
Aku dapat melihat ke enam mahasiswa itu berkumpul kembali di depan ruang rektor. Mereka tak di ijinkan kembali ke rumah meski hanya untuk mengambil pakaian saja. Apapun yang wanita itu ucapkan, selalu didengar dan dipatuhi oleh semuanya. Mereka seakan terhipnotis dengan ucapan sang wanita misterius. Wanita bergaun hitam mengenakan kerudung hitam yang menutupi kepala dan wajahnya. Aura wanita itu dipenuhi energi hitam yang sangat pekat. Apapun perkataan yang ia ucapkan, seakan menjadi perintah bagi mereka yang ada di dekatnya. Dengan intruksi wanita tersebut, ke enam mahasiswa diminta mengikuti nya ke parkiran mobil. Dan mereka semua akan bersama-sama pergi ke Panti jompo yang dikelola wanita misterius itu.
Disepanjang perjalanan tak ada satupun dari mahasiswa itu yang saling berbicara, bahkan tak jauh dari mereka meninggalkan kampus, ke enamnya tertidur pulas di dalam mobil. Aneh, kenapa aku merasa wanita itu memang sengaja mengincar mereka semua, kenapa seakan hanya ke enam mahasiswa itu saja yang terpilih untuk ikut bersama nya. Sebenarnya ada misteri apa dibalik semuanya. Sampai saat ini, aku belum bisa melihat dengan jelas wajah si wanita misterius. Ia hanya duduk di depan seraya mengemudikan mobil, dan sesekali ia menyeringai penuh kepuasan. Tapi tiba-tiba mata batin ku buyar, dan Sintia menjerit histeris ketakutan. Aku pun kembali ke alam nyata, melihatnya membulatkan kedua mata ke sudut ruangan. Nampak sosok hitam menembus tembok ruangan, sosok itu langsung melesat pergi begitu aku melihatnya. Tak lama Mbak Ayu dan seorang perawat datang, mereka panik mendengar suara teriakan dari dalam ruangan. Kemudian sang perawat memberi suntikan penenang, dan perlahan Sintia melemah terbaring di atas brangkar.
"Sebenarnya ada apa sih Ran?"
"Kayaknya ada yang gak beres Mbak, ada sosok lain yang mengincar nyawa Sintia."
"Jadi seriusan ada yang gak beres dengan Panti jompo yang diceritakan Sintia tadi?"
"Iya Mbak, tapi kan kita gak bisa telusuri lebih dalam lagi. Kita sama-sama ada tanggung jawab pekerjaan. Meski gue pengen banget bantuin dia, mungkin next time aja."
"Duh gimana ya Ran! Gue juga gak tega sih lihat Sintia, tapi tanggung jawab kita sama pekerjaan juga gak bisa diabaikan. Gimana kalau kita bantu dia pas ada waktu senggang aja?" Tanya Mbak Ayu seraya menaikan alis matanya.
"Ya udah, gitu aja kali Mbak. Soalnya gue udah terlanjur penasaran juga, kemana hilangnya ke lima mahasiswa lainnya!" Jawabku dengan menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
"Maksdunya Sintia gak sendirian? Terus kemana teman-temannya yang lain Ran?"
"Gue belum lihat apapun lagi Mbak, soalnya tadi Sintia histeris begitu melihat sosok hitam yang lihatin dia dibalik tembok sana. Gue gak bisa pakai mata batin tanpa Sintia sebagai perantaranya!"
Ceklek.
Mas Adit masuk ke dalam ruangan bersama petugas polisi. Petugas tersebut memperbolehkan aku dan Mbak Ayu untuk pulang, sementara Mas Adit masih harus berada disana sampai kondisi Sintia benar-benar pulih. Aku menjelaskan pada Mas Adit, jika ada kemungkinan kondisi Sintia akan lebih buruk lagi, jika tak ada orang yang paham dengan dunia gaib menolongnya. Kali ini tanpa menjelaskan dengan detail, Mas Adit langsung mengerti dengan kecemasan ku.
"Besok setelah aku berbicara dengan Sintia, aku akan ceritakan lebih jelas nya gimana. Baru deh setelah itu aku sama Mbak Ayu balik ke Jakarta."
"Yaa gimana lagi Mas, urusan pekerjaan gak bisa ditunda lagi. Tapi kalau ada waktu senggang InsyaAllah kita pasti bantu dia kok."
Kami semua bermalam di rumah sakit, menunggu pihak keluarga Sintia datang. Dan begitu adzan subuh berkumandang, aku bersama Mas Adit memutuskan untuk shalat bersama di mushola. Setelah kami kembali ke ruangan Sintia, perawat memberitahu jika keluarga Sintia sudah datang. Aku bersama Mas Adit menjelaskan kronologi kecelakaan, dan pihak keluarganya bahkan bingung, karena Sintia tiba-tiba menghilang setelah berpamitan pergi ke kampus. Sesuai dengan penglihatan ku kemarin, jika ke enam mahasiswa yang pergi ke Panti jompo itu tak pernah meminta ijin dari orang tuanya. Semoga saja kelima mahasiswa lainnya dalam kondisi baik-baik saja. Karena aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaan orang tua mereka, jika sampai anak-anak mereka kenapa-napa. Aku menunggu diluar ruangan bersama Mbak Ayu, sementara Mas Adit menemani keluarga Sintia.
"Dek. Boleh saya bicara sama kalian sebentar?" Ucap Ibunya Sintia dengan wajah sendu.
__ADS_1
Aku dan Mbak Ayu saling memandang, kami merasa aneh karena tiba-tiba Ibunya Sintia ingin berbicara dengan kami. Akhirnya aku pun mempersilahkan si Ibu untuk berbicara, dan ia pun menanyakan perihal apa yang aku lihat melalui batin. Aku hanya menjelaskan sedikit hal yang aku lihat tadi, tapi si Ibu malah mempertanyakan nama wanita misterius bergaun hitam yang datang ke kampus Sintia.
"Maaf Bu, tapi saya belum melihat wajah wanita tersebut. Jadi namanya juga saya gak tau, karena saya hanya bisa melihat kejadian itu hanya dengan bantuan Sintia. Tapi melihat kondisi mentalnya saat ini, saya gak bisa melakukan penelusuran lebih lanjut. Kasihan Sintia, karena ketika dia berusaha mengingatnya ada sosok gaib yang datang untuk mengganggu nya. Justru itu membuat saya cemas, kalau sosok itu akan terus mengganggu Sintia."
Hanya itu yang bisa ku katakan pada beliau, tapi si Ibu malah terlihat gelisah. Nampaknya ia tak terkejut mendengar penjelasan dariku. Apa mungkin ia juga mengerti dengan dunia gaib yang ku bicarakan.
"Ada apa Bu, kenapa Ibu jadi diam?" Tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.
"Sa saya hanya teringat sesuatu saja Dek. Tapi kalau bisa, tolong minta makhluk gaib itu untuk tidak mengganggu anak saya lagi Dek. Kabar ditemukannya Sintia sudah sampai ke pihak Universitas, dan saat ini para orang tua mahasiswa yang hilang itu sedang menuju kesini untuk melakukan pencarian. Saya sangat berterima kasih pada kalian karena sudah membawa anak saya ke rumah sakit. Karena kalau tidak, Sintia tidak mungkin ditemukan secepat ini." Kata si Ibu berlinang air mata.
Entah kenapa aku merasa Ibunya Sintia mengetahui sesuatu, tapi ia sengaja diam. Setelah itu aku memutuskan untuk menemui Sintia untuk berpamitan, dan memberikan nomor ponselku dan juga Mbak Ayu.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat hubungi kita ya Sin. InsyaAllah kita akan tetap bantu lu buat nemuin temen-temen lu. Tapi kita gak bisa leluasa bantu, karena emang ada pekerjaan yang harus di urus. Sore ini kita balik naik travel ke Jakarta, ingat pesan gue. Banyakin ibadah dan doa jangan sampai putus, kalau lu emang gak mau sosok hitam yang pernah lu lihat ngusik hidup lu lagi. Oke?"
Sintia hanya menganggukkan kepala, nampak matanya berkaca-kaca seraya menggenggam erat tangan ku. Aku dapat merasakan ketakutan masih menguasai dirinya, apalagi setelah ini akan banyak orang yang akan menginterogasi nya. Semoga saja Sintia dapat menguatkan mental dan batinnya, sampai aku dan Mbak Ayu memiliki waktu untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di Panti Jompo Muara Hati.
__ADS_1