Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 55 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Tante Ajeng meminta kami masuk ke rumahnya, ia menceritakan segalanya yang ia tahu. Menurutnya Om Dewa bekerja sama dengan beberapa tamu yang waktu itu datang ke rumahnya.


"Mereka semua itu pemberontak Yu, mereka ga terima kalau kamu yang menjadi penerus dan memimpin mereka. Sementara Om Dewa mendukung para pemberontak itu. Memang awalnya Om Dewa gak mau jadi penerus ilmu Leak. Tapi setelah ia tahu, jika menjadi sang pemangku dapat menghasilkan uang yang berlimpah. Ia jadi terbujuk oleh omongan para pemberontak itu. Saat mereka datang kesini untuk berduka, mereka juga memiliki niat lain. Mereka berdalih ingin mengadakan ritual khusus untuk menghormati mendiang ibumu. Semua itu adalah alibi mereka, untuk menjadikanmu korban persembahan. Jika mereka berhasil menjadikanmu persembahan, secara tidak langsung mereka sudah berhasil mengalahkan mu. Dan siapapun yang kelompok itu pilih bisa langsung menjadi penerus ilmu Leak yang tertinggi. Disitulah Om Dewa akan dipilih sebagai pemangku, karena secara garis keturunan, baik kau ataupun Om Dewa sama-sama berhak menjadi penerus. Bedanya dulu Om Dewa tak memiliki keinginan untuk memiliki ilmu Leak, dan sekarang ia menginginkan posisi itu. Karena ia tahu dengan menjadi sang pemangku, ia akan memiliki harta benda yang melimpah. Setelah kepergian mu entah kemana, Om Dewa bersama beberapa orang itu pergi. Dan sampai sekarang mereka tak pernah kembali. Tante hawatir kalau kau berhasil dikalahkan oleh mereka."


"Apa yang Tante ucapkan ini benar? lalu kenapa Dahayu diberi penglihatan jika Agus terlibat dalam kematian mendiang ibu? Dahayu melihat Agus bersama perempuan yang bernama Agni ada di gedung tua itu bersama seseorang yang mengenakan penutup kepala. Mereka bertiga menghasut dan mengintimidasi ibu, supaya ibu mengakhiri hidupnya. Dan aku tak perlu mewarisi ilmunya. Memang aku tak akan celaka ketika memakai liontin peninggalan ibu. Tapi aku tetap dihantui oleh sosok Calon Arang, ia juga menekanku supaya aku menjadi sang pemangku ritual. Karena tak ada pilihan lain, Dahayu terpaksa menerimanya. Apa Tante Ajeng tahu, kalau ada nyawa orang yang tak berdosa ikut menjadi korban dalam masalah keluarga kita? Dahayu gak akan bisa maafin semua orang yang udah maksa ibu buat melenyapkan nyawanya sendiri. Lebih baik Tante jujur saja, apakah orang dibalik tutup kepala itu adalah Tante Ajeng?" tanya Mbak Ayu dengan sorot mata tajam.


"Astaga Dahayu! kau menuduh Tante yang udah besarin kamu seperti anak Tante sendiri? kalau Tante dalang dibalik kematian mendiang ibumu, pasti Tante akan segera pergi meninggalkan rumah ini sebelum kau kembali. Tapi sampai saat ini, Tante tetap berada di rumah ini menunggu kedatangan mu. Apakah mungkin jika Tante salah satu orang yang mengehasut ibumu? apa kau pikir Tante akan tetap bertahan disini menjemput maut, jika Tante tahu kau sudah pergi ke alam Mangrahi. Dan itu artinya kau sudah resmi menjadi penerus ibumu. Gak akan mungkin Tante tetap berada disini Dahayu!" seru Tante Ajeng berlinang air mata.


Kesedihan begitu terlihat di raut wajah Tante Ajeng. Ia terisak dengan menundukan kepalanya. Aku hanya bisa menepuk pundak Tante Ajeng, untuk sedikit menenangkannya. Ku katakan pada Mbak Ayu, jika lebih baik kita tunda saja penyelidikan ini karena sudah hampir tengah malam.


"Mbak lu melakukan penyelidikan ini bukan untuk balas dendam kan? kalau lu cuma pengen keadilan buat mendiang ibu lu, InsyaAllah gue akan bantu. Tapi kalau niat lu lain, gue gak mau bantu lu nyelidikin kasus ini." kataku seraya berjalan kembali ke kamar.


"Apa menurut lu polisi bakal usut kasus bunuh diri semacam ini?"


"Mungkin aja Mbak, secara kan perempuan yang bernama Agni itu udah terekam CCTV. Meski dia udah tiada, bisa diperpanjang juga kasus ini kenapa dan untuk apa dia bawa pergi potongan kepala Bu Wayan. Pasti akan ada petunjuk lain, kalau emang Agus dan orang yang mengenakan tutup kepala itu berada di lokasi yang sama dengan Bu Wayan. Gue bakal nanya-nanya warga sekitar sana, apakah mereka ada yang punya CCTV. Supaya kita bisa dapetin bukti kalau Agus dan orang yang bersamanya itu memang ada di lokasi TKP. Nanti gue coba hubungi Agus, siapa tahu dia mau ngaku. Daripada lu gunain kekuatan hitam buat balas dendam, gue gak mau lu terbiasa menggunakan kekuatan itu Mbak. Karena nantinya lu akan susah terlepas dari kebiasaan buruk itu. Sekali lu gunain ilmu hitam itu buat balas dendam, lu akan keterusan buat ngelakuin hal semacamnya. Ibaratnya lu seperti kecanduan gitu Mbak, ada masalah dikit lu akan emosi dan gunain ilmu lu buat nyakitin orang yang gak lu suka. Gue gak mau lu seperti itu Mbak, itu juga pesan mendian ibu lu supaya gue jagain lu dari hal sesat semacam itu."

__ADS_1


"Tapi Ran, kalau gue gak sesabar itu gimana? kalau Agus gak mau ngasih tahu siapa yang bersama dia waktu itu, pasti gue bakal emosi Raniaaa!"


"Sabar Mbak, gue bakal coba bujuk Agus. Lebih baik lu istirahat dulu ya Mbak, besok kita lanjutin lagi obrolannya."


Malam itu suasana di rumah itu sangat berbeda. Ada aura lain yang ku rasakan, aku mengusap belakang leher karena merasakan hawa dingin yang menyentuh leher. Terdengar suara cekikikan perempuan dari dalam kamar.


"Demit mana lagi nih yang mau ganggu aku, baru juga ditinggal beberapa hari ke Desa udah ada yang iseng mau nakutin aku segala." batinku di dalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.


Ku acuhkan suara cekikikan perempuan itu, aku mengambil jurnal di dalam tas dan membaca beberapa tulisanku. Mengenai beberapa kasus yang sedang ku telusuri.


Ketukan pintu yang sangat kencang mengagetkanku. Aku berjalan ke depan dan membuka pintu, ada Umi yang sedang berdiri dengan tubuh bergetar di hadapanku.


"Ran niaaa... Tolongin gue. Jan Janni kerasukan huhuhu, gue takut Ran." ucap Umi menangis sesegukan.


Aku berlari segera ke kamar Umi, dan melihat Janni sudah ada di atas lemari sedang duduk dengan kaki di uncang-uncang. Dia cekikikan dengan sesekali merintih menangis.

__ADS_1


Aku mengira jika demit yang merasuki Janni adalah sosok Mbak Endang, kuntilanak yang beberapa kali mengikuti ku. Dan ketika aku membentaknya, lalu mengancam tak akan membantunya jika ia tak segera keluar dari tubuh Janni, ia malah melompat ke arahku dan berteriak kencang tepat di depan wajahku.


"Bukankah sudah ku bilang angkara murka akan datang. Kenapa kau terlambat menolong ku Raniaaaa!" serunya dengan membulatkan kedua matanya.


Degh.


"Siapa dia? dia bukanlah Mbak Endang. Jangan-jangan." batinku di dalam hati.


"Hihihihi. Kau benar aku adalah Agni, mereka telah sengaja membunuhku. Mereka telah mengingkari janji padaku, dan kau tak membantuku sama sekali. Aku tak akan membiarkan hidup kalian tenang hihihihihi."


Umi semakin ketakutan, tangannya mencengkeram lenganku dengan kencang. Aku hanya bisa berusaha mengeluarkan demit Agni dengan membacakan ayat-ayat suci Allah. Tapi demit itu berontak, ia berlari ke arah rumah utama, dan membuat kegaduhan disana.


"Dasar penghianat! keluar kalian semua dari rumah ini!" pekik Janni dengan membulatkan kedua matanya.


Aku berlari mengejar Janni yang berusaha melemparkan pot bunga ke kaca jendela rumah itu. Tapi tubuhku terpelanting, dan aku jatuh tersungkur di tanah.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2