
Aku sedang memperhatikan foto itu dengan serius, bahkan Silvia yang ada di samping ku ikut penasaran.
"Wening, Bening?" Kata Silvia membaca tulisan di balik foto itu, dengan nada pertanyaan.
"Kami saudara kembar, tapi sayangnya Bening udah meninggal dunia. Dia tiada bersama almarhum Ayah gue, waktu itu gue masih sangat kecil. Mungkin masih kelas 2 sekolah dasar. Kata semua orang mereka meninggal karena kecelakaan, tapi entah itu benar atau tidak. Gue juga masih meragukan nya. Jadi gini Ran, yang mau gue jelasin itu. Sebenarnya terkadang saudara kembar gue suka meminjam raga tanpa sepengetahuan gue, dan dia lakuin itu sewaktu gue tidur. Kayaknya si Bening juga ingin berteman dengan Petter. Makanya dia gunain cara itu buat manggil Petter. Makanya gue tetep minta maaf, meskipun bukan gue yang ngelakuin semuanya dengan sengaja. Karena bagaimanapun Bening gunain tubuh gue. Makanya tadi lu juga bingung bedain aura makhluk gaib dan aura manusia sewaktu melihat melalui batin lu. Gue tau tadi lu melakukan penglihatan kan, buat ngebuktiin ucapan Petter? Sorry ya Ran, gue gak ada maksud buat gaduh. Jiwa Bening masih tak bisa tenang di alamnya. Apalagi dulu almarhum Kakek gue juga sering ngasih dia sesajen. Karena beliau belum terima dengan kematian saudara kembar gue. Jadi gue harap lu mengerti, dan gak memperpanjang masalah ini lagi. Dan kalau bisa, biarkan Bening berteman dengan Petter. Karena ia sangat ingin mempunyai sahabat baik kayak lu." Jelas Wening dengan mata berkaca-kaca.
"Ini maksudnya gimana sih Wen? Lu kerasukan kembaran lu gitu? Dan dia culik sahabat hantunya Rania? Pantes aja kemarin Rania gak tenang gitu. Kalau lu udah tau semuanya, kenapa diem aja gak ngomong langsung ke Rania?" Sahut Silvia mengaitkan kedua alis mata.
__ADS_1
"Awalnya gue ragu buat ngomong ke Rania. Apalagi Bening memohon ke gue, dan dia juga meminta bantuan dari beberapa makhluk gaib di alamnya. Pasti lu udah ketemu makhluk-makhluk itu kan Ran? Mereka gak ada nyakitin Petter kok, gue udah mastiin sendiri. Bening sendiri yang ngomong dia hanya nakutin Petter, dan ngancam dia akan celakain lu. Kalau dia gak mau berteman dengan Bening. Maaf ya gue baru bisa cerita sekarang, karena gue ngerasa bersalah lihat Petter jadi takut sama gue. Kalau lu gak percaya, gue bisa panggil arwah Bening sekarang juga!" Ucal Wening dengan sorot mata tajam.
Aku masih diam, memikirkan semua ucapan Wening. Mungkin memang ada baiknya dia membuktikan ucapannya dengan memanggil arwah saudara kembarnya. Jadi aku bisa yakin, jika semua yang diucapkan nya masuk akal atau tidak. Tapi tiba-tiba Silvia menggebrak meja, ia protes jika Wening harus memanggil hantu yang pernah berbuat jahat dengan menculik Petter.
"Ntar kalau hantu kembaran lu datang, terus dia juga mau temenan sama gue gimana Wen? Gue gak mau diculik kayak Petter juga ya!" Seru Silvia bergidik ketakutan.
"Kampret lu Ran! Udah ah, jangan bahas hantu lagi, mending kita makan dulu udah tinggal setengah jam waktu istirahat kita!" Silvia mendongakkan kepala ke tembok, nampak jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 Wib.
__ADS_1
"Ya udah Wen, kita bahas lagi nanti sepulang kerja." Ucapku sebelum kami menghabiskan hidangan nasi padang yang ada di atas meja.
Di perjalanan kembali ke kantor, nampak sekelebatan bayangan yang mendahului kami. Sosok itu berhenti tepat di bawah pohon besar yang ada di depan kantor. Wajahnya tertutup rambut panjangnya yang menjuntai ke tanah. Ia mendongakkan kepalanya menatap kami dengan membulatkan kedua mata. Wajahnya sama persis dengan Wening, tapi ia agak sedikit menyeramkan karena separuh keningnya terlihat retak agak ke dalam.
"Itu Bening Ran. Sekarang lu udah lihat dia sendiri kan? Gue gak bohong Ran, dia yang pengen temenan sama Petter. Gue harap lu bisa kasih pengertian ke Petter, kalau sebenarnya Bening itu gak jahat kok. Dia hanya kesepian di alam nya, makanya dia seneng lihat lu bisa temenan akrab banget sama Petter. Bening hanya sering komunikasi sama gue, dan gak ada temen lain. Dan makhluk yang bantuin dia itu, memang sejenis makhluk yang suka sama Silvia. Jadi gue harap lu gak mikir aneh-aneh lagi tentang gue." Jelas Wening menghentikan langkahnya.
"Tapi sorry Wen. Gue gak bisa maksa Petter buat mau berteman sama saudara kembar lu itu. Apalagi nanti dia akan kembali ke alamnya bersama Mamanya. Jadi gue gak bisa bantu dia buat temenan sama Petter."
__ADS_1
Entah apa yang sedang dipikirkan Wening. Karena aku melihat ekpresi kecewa dari wajahnya. Bahkan ia mengepalkan kedua tangannya. Atau jangan-jangan dia dan kembarannya sama-sama berniat jahat, dengan kedok yang sama. Kenapa tiba-tiba saja aku merasakan aura kemarahan dari dalam dirinya. Wening dengan teka-teki nya belum bisa aku temukan jawabannya. Tapi sekarang tambah satu lagi, yang menjadi pertanyaan. Wening dan Bening, siapakah sebenarnya mereka berdua. Sepertinya aku harus benar-benar melakukan penelusuran untuk mengungkap jati diri, dan latar belakang keluarganya.