Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 97 AWAL BARU.


__ADS_3

Pak Bos besar melambaikan tangannya memanggilku. Entah kenapa ia ada di Hotel ini juga, semoga aja Pak Bos tidak memberiku tugas lagi. Karena hari ini aku hanya ingin memanjakan diriku.


"Selamat sore Pak Bos." Sapaku diikuti Mbak Ayu yang ikut menyapa.


"Kebetulan kau ada disini, saya ada sedikit tugas untukmu. Anggap saja ini kerja lembur dari saya, nanti saya akan memberikan bonus untumu." Ucap Pak Bos dengan wajah tegang.


Aku menggaruk kepala yang tak gatal, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Mbak Ayu dan mengerjakan tugas dari Pak Bos.


"Maaf Pak, tapi hari ini saya sedang off, dan sengaja quality time sama saudara saya."


"Tidak apa-apa, tak masalah jika kau bersama saudaramu. Karena hanya kau saja yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini."


"Memangnya ada apa Pak?"


"Lebih baik kita duduk dulu, akan saya jelaskan semuanya."


Akhirnya kami semua duduk di Lobby Hotel, dan mendengarkan penjelasan Pak Bos. Menurutnya ada yang janggal di Hotelnya, karena sudah hampir sepekan ini. Ada aktifitas astral di kamar VVIP President Suite, kamar yang paling mewah di Hotel itu, dan hanya ada satu kamar saja. Karena ada kejadian gaib disana, kamar itu tak bisa disewakan ke tamu yang ingin check-in di kamar itu. Pihak Hotel mengaku cemas, jika citra Hotel nya buruk, kalau ada yang menginap di kamar itu lalu mengalami kejadian gaib.


"Terkadang ada benda-benda yang bergerak dengan sendirinya. Air shower yang menyala dan mati sendiri. AC kamar juga seperti itu, pegawai yang membersihkan kamar setiap harinya sampai ketakutan. Saya sendiri juga mengalami kerugian, karena tidak bisa menyewakan kamar dengan fasilitas nomor satu disini. Padahal sebelumnya, tak pernah terjadi hal-hal semacam itu. Bahkan kali ini tak hanya di kamar VVIP itu saja yang menjadi horor. Di beberapa tempat lain di Hotel juga begitu, bahkan siang tadi ada keributan di kolam renang. Karena ada gelombang air di dalam kolam renang, seperti ada seseorang di dalamnya. Tapi tak ada siapapun di dalam kolam renang, sampai semua tamu tak berani berenang. Beruntung nya kejadian itu hanya terjadi sesaat saja."


Penjelasan Pak Bos membuat aku dan Mbak Ayu tercengang. Karena tadi siang kami berada di dekat kolam renang, dan tak melihat kejadian yang dimaksud Pak Bos.

__ADS_1


"Coba saja kalian bayangkan, di dalam kolam renang yang tak ada orang di dalamnya, seakan ada aktifitas orang yang sedang berenang, gimana semua orang tidak merasa heran dan ketakutan."


"Kebetulan tadi kami di dekat kolam renang Pak, tapi kami gak lihat apa-apa sih. Ya gak Mbak?"


Mbak Ayu menganggukan kepala dan sependapat denganku. Karena itulah Pak Bos memintaku untuk menelusuri seluruh sudut Hotel ini. Termasuk kamar VVIP yang ada di lantai enam.


"Saya akan memberikan mu kartu akses yang dapat digunakan untuk memasuki semua ruangan di Hotel ini. Yang paling penting adalah kamar kelas satu di President Suite itu. Lihatlah dan cari tahu, apa yang membuat semua pegawai saya ketakutan kalau membersihkan kamar itu. Saya ada meeting di lantai tiga belas, setelah meeting selesai, kita bertemu lagi di Lobby ini saja. Saya ingin tahu, ada masalah apa sebenarnya. Apakah benar ada makhluk tak kasat mata disana."


Setelah memberi penjelasan padaku, Pak Bos beranjak pergi. Sementara Mbak Ayu terlihat begitu bersemangat, untuk melihat kamar kelas satu yang ada di Hotel bintang lima itu.


"Yuk buruan kita lakukan penelusuran, jarang-jarang loh gue bantuin lu!"


Triiing.


Pintu lift terbuka, dari dalamnya keluar dua orang lelaki dan satu perempuan yang kami lihat di kolam renang tadi. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih dan tas jinjing warna hitam. Perempuan itu menyapa kami dengan menyunggingkan senyumnya, dan kami membalas senyumannya. Aku dan Mbak Ayu masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka enam. Setelah pintu lift terbuka, kami segera berjalan ke arah kamar utama. Tertera angka Seratus dua puluh satu dengan logo emas VVIP.


"Sini biar gue yang masukin kartu nya, tapi sebelum masuk ke dalam, kita ketuk pintu nya dari luar dulu. Siapa tahu ada yang bales ketukan pintu ini dari dalam. Itu kan artinya emang ada yang ganjil di dalam kamar ini. Ya gak Ran?" Tanya Mbak Ayu dengan menaikan alis matanya.


"Ada-ada aja sih Mbak, ya udah sono ketuk pintu nya!" Jawabku menghembuskan nafas panjang.


Tok tok took.

__ADS_1


Hening. Tak ada suara apapun dari dalam ruangan itu. Beberapa saat kemudian, seorang pegawai Hotel menyapa kami. Dan memberitahu supaya kami langsung masuk saja, karena tak ada pengunjung yang menginap di dalam.


"Mbak ini yang diminta Pak Bos untuk mengecek kamar VVIP kan? Perkenalkan saya Wenny, yang bertugas di lantai enam ini. Mbak nya bisa langsung masuk ke dalam, saya tunggu diluar saja. Kalau ada apa-apa, Mbak bisa teriak dari dalam."


Perkataan Wenny membuatku dan Mbak Ayu mengerutkan kening, untuk apa kami harus berteriak dari dalam. Tanpa menghiraukan ucapannya, kami langsung masuk ke dalam kamar kelas satu itu. Begitu pintu terbuka, terkesan desain interior yang sangat berkelas. Kamar dengan arsitektur yang bergaya, tak ada kesan menyeramkan sama sekali. Entah apa yang membuat semua pegawai di Hotel ini ketakutan, ketika membersihkan kamar ini. Sampai-sampai pihak management Hotel tak menyewakan kamar ini, karena alasan yang tak masuk akal.


"Apanya yang serem ya Ran? Kalau disini ada demitnya pasti kita bisa lihat dong! Tapi ini gak ada apa-apa nya loh." Ucap Mbak Ayu seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mana hantu nya? Gak ada kan Ran? Lu ngelihat sesuatu yang aneh gak?"


Aku melihat ke berbagai arah, satu persatu sudut ku periksa dengan detail. Tapi aku tak menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk tak kasat mata.


Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamar kelas satu itu, dan menegur kami, karena telah lancang masuk ke dalam kamarnya.


"Loh kalian yang saya lihat di lift tadi kan?" Tanya perempuan paruh baya, yang mengaku menempati kamar kelas satu ini.


Aku dan Mbak Ayu saling menatap, kami merasa sungkan pada perempuan itu. Karena sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin. Aku langsung menjelaskan pada Ibu itu, jika kami ditugaskan oleh pemilik Hotel untuk mengecek keadaan di dalam kamar utama. Karena ada sesuatu yang harus kami pastikan. Setelah meminta maaf pada Ibu itu, aku dan Mbak Ayu bergegas keluar dari kamar kelas satu itu. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, kenapa Pak Bos gak bilang kalau kamar VVIP itu sudah ada yang menempati. Bahkan pegawai Hotel yang bernama Wenny tadi seperti keheranan, melihat kami meminta maaf pada Ibu-ibu yang menempati kamar VVIP itu.


"Dasar pegawai gak ada etikanya, masak cuma kita yang meminta maaf ke Ibu itu. Si Wenny itu malah diem aja di depan pintu!" Celetuk Mbak Ayu kesal.


Sebenarnya aku juga sedikit kesal dengan sikap acuh Wenny. Bagaimana mungkin ia bisa diterima bekerja di Hotel bintang lima ini, dengan attitude dan manner yang jelek begitu.

__ADS_1


__ADS_2