Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 153 PERTEMUAN.


__ADS_3

Sesampainya di Desa, semua orang sudah menantikan kedatangan kami. Nampak dua perempuan yang paling ku rindukan berdiri paling depan di antara yang lainnya. Mama bersama Bude Walimah memeluk ku dengan penuh kerinduan. Terlihat raut wajah sendu Bude Walimah. Ia mengecup kening ku, dan mengusap rambutku dengan berlinang air mata.


"Udah ya Bude, jangan nangis lagi! Rania tahu semua ini terlalu berat untuk dihadapai. Tapi kita harus sama-sama tegar."


Aku menyeka air mata Bude, dan memintanya untuk tersenyum kembali. Mbak Ayu juga menghibur Bude, lalu memeluk nya. Aku menoleh ke berbagai arah, tak ku lihat Wati dimanapun.


"Kau cari apa Nak?" Tanya Mama seraya memeluk ku.


"Wati dimana Ma?"


"Dia ada di dalam, sepertinya Wati kurang enak badan."


"Kalian masuk saja ke dalam, biar Papa yang membawa barang-barang ke dalam."


Kami semua masuk ke dalam rumah, banyak sekali tetangga yang sedang berkumpul untuk membuat berbagai macam makanan. Mereka semua menyapa ku dengan hangat. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan jika nasib ku lebih beruntung daripada Wati.


Kreaaat.


Suara derit pintu memecah kesunyian. Bude mengajak ku untuk ke kamar Wati. Ia sedang terbaring di atas ranjang dengan memejamkan kedua matanya.


"Raniaaa. Kau sudah datang? Padahal aku sudah memintamu tetap di kota. Kenapa kau tetap ingin pulang hanya untuk melihat hal yang tak seharusnya kau lihat." Ucap Wati seraya bangkit dari ranjangnya.


"Kau tak bisa sekejam itu padaku Wati. Aku datang bukan untuk menyaksikan penderitaan mu. Tapi aku ingin berbagi duka denganmu. Bukankah aku bisa selalu ada di dekatmu untuk melewati masa-masa sulit ini. Maaf karena tak bisa membantu apapun huhuhu." Aku terisak dengan hati yang sangat pilu.


Entah kenapa aku tak tahan melihat raut wajah Wati. Tatapam matanya kosong, dengan raut wajah yang dipenuhi duka. Bude menghampiri kami, lalu ia memeluk kami bersamaan.

__ADS_1


"Kalian berdua adalah anak-anak yang baik. Kita memang sudah seharusnya menghadapi situasi sulit ini bersama. Dan kau Wati, sudah berulang kali Ibu ingatkan. Jika setelah ini hidupmu akan berubah, entah jadi lebih baik atau lebih buruk Ibu tak tahu itu. Yang pasti, kita semua akan selalu ada untukmu. Jadi berbagilah apapun yang kau rasakan mulai saat ini. Jangan pendam apapun sendiri, bisa to Nduk?" Tanya Bude Walimah seraya menyeka air mata Wati.


"InsyaAllah Bu, Wati akan mendengar nasehat Ibu." Jawabnya langsung memeluk Bude Walimah.


"Ya sudah, kalian ngobrol berdua dulu. Ibu akan menunjukkan kamar untuk Ayu!"


Wati menceritakan banyak hal padaku, jika calon suaminya sebenarnya berwajah tampan. Hanya saja ia sedikit cacat mental, dan agak kekanak-kanakan.


"Tapi kau tenang saja Ran, aku masih bisa mengatasinya. Aku hanya sedikit takut saja membayangkan kehidupan pernikahan secepat ini!"


"Jadi kau sudah melihat calon suami mu? Lantas seperti apa keluarganya? Apa mereka benar-benar melakukan ritual untuk pesugihan?"


"Dih kalau nanya satu-satu dong! Jadi dari apa yang ku lihat di rumah mereka, sebenarnya tak ada yang berbeda dengan rumah orang pada umumnya. Tapi Pak Jarwo sudah memberitahu ku supaya tenang dan tak terlalu takut. Jika mereka melakukan pesugihan, bukanlah aku calon tumbal mereka. Karena secara garis keturunan, hanya garis keturunan dari keluarga Pak Mitro saja yang bisa dijadikan tumbal. Itu artinya, jika kelak aku memiliki anak dengan suami ku. Kemungkinan anak ku lah yang akan jadi calon tumbal selanjutnya. Dan inilah yang aku pikirkan sejak aku mengetahui faktanya. Aku jadi sakit karena memikirkan kemungkinan itu akan terjadi ke depannya." Ucap Wati dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku genggam kedua tangan Wati untuk menenangkan nya. Ku katakan jika ia tak perlu mencemaskan sesuatu yang belum pasti terjadi.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Wati. Terdengar suara seseorang yang tak asing di telinga ku.


"Ish curangnya, kalian pelukan gak ajak-ajak aku ya!" Serunya dengan mengerucutkan bibirnya.


Sahabat yang sangat ku rindukan terlihat berdiri di hadapan ku dengan mata berkaca-kaca. Astaga, Lala sudah sangat berubah. Ia terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Terakhir kali aku bertemu dengannya sudah lama sekali, mungkin waktu kami lulus kuliah. Aku dan Wati sama-sama menghampiri Lala dan memeluknya.


"Lama banget kita gak ketemu, bagaimana kabarmu La?" Tanya ku.


"Aku baik Ran, saat ini aku sedang sibuk kerja di pabrik dibagian administrasi. Apa masih ada demit yang suka mengganggu mu?" Jawab Lala dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Tentu aja masih La! Kau datang kesini hanya untuk melihat Rania ya?" Celetuk Wati dengan menghembuskan nafas panjang.


Tiba-tiba Mbak Ayu masuk ke dalam kamar, ia tercengang melihat Lala bersama kami di dalam. Aku langsung memperkenalkan keduanya, dan Mbak Ayu langsung mengenali Lala dari cerita ku tempo hari.


"Oh jadi ini sahabat lu yang anaknya nolongin lu dari alam gaib ya Ran?" Mbak Ayu menyunggingkan senyumnya seraya memeluk Lala.


Nampak raut wajah Lala kebingungan, ia menatap kami bergantian.


"La, Mbak Ayu ini masih kerabat jauh ku. Dia tinggal satu kost bersamaku. Mbak Ayu sangat penasaran denganmu, makanya dia langsung mengenalimu saat aku bilang kau sahabat ku."


"Pasti Mbak Ayu penasaran karena aku memiliki anak dari alam gaib ya?" Ucap Lala tersenyum simpul.


"Hmm maaf ya La, gue memang penasaran tapi gue gak ada maksud nyinggung lu kok."


"Udah udah gak usah bahas hal-hal gaib lagi! Kalian jauh-jauh datang kesini buat aku kan? Yuk kita ke depan, ngobrolnya sambil makan. Pokoknya malam ini aku mau tidur barengan sama kalian semua, oke?" Celetuk Wati seraya mengangkat ibu jarinya.


Kami semua hanya menganggukkan kepala setuju dengan permintaan Wati. Nampak ia sedang berusaha tersenyum untuk menyembunyikan duka nya. Tiba-tiba Pak Jarwo mendatangi ku, ia ingin berbicara empat mata denganku.


"Nduk, apa kau tahu jika kedatangan mu kesini dipantau oleh seseorang?"


"Sebenarnya Rania gak tahu Pak, tapi Rania sadar kalau ada yang mengawasi. Karena sebelumnya Rania dan Mbak Ayu sedang ada masalah dengan Tante Ajeng."


"Aku tahu Nduk, tapi rencanamu memulangkan Dewa ke tempat asalnya juga beresiko. Kau tahu jika Dewa juga diincar oleh Calon Arang. Sekalipun dia terbebas dari ancaman istrinya sendiri. Nyawanya juga belum tentu selamat sesampainya di Bali. Dewa telah menghianati para pengikut Leak, jika mereka tahu keberadaan nya di Bali, nyawa Dewa masih tetap terancam. Dan kalian tak akan bisa berbuat apa-apa!"


Tak terpikirkan olehku, jika Om Dewa akan terus terkena masalah meski ia telah meninggalkan Pulau Jawa. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang.

__ADS_1


"Sudah Nduk gak usah terlalu banyak berpikir, biarlah Dewa menghadapi takdirnya sendiri. Apapun keadaannya, mungkin itu yang terbaik untuk nya."


Aku hanya diam tak mengatakan apa-apa. Apa yang sedang Pak Jarwo ingin sampaikan ya, kenapa tiba-tiba ia membahas tentang Om Dewa. Jangan-jangan akan terjadi sesuatu padanya.


__ADS_2