkin aja sih Mbak, masak tiba-tiba Om Dewa menghilang tanpa jejak. Sementara Tante Ajeng selalu penuh teka-teki, ia pergi dengan alasan mengantarkan Ibunya Agus ke desa. Tapi setelah itu ia tak pernah kembali, dan tahu-tahu datang mengambil semua barang-barang nya. Meskipun dia tahu kalau rumah itu bakal jadi hak milik lu, gak wajar aja kalau dia pergi tengah malam gitu. Dan alasannya gak logis menurut gue, masak karena gak mau di omongin tetangga." Ucapku dengan menyenderkan kepala di jok mobil.


"Makanya itu Ran, kalau yang Om Dewa itu kan, kita sekilas kayak ngelihat raut wajahnya pas di gedung terbengkalai. Bahkan di rekaman video juga sekilaa kelihatan kan, sampai Adit aja ngira itu adalah Om Dewa. Tapi karena hanya sekilas, kita jadi gak bisa membenarkan kalau itu emang dia."


Tanpa sadar taksi yang kami tumpangi sudah sampai di tujuan. Karena membahas banyak hal, kami sampai tak sadar kalau sudah sampai di lokasi. Setelah membayar ongkos, kami bergegas ke kebun belakang kost. Heni yang penasaran dengan banyaknya polisi di luar rumah, sedang berdiri di depan pagar dengan Leni. Rupanya ia takut di kost sendirian, dan meminta Leni menemani nya.


"Mbak ada apa sih sebenarnya, gue sampai takut loh sendirian!" Tanya Heni berlari mendatangi kami.


"Ada kasus pokoknya, kalian masuk aja ke dalam. Karena yang gak berkepentingan dilarang masuk, dan kita emang harus ada disana buat ngasih petunjuk. Besok kita kasih tahu, oke!" Jawab Mbak Ayu pada mereka.


Nampak pocong Dinar sudah menanti kedatangan kami. Ia berdiri mengambang di dekat semak-semak. Astaga. Aku benar-benar tak suka melihat wujudnya. Apalagi di kegelapan malam seperti sekarang. Setiap kali melihat wujudnya dengan kafan bernoda darah itu, rasanya aku teringat kematian yang mengerikan. Seakan malaikat baru saja menyiksa nya dari alam kubur.


"Ngapain sih Ran pake nundukin kepala lihat tuh pocong?" Mbak Ayu keheranan melihat tingkahku yang tak biasa.


"Gak apa-apa kok Mbak, lu duluan sana ngikutin pocong itu. Gue tunggu kalian sampai di tempat yang agak terang. Tuh polisi udah kasih lampu penerangan, supaya proses penggalian tanah lebih gampang."

__ADS_1


Aku sengaja membiarkan pocong itu mendahului ku, terkadang aku memiliki trauma jika melihat bentuknya yang mengingatkan ku pada kematian.


__ADS_2