Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 59 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Aku memaksa Aurora kembali ke wilayahnya tinggal selama ini. Ia melesat menembus tembok dengan wajah sendu. Tak ku hiraukan lagi hantu kecil itu, dan ku lanjutkan langkahku ke turun. Pintu lift perlahan terbuka, aku menghembuskan nafas panjang. Semoga tak ada hal-hal ganjil lagi kali ini. Beberapa orang berdesakan masuk ke dalam lift. Aku berdiri di sudut tembok lift itu, pandangan ku teralihkan oleh sosok yang familiar di mataku.


"Loh itu kan Agus, kapan dia berangkat ke kantor ya?" batinku bertanya-tanya.


Satu persatu orang keluar ketika pintu terbuka. Ku picingkan kedua mata mencari sosok Agus yang ku lihat di dalam lift tadi. Ku lihat tombol di lift menunjukan angka tiga, entah kenapa Agus turun di lantai ini. Akupun ikut keluar lift dan melihat ke berbagai arah mencari sosok Agus yang tak dapat ku temukan keberadaan nya.


"Loh Mbak Rania ngapain disini?" tanya seorang Cleaning service.


"Eh Mas ada lihat Agus gak? itu loh kameramen yang biasa bareng sama saya. Barusan dia turun dari lift, tapi saya gak lihat dia lagi.


"Perasaan tadi yang keluar dari pintu lift perempuan semuanya termasuk Mbak Rania. Gak ada tuh Mas Agus turun kesini, lagian udah beberapa hari saya juga gak lihat dia Mbak"


"Ah masa iya aku salah lihat." batinku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Aku kembali masuk lift dan turun di lantai satu. Seorang Satpam yang memiliki penglihatan sama seperti ku menyapa. Ia menanyakan kabar karena sudah beberapa hari aku tak terlihat di kantor.


"Alhamdulillah saya baik Pak, kebetulan ini hari pertama kerja sekaligus hari bebas kerja tapi gajian."


"Wah enak ya jadi jurnalis bisa bebas tugas tapi dapat duit." sahut Pak Satpam itu.


Tiba-tiba ia bercerita, jika baru saja ia melihat rekan kerja yang sering bersamaku. Tapi dia diam saja ketika disapa, dan ngeloyor pergi naik lift gitu aja.


"Mungkin Masnya lagi sakit ya Mbak, wajahnya pucat banget sih. Mungkin aja dia emang gak denger pas saya sapa."


"Rekan kerja saya yang kameramen itu yang bapak lihat?"

__ADS_1


"Iya itu Mbak, yang suka bawa kamera kemana-mana kalau keluar ngeliput sama Mbak Rania."


"Berarti saya juga gak salah lihat dong, soalnya saya tadi sempet lihat dia di dalam lift. Tapi dia turun di lantai tiga, dan gak tahu kemana lagi. Saya emang lihat wajahnya agak beda, kaya yang lagi banyak pikiran gitu sih."


Plaak.


Mbak Rika menepuk pundakku dari belakang. Ia menegurku karena tak segera pergi menjalankan misi yang ia berikan.


"Tuh mas ojol udah nunggu di luar, sampai receptionist nelepon gue buat nanyain lu. Kalau gak gue susulin kesini, pasti lu belum jalan juga!" seru Mbak Rika seraya menunjuk ke arah luar kantor.


Aku yang merasa tak enak hati dengan mas ojol bergegas menghampiri nya. Segera ku kenakan helm di kepala, lalu naik ke atas boncengan motornya.


"Udah sesuai aplikasi ya kak?"


"Iya mas, kalau bisa lewat jalan tikus aja ya. Biar cepet sampai tujuan."


"Mas bisa tunggu saya sekalian gak? jadi nanti saya bayar dobel sekalian tips nya?"


"Oke deh kak, saya tunggu di warung kopi sini aja ya."


Aku sepakat dengan mas ojol untuk bertemu di warung kopi pinggir gang. Aku mulai bertanya pada warga sekitar dengan menunjukan foto perempuan yang bernama Cahaya Bulan. Beberapa orang yang ku tanyai mengaku tak pernah melihat perempuan itu di sekitar lingkungan mereka. Lalu aku menjelaskan jika mungkin wajah perempuan itu sudah berubah karena berjalannya waktu.


"Mungkin ini foto beberapa tahun yang lalu, kemungkinan beliau yang ada di foto ini sudah bertambah usia. Jadi wajahnya mungkin berubah. Bisa gak ibu mengingat kembali seseorang yang wajahnya mirip dengan foto perempuan ini?"


"Wah saya lupa-lupa ingat dek, soalnya kebanyakan yang tinggal disini suka pindah-pindah. Maklum saja banyak yang ngontrak rumah di daerah sini."

__ADS_1


"Hmm gimana ya, apa iya aku harus mengatakan kalau perempuan yang di foto ini pernah masuk penjara. Takutnya malah bikin nama beliau tercemar, karena kasusnya juga sudah lama pasti mereka lupa-lupa ingat." batinku dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku kembali melangkahkan kaki ke ujung gang itu. Ada seorang perempuan paruh baya berjalan tanpa alas kaki dengan menari-nari membawa boneka di tangannya. Kami saling bertabrakan hingga boneka yang dibawanya terjatuh. Hampir saja perempuan itu mengamuk dan mencekik leherku, dan beberapa warga datang menolongku. Mereka membawa perempuan itu masuk ke dalam gudang yang dipenuhi barang rongsokan.


"Loh Pak, kenapa ibu itu dibawa masuk ke gudang itu? saya gak apa-apa kok Pak, saya yang gak sengaja menabraknya."


"Aya sudah terlanjur ngamuk dek, jadi kami terpaksa mengurungnya di gudang itu supaya tak mencelakai orang lain."


"Nama ibu itu Aya ya Pak? memangnya gak ada keluarga yang mengurusnya? kenapa gak dibawa ke Rumah Sakit jiwa aja Pak?"


Bapak itu menjelaskan jika membutuhkan persetujuan keluarga untuk membawa perempuan itu ke Rumah Sakit Jiwa. Sementara ia sebatang kara di daerah tersebut.


"Maaf sebelumnya Pak, saya datang kesini untuk mencari alamat seseorang." kataku seraya menunjukan selembar foto yang ada di tanganku.


Bapak itu membulatkan kedua matanya begitu melihat foto Cahaya Bulan. Ia berbicara dengan gagap menanyakan siapa diriku yang sebenarnya. Ia meyakinkan ku untuk mengatakan yang sebenarnya, jika aku ingin mengetahui tentang perempuan yang ada di foto itu. Mau tak mau, aku terpaksa mengatakan semuanya pada Bapak itu. Supaya aku segera bertemu dengan orang yang ku cari.


"Perkenalkan Pak, nama saya Rania. Jurnalis dari Media Komputindo Indonesia. Saya ingin mewawancarai beliau, mengenai kasus percobaan pembunuhan yang pernah beliau lakukan pada beberapa tahun silam. Karena saya mendengar desas-desus di tempat kerja saya, yang dulunya adalah tempat kerja beliau juga. Kalau dulu beliau memang mengandung anak dari atasannya. Karena atasannya tak mau bertanggung jawab, beliau nekat ingin menghabisi atasannya itu. Dan sekarang atasannya itu sudah mengakui segalanya, ia mengaku bersalah dan ingin bertemu langsung dengan perempuan ini."


Nampak raut wajah Bapak tersebut berubah sendu. Ia mengusap peluh yang membasahi keningnya dengan menundukan kepalanya.


"Untuk apa orang kaya itu ingin menemui perempuan yang dicampakan nya itu. Setelah ia menghamili dan tak mengakui bayi yang di kandungnya. Semua sudah terlambat, pergi dan katakanlah pada orang kaya itu supaya tak mengganggu kehidupan perempuan malang itu lagi." ucap Bapak itu seraya membalikan tubuhnya lalu melangkah pergi.


...**Bersambung....


...Pengen istirahat karena jari terkadang tremor, tapi rasa sayang pada kalian gak sampai hati kalau mau libur nulis beberapa hari 🤧...

__ADS_1


...moga jari othor cepet normal biar semangat up nya ya. Sayang kalian semua pembaca tercintaku 💕**...


__ADS_2