Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 145 PERMAINAN BARU?


__ADS_3

Malam pun berlalu dengan cepat sinar matahari menerobos masuk melalui celah dinding. Mbak Ayu lebih dulu bangun, lalu membangunkan ku. Sepertinya kami semua langsung terlelap karena kelelahan.


"Loh Heni kemana Ran?" Mbak Ayu terkejut begitu melihat Heni tak ada di kamar bersama kami.


Aku langsung bangkit dari tidurku, memandang ke segala arah. Tak ada tanda-tanda keberadaan nya. Tanpa basa-basi Mbak Ayu langsung pergi ke kamar Heni, ia berkali-kali mengetuk pintu kamarnya. Sampai akhirnya pintu itu sedikit terbuka. Keduanya sama-sama terkejut ketika saling melihat satu sama lain.


"Kampret lu Hen! Ngagetin gue aja sih!" Seru Mbak Ayu seraya memegangi dadanya.


Aku menahan tawa melihat ekspresi wajah keduanya. Heni terkejut bahkan sampai menjatuhkan buku-buku yang ada di tangannya.


"Gue tuh kesiangan Mbak bangun nya, ini aja cuma cuci muka sama gosok gigi. Eh lu datang gak ada suaranya, tahu-tahu buka pintu kamar gue. Kan gue jadi parno sendiri gegara lihat gambar korban kecelakaan." Pungkas Heni seraya berjongkok mengambil semua buku-buku nya.


"Kirain lu pergi dari rumah ini!" Celetuk Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.


"Lah emang gue mau pergi kan Mbak. Gimana sih lu!" Sahut Heni mengaitkan kedua alis mata.


"Ya udah sono buruan pergi, kalau ada kabar tentang Leni kasih tahu kita ya."


Heni melangkahkan kakinya dengan mengangkat ibu jari nya. Aku mengajak Mbak Ayu untuk duduk di teras depan kamar, untuk mengobrol sebentar.


"Semalam gimana kata Mbak Fina, Heni ada gelagat aneh gak?"

__ADS_1


"Gak ada yang aneh sih menurut Fina, si Heni sibuk di depan laptopnya. Bahkan beberapa kali hape nya bunyi malah di diemin sama Heni. Katanya dia lagi berantem sama pacarnya, dan gak mau terima telepon."


"Apa Mbak Fina bisa dipercaya omongan nya? Secara dia kenal deket sama Heni dan keluarga nya."


"Semoga aja sih bisa Ran, justru karena gue tahu mereka akrab. Makanya gue pura-pura nya hawatir ninggalin Heni sendiri, dan minta si Fina awasin Heni. Sebelumnya Fina datang sama temen-temen nya, nah pas udah mau pulang dia gabung sama gue. Makanya gue tahu mereka kayak akrab, ya udah gue minta Fina buat nemenin Heni disana!"


"Okelah, kita pantau aja ke depannya gimana. Soalnya kita gak bisa nuduh Heni tanpa bukti yang kongkrit. Karena gue dapat hak istimewa buat meliburkan diri, habis ini gue mau jenguk Om Dewa lalu ke kantor polisi buat ngasih keterangan. Oh iya sampai lupa, ntar ya Mbak gue mau kirim file ke Mbak Rika dulu. Liputan semalam bisa jadi bahan buat berita hari ini."


Aku masuk ke kamar mengambil kamera dan juga laptop. Aku langsung mengirimkan file video ke email Mbak Rika, lalu mengabarinya melalui pesan singkat, supaya dia langsung menaikan berita ke media.


"Kerjaan lu santai banget ya akhir-akhir ini, gue juga mau ijin nih gak berangkat ngajar. Gue mau fokus ke Om Dewa, gue ngerasa gak enak juga sama dia. Meski sekarang kita tahu dia juga korban, tapi kita belum bisa melihat Tante Ajeng secara langsung. Kita hanya menduga-duga kalau burung gagak itu adalah jelmaan nya!" Kata Mbak Ayu berdiri dengan melipat tangannya.


"Oke beres!" Aku menutup laptop kembali, karena pekerjaan ku sudah selesai. Berkas file sudah terkirim ke email Mbak Rika.


Mbak Ayu menepuk lengan ku, karena aku tak menggubris ucapannya.


"Apa sih Mbak, suka banget noyor gue!"


"Habisnya gue ngomong dicuekin sih. Menurut lu gagak semalam beneran Tante Ajeng bukan?"


"Seandainya masih ada Malik yang jadi penjaga gue, pasti gue tahu gagak itu Tante Ajeng atau bukan."

__ADS_1


Mbak Ayu merapatkan duduknya disamping ku, ia menanyakan kondisi Malik di alam gaib sana. Aku hanya menggelengkan kepala, tak dapat menjawab apa-apa.


"Ntar kalau gue pulang ke Desa, gue mau ketemu sama sahabat gue. Dia adik iparnya Pak Jarwo, Lala namanya. Dia punya anak di alam gaib, yang bisa gue mintain tolong jengukin Malik di alam nya."


"Wah ngeri kali ya. Gak nyangka gue, ada manusia biasa yang mau nikah sama makhluk gaib. Bahkan sampai punya keturunan juga, kok bisa sih Ran dia mau diperistri sama makhluk gaib?"


Aku mencubit lengan Mbak Ayu, lalu menjelaskan kesalah pahaman nya.


"Masalahnya bukan mau atau gak mau Mbak! Itu faktor ketidaksengajaan tauk! Dulu Lala terperdaya, makanya semua terjadi begitu saja. Tapi sekarang dia udah menjalani hari seperti orang pada umumnya. Hanya di waktu tertentu, anaknya akan datang mengunjungi nya. Alam keduanya memang berbeda, tapi ikatan ibu dan anak gak bisa terpisahkan. Dulu aja pas gue koma dan tersesat di alam berantah, anaknya Lala juga yang nemuin gue."


"Ternyata gak semua makhluk gaib jahat ya Ran. Eh btw kita harus siap-siap ke rumah sakit nih, gue mandi duluan ya!" Seru Mbak Ayu seraya berlari kembali ke kamarnya.


Dasar gak jelas, dia sendiri yang mancing obrolan, tahu-tahu pergi gitu aja. Setelah mandi dan bersiap, terdengar Mbak Ayu berteriak memanggil. Sepertinya taksi online yang kami pesan sudah sampai. Disepanjang perjalanan, kami sibuk dengan hape masing-masing. Entah apa yang Mbak Ayu scroll sedari tadi, karena aku sedang sibuk membalas pesan dari Mbak Rika mengenai urusan pekerjaan.


"Maaf kak, kita sudah sampai tujuan." Ucap sang Driver.


Padahal jarak dari rumah ke rumah sakit lumayan lama, belum lagi kemacetan di jalan. Tapi perjalanan kali ini terasa singkat, karena kami sibuk masing-masing.


"Ya udah yuk masuk, moga aja kondisi Om Dewa udah lebih baik." Ajak Mbak Ayu seraya menarik tanganku.


Sesampainya di ruang kenanga, kami belum di ijinkan masuk oleh suster. Karena masih ada Dokter visit. Nampak kedua tangan Om Dewa terbungkus perban, dan menurut suster Om Dewa kekurangan darah. Stok di rumah sakit masih kosong, menunggu dari PMI. Tak lama Dokter datang dan menyapa kami. Ia menjelaskan jika kondisi Om Dewa sudah stabil, tapi ia tetap membutuhkan transfusi darah. Sepertinya golongan darah Mbak Ayu tak sama dengan Om Dewa. Setelah Dokter pergi, kami langsung menemui Om Dewa. Ia masih tergeletak di atas ranjang, dengan kondisi lemah.

__ADS_1


"Maaf ya Om, bukannya Rania gak percaya sama Om Dewa. Tapi Rania mau tahu, kenapa Om Dewa bisa pergi dari rumah, dan berakhir menjadi tumbal persembahan para sekte sesat itu?"


Mbak Ayu mengajukan pertanyaan yang sama dengan ku. Ia juga penasaran, bagaimana caranya Om Dewa bisa meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan kami. Meski kondisinya masih lemah, Om Dewa berusaha bangkit dan duduk dengan menyenderkan tubuhnya. Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba raut wajah Om Dewa terlihat ketakutan. Ia menjerit-jerit meminta pengampunan. Sontak saja aku dan Mbak Ayu langsung melihat ke berbagai arah, berusaha mencari seseorang yang ditakuti Om Dewa. Karena sejak ia menjerit ketakutan, pandangan matanya mengarah ke arah jendela di samping taman ruangan itu. Dengan cepat, Mbak Ayu memutuskan berlari keluar untuk melihat siapa yang ada diluar sana. Batinku di dalam hati mengatakan, jangan-jangan di tempat ini ada mata-mata para sekte sesat itu


__ADS_2