
Aku mengingat beberapa penglihatan tadi, perempuan paruh baya itu menghembuskan nafas terakhir di dalam kamar mandi. Mungkin saja ada beberapa petunjuk disana, aku pun langsung mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan sebagai barang bukti.
"Lu nyari apa lagi sih Ran? Bukannya barang bukti udah di ambil suaminya?" Tanya Mbak Ayu dengan berkacak pinggang.
"Jadi gini Mbak, kalau gue gak salah inget. Perempuan itu minta pegawai hotel buat naruh beberapa kamera tersembunyi. Nah yang kita lihat tadi kan hanya satu yang di ambil. Mungkin aja masih ada kamera lain yang tertinggal. Pokoknya kita harus cari tuh bukti, supaya kita bisa melaporkan kasus ini."
"Kenapa lu gak hubungi Adit aja sih Ran? Minta tolong dia buat selidiki kasus ini."
"Gak bisa gitu lah Mbak, tanpa ada laporan kehilangan dari pihak keluarga, mana mungkin gue bikin laporan terjadinya pembunuhan. Kecuali gue ada bukti terkait, baru deh gue berani ajuin kasus ini ke pihak yang berwajib. Lagian Mas Adit belum balik, kayaknya dia masih nunggu Sintia keluar dari rumah sakit."
Aku dan Mbak Ayu masih mencari ke semua sudut kamar mandi. Tapi sampai saat ini belum ada yang kami temukan. Barulah aku teringat pegawai hotel, meski aku bisa saja mencari dan meminta bantuannya. Tetap saja tak akan semudah itu, selain aku tak tau nama pegawai tersebut. Aku harus mencari tau sendiri, wajah-wajah pegawai hotel yang ada disana.
"Nah kan tambah ribet lagi, nyari satu barang di dalam kamar mandi aja gak ketemu. Malah harus nyari orang segala." Keluh Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
Aku dan Mbak Ayu membagi tugas untuk mencari pegawai hotel. Aku sudah bertanya ke beberapa orang dengan menyebutkan ciri-ciri pegawai yang aku maksud. Beberapa orang menyebutkan nama seseorang, tapi setelah kami menemui orang yang dimaksud, ternyata bukan orang itu yang aku maksud. Sampai akhirnya aku melihat seseorang yang mirip di penglihatan gaib ku. Ternyata ia bekerja sebagai teknisi disana, pantas saja aku tak bisa menemukan dia di dalam hotel ini. Setelah aku menemui dan menjelaskan mengenai tujuanku menemuinya, lelaki tersebut nampak terkejut. Ia sempat mengelak dan mengatakan tak mengetahui apapun mengenai perempuan yang ku sebutkan.
"Saya tau kau pasti di ancam seseorang kan? Tapi jika kau diam saja, dan saya bisa mengungkap kasus ini. Maka kau sendiri yang akan terjebak masalah!" Kataku mengaitkan kedua alis mata.
Lelaki itu diam seraya mengacak rambutnya kasar. Ia terlihat sangat frustasi, sepertinya memang benar ia berada dalam tekanan.. Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya ia mengatakan sesuatu yang sesuai dugaanku.
"Sehari setelah ibu itu menghilang, suaminya mendatangi saya. Karena ia tau jika istrinya sempat berbicara dengan saya, tapi saya tak mengatakan apapun padanya. Dia hanya meminta saya tutup mulut, dan jangan bilang ke siapapun kalau istrinya datang ke hotel untuk mencarinya." Jelas pegawai itu menundukkan kepala.
"Masalahnya sekarang ibu itu menghilang, apa kau tak merasa ada yang janggal. Bisa beritahu saya dimana saja kau meletakkan kamera tersembunyi?"
"Saya tau kau diminta ibu itu kan? Jadi tolong beritahu saja dimana, karena saya yakin terjadi hal buruk pada ibu itu. Jika kau mengungkapkan nya, saya tak akan membuatmu dalam masalah."
Dari kejauhan nampak Mbak Ayu mendatangi kami. Ia tercengang melihat orang yang kami cari sudah ditemukan. Dan secara kebetulan nampak jiwa tanpa raga si ibu dari kejauhan. Setelah berhasil meyakinkannya, akhirnya ia menyebutkan beberapa kamera yang sembunyikan di kamar. Tapi ia tak tau, apakah kamera itu masih ada di tempat yang sama atau tidak.
__ADS_1
Berbekal informasi yang diberikan lelaki tadi, aku dan Mbak Ayu kembali ke kamar. Kalau ada satu kamera yang di ambil di depan tempat tidur, berarti masih ada kamera yang diletakkan di dekat pintu masuk dan juga kamar mandi.
"Lu cari di kamar mandi lagi deh Ran, biar gue yang di pintu. Udah pusing gue nyari di kamar mandi gak ada apapun dari tadi."
Disaat kami sibuk mencari, sosok perempuan paruh baya itu datang dan memberi petunjuk. Tak lama setelah itu Mbak Ayu datang dengan membawa kamera di tangannya. Aku berkomunikasi dengan sosok perempuan itu, dan ia seakan memberi petunjuk jika kameran yang ada di kamar mandi ada di sekitar wastafel. Tapi sejak awal kami sudah mencari disana tapi tak ada apapun. Sampai akhirnya ia memberi penglihatan, jika kemungkinan kamera itu terjatuh saat suaminya menyeret jasadnya keluar. Setidaknya sudah ada satu bukti untuk melaporkan kasus pembunuhannya.
"Mungkin gak sih Mbak kalau kamera yang jatuh udah gak ada. Karena cleaning service pasti bersihin lantai juga kan?"
"Jangan putus asa dulu Ran, kita harus lebih cermat."
Benar juga kata Mbak Ayu, aku tak boleh menyerah begitu saja. Karena setelah menyelesaikan misteri yang satu ini, aku bisa lebih fokus ke pekerjaan dan sedikit membantu kasus Sintia. Ekor mata ku menangkap bayangan kecil di balik pot hias. Warnanya hitam pekat, ku kira itu batu kerikil tapi semakin ku amati benda itu serasa familiar di mataku. Ya kamera tersembunyi yang kami cari ada di dalam pot hias, dan aku sudah berhasil menemukannya. Setelah ini aku akan mengungkap semua kejahatan yang dilakukan seorang suami pada istrinya sendiri.
Whuuusd.
__ADS_1
Jiwa tanpa raga perempuan paruh baya itu menyunggingkan senyum, tapi sepertinya masih ada yang ingin ia sampaikan, namun ia tampak kesulitan untuk mengungkapkan nya. Atau jangan-jangan ia ingin memberitahu dimana letak jasadnya saat ini. Karena tiba-tiba saja ia melesat pergi menembus tembok.