
Silvia masih terus berusaha melepaskan tanganku yang menggenggam tangan hampa Petter. Ia menarik paksa tanganku supaya aku bisa terpisah dari Petter. Seketika aku dan Beny berusaha menghentikan nya sebisa mungkin, aku masih menggelengkan kepala memberi kode supaya ia tak melakukan nya. Tapi sepertinya Beny sudah kehilangan kesabaran, ia justru berteriak mengatakan pada Silvia untuk tak melakukan kebodohan itu. Dan begitu suaranya terdengar oleh semua para makhluk gaib itu, semua makhluk itu mulai bereaksi dengan mencari sumber suara Beny berasal. Mereka masih tak bisa melihat kami, karena sampai saat ini keberadaan kami masih tersamarkan karena aku masih menggenggam erat tangan hampa Petter. Sampai akhirnya Petter menarik tangan ku untuk segera pindah ke gerbong selanjutnya. Tapi sesuatu diluar dugaan terjadi, Silvia yang berada di urutan paling belakang merasa panik. Ia menarik tangannya supaya terlepas dari genggaman Beny, lalu ia berlari mendahului kami ke gerbong paling belakang. Dan tak berselang lama, semua makhluk gaib yang ada disana bisa melihat keberadaan Silvia. Para makhluk gaib itu langsung menuju ke arah Silvia dan ingin menangkapnya. Sementara Beny yang melihat kengerian itu, mendadak muncul keberanian nya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman ku, lalu berlari ke arah Silvia dan melemparkan garam pemberian Pak Imron ke arah semua makhluk gaib yang sudah hampir mengerumuni Silvia.
Kini Petter makin panik melihat kericuhan itu, ia meminta ku untuk segera berlari ke arah Beny dan Silvia. Tapi sesosok makhluk yang berjalan dengan mengesot sedang bergelayut di atas kaki ku. Entah kenapa sosok ini memegangi kaki ku, sehingga aku kesulitan untuk melangkahkan kaki.
"Petter bagaimana ini, aku tak bisa menarik kaki ku?" Kata ku berkomunikasi dengannya melalui batin.
Kemudian Petter berjongkok ke bawah, ia menggelengkan kepala pada sosok yang masih bergelayut di kaki ku. Petter melepaskan tangan hampa itu dari kaki ku, sehingga aku bisa kembali melangkah. Akhirnya aku dapat bernafas lega, dan berjalan menghampiri Beny dan juga Silvia. Beny masih berusaha menjauhkan beberapa makhluk yang ingin menarik tubuh Silvia. Ia melemparkan garam ke arah para makhluk gaib itu, tanpa memperdulikan dirinya yang sudah di tarik-tarik makhluk gaib juga. Karena keberadaan Silvia dan Beny saling berjauhan aku tak bisa langsung menggandeng keduanya bersamaan. Dan jika aku menggunakan kekuatan ku, maka para makhluk gaib yang tinggal di kereta hantu ini akan menyadari siapa diriku yang sebenarnya. Dan mereka bisa mencariku kapanpun mereka mau, itulah yang menjadi kendala bagiku. Akhirnya aku memutuskan untuk menarik lengan Beny, lalu menariknya keluar dari kumpulan makhluk gaib yang sudah mengepungnya. Kini kami berlari ke arah Silvia yang semakin berteriak histeris, karena ia ketakutan semua makhluk gaib itu sudah berada di depan mata kepalanya. Petter mendorong semua makhluk gaib itu satu persatu, tapi tubuh kecilnya tak berdaya menghadapi segerombolan makhluk gaib yang sedang beringas itu. Akhirnya aku pun sedikit menggunakan kekuatan ku, untuk menyingkirkan para makhluk gaib yang sudah menyentuh tubuh Silvia. Jeritan Silvia semakin menjadi, dan sekumpulan demit dari gerbong sebelumnya mulai berdatangan ke arah kami. Keadaan semakin tak terkendali, aku ingin menarik tangan Silvia tapi kedua tangan ku sudah menggandeng Petter dan juga Beny. Sampai akhirnya Beny menyadari kegelisahan ku, karena aku tak mungkin melepaskan tanganku dari Petter ataupun dari genggaman tangannya. Tapi Beny bertindak tidak seperti biasanya, ia melepaskan genggaman tangannya dariku. Lalu mendorong tubuhku mendekat ke arah Silvia. Beny memintaku untuk menggandeng Silvia, dan segera keluar dari pintu gerbong yang ada di belakang kami. Tapi bagaimana mungkin aku melakukannya, jika ia sendiri masih belum bersama kami.
"Pergilah lebih dulu, gue bakal nyusul kalian semua. Tenang aja gue masih ada garam penangkal kok, sebentar lagi gue juga keluar dari gerbong ini." Ucap Beny yang masih sibuk melemparkan garam ke arah makhluk gaib yang berusaha menggapainya.
__ADS_1
Aku semakin dilema, karena aku tak bisa meninggalkan Beny seorang diri disana. Ia hanya mengandalkan sebungkus garam pemberian Pak Imron. Lalu bagaimana jika garam itu habis sebelum Beny bisa keluar dari gerbong ini. Aku tak mau mengambil resiko, ku minta Petter untuk kembali menyusul Beny. Dan kami perlahan menghampiri nya, ku minta Silvia untuk meraih tangan Beny. Tapi tubuhnya masih bergetar hebat, dan ia takut untuk mengulurkan tangannya.
"Hei cepatlah kesini, sentuh tangan perempuan itu!" Seru Petter pada Beny agak kesal.
Beny terus belari berusaha mendekati kami, dan selangkah lagi ia sudah bisa menggapai tangan Silvia. Tapi langkahnya terhenti karena sosok makhluk gaib yang sebelumnya bergelayut di kaki ku, sedang berjalan mengesot dengan memegangi kaki nya. Beny kesulitan melangkah sampai akhirnya ia jatuh tersungkur.
Bruugh.
"Semua ini salah saya Pak, seandainya saya gak buat keributan disana. Pasti kami semua bisa kembali dengan selamat huhuhu." Ucap Silvia menangis sesegukan.
__ADS_1
"Tenang dulu dek, ini diminum dulu airnya." Kata Pak Imron seraya memberikan sebotol air minum yang sudah dibacakan doa.
Silvia langsung meneguk setengah botol air itu tanpa jeda. Terdengar nafasnya terengah-engah, nampaknya ia benar-benar terguncang dengan keadaan yang baru saja menimpa kami.
"Pak, tolong berikan kami saran. Bagaimana caranya supaya saya bisa kembali ke kereta hantu itu lagi. Saya ingin membawa kembali Beny Pak!" Ucap ku dengan menundukkan kepala.
"Saya sangat mengerti kekhawatiran kalian berdua. Tapi kita tunggu dulu sampai pagi tiba, karena teman kalian sudah ku bekali garam untuk menangkal para makhluk itu. Mungkin saja ia berhasil keluar dari kereta itu, jadi kalian tak usah berpikiran buruk dulu." Kata Pak Imron mengaitkan kedua alis matanya.
Entah aku harus mengikuti saran dari Pak Imron atau tidak. Karena yang aku lihat tadi, semua makhluk gaib itu sangat marah dan ingin mencelakai kami. Sementara sebungkus garam yang ada di saku jaket Beny entah masih ada atau tidak. Aku tak bisa menunggu tanpa kejelasan, karena hatiku dipenuhi rasa bersalah dan kecemasan. Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju peron, aku ingin menunggu kedatangan kereta hantu itu lagi. Tapi Pak Imron menghentikan langkahku, dan menjelaskan jika kereta hantu itu hanya beroperasi sekali jalan melewati Stasiun Bogor. Jadi sia-sia saja jika aku tetap menunggu di pinggir peron, karena kereta hantu itu tak akan lewat untuk kedua kalinya. Astaga. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tak tau bagaimana dan seperti apa kondisi Beny sekarang. Aku hanya bisa berharap dan berdoa, supaya Beny bisa keluar dari kereta hantu itu dengan selamat. Karena aku tak mau menunggu satu malam lagi, untuk mengetahui bagaimana keadaannya.
__ADS_1