
Mobil travel yang ku tumpangi berhenti beberapa kali untuk menjemput calon penumpang. Mereka memberikan service door to door, jadi sangat memudahkan calon penumpang yang ingin dijemput di tempat tertentu. Seluruh kursi penumpang hampir semuanya penuh, hanya tersisa dua baris di sisi kiri ku yang masih tersisa. Mobil travel berhenti di sebuah gang kecil, yang di sisi kanannya ada tempat pemakaman umum. Seseorang menggunakan hoodie hitam bersiap masuk ke dalam. Terdengar ia sedang berbicara dengan sang sopir untuk memasukkan barang-barangnya ke bagasi. Aku menyenderkan kepala, dan tak menghiraukan keadaan sekitar lagi. Ku tutup wajahku dengan masker dan kacamata hitam. Aku memejamkan mata disepanjang perjalanan. Sampai akhirnya sinar matahari mulai menerangi jalan, dan bisingnya suara kendaraan membangunkan ku. Aku meregangkan otot-otot di tubuh, lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah jam dua belas siang, dan supir travel menghentikan mobilnya di sebuah restauran untuk makan dan shalat. Aku menunggu semua penumpang turun lebih dulu, supaya lebih leluasa berjalan. Ku lihat seorang penumpang yang memakai hoodie hitam itu masih tidur dengan menutupi kepalanya.
"Pak itu masih ada satu penumpang di dalam."
"Oh iya Mbak, tadi sudah saya tanya dia keluar setengah jam lagi cuma buat makan aja katanya." Jelas supir itu dengan ramah.
Aku mencari mushola dan shalat terlebih dulu, baru setelah itu aku menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh pelayan restauran. Untung saja tempat makan ini tak ada yang aneh-aneh, karena makan siang ku sudah include dengan tiket travel. Jadi lebih menghemat budget perjalanan pulang. Ku lihat penumpang yang tertidur tadi sudah bangun, ia duduk di ujung ruangan dan bergumam sendiri. Setelah menghabiskan hidangan itu, aku menghubungi Pak Bos melalui panggilan telepon. Ku jelaskan secara langsung jika aku ijin cuti selama beberapa hari, meski Pak Bos mengijinkan ia menegaskan jika kali ini tak ada privilege. Jadi ketika cuti gaji ku akan dipotong sesuai hari libur ku. Tentu saja aku memahami, dan berterima kasih telah memberiku ijin.
"Maaf Pak, ini masalah hidup banyak orang. Jadi saya terpaksa ambil cuti dadakan, saya mohon pengertian Bapak."
"Iya Rania saya paham, tapi saya harap ini yang terakhir kalinya ya. Saya tak bisa terus memaklumi keadaan seperti ini. Hari ini dua jurnalis tiba-tiba minta cuti, jadi kami kekurangan jurnalis lapangan." Jelas Pak Bos nampak resah.
"Jadi Wening sudah datang menemui Bapak? Katanya dia ingin ijin langsung sekalian berpamitan."
"Tidak. Dia hanya menghubungi saya lewat telepon, tapi saya sudah memberinya ijin kemarin. Jadi tak masalah jika ia tak datang menemui saya."
Sebelum mengakhiri panggilan telepon, Pak Bos sempat mengatakan jika ia berharap banyak dari Wening. Karena ia benar-benar tak ingin berurusan dengan hal-hal gaib lagi. Ia bertanya apakah Wening bisa di andalkan atau tidak. Dan aku hanya bisa mengatakan, jika aku tak tau apa-apa. Karena kekuatan yang digunakan Wening atau Pakde nya berbeda aliran dengan keyakinan ku.
"InsyaAllah saya akan tetap bantu Bapak apapun yang terjadi nantinya." Kataku seraya mengakhiri pembicaraan.
Terdengar Pak Supir memanggilku seraya melambaikan tangannya. Ternyata hanya aku saja yang masih ada diluar mobil. Aku bergegas masuk ke dalam mobil, dan terkejut dengan apa yang ku lihat di dalam. Ternyata seseorang yang mengenakan hoodie hitam itu adalah Wening. Ia tak kalah terkejutnya dari ku, ia membulatkan kedua mata dengan ekspresi kaget. Entah kenapa aku bisa satu mobil dengannya, pantas saja sejak awal dia menghentikan mobil travel ini, aku sudah sering memperhatikan penampilan nya yang misterius.
__ADS_1
"Rania... Lu ngapain disini?" Tanya Wening dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Gu gue dari tadi udah duduk di kursi ini. Lu kenapa naik mobil travel ini Wen? Emang Desa lu dimana?" Jawabku dengan pertanyaan untuk mengecoh nya.
Wening langsung gelagapan menjawab pertanyaan ku. Ia menggaruk kepala nya dan mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya gue mau pulang agak siangan Ran. Karena tadinya kan gue mau ketemu Pak Bos dulu, tapi ternyata ada kabar kalau Pakde gue sakit. Jadi gue terpaksa berangkat pagi buta, dan yang ada hanya mobil travel ini. Jadi ya gue terpaksa naik mobil travel ini, dan nanti gue harus turun di biro travel ini. Soalnya gue masih harus lanjut naik travel yang lain."
"Kenapa gak naik travel yang langsung sampai aja biar gak capek transit. Terus gimana cara lu buat naklukin si merah, kalau Pakde lu masih sakit. Sia-sia dong lu pulang kalau gak bisa dapatin apa yang lu mau?"
Wening tersenyum melalui sudut bibirnya, ia menggelengkan kepala sebelum menjawab pertanyaan ku.
"Oh gitu ya. Gue gak hawatir kok Wen, cuma penasaran aja. Lagian kan gue gak kenal Pakde lu, masak iya gue hawatirin segala." Kataku dengan senyum sinis.
Wening terkekeh mendengar jawabanku, entah ia merasa aku sindir atau tidak. Yang jelas sekarang ia balik bertanya padaku. Wening ingin tau kenapa tiba-tiba aku pulang ke Desa tanpa rencana.
"Apa lu mau ngikutin gue ya Ran?"
"Hah! Gila ngapain gue ngikutin lu Wen, lagian yang naik mobil travel ini kan gue duluan. Harusnya gue dong yang bilang kalau lu ngikutin gue!"
"Hahaha gue becanda aja kali Ran, gak usah dibikin serius!"
__ADS_1
"Lah sama dong Wen, gue juga cuma becanda doang kok hehehe." Balasku tertawa lepas.
"Ya udah sekarang gue serius. Lu ngapain mendadak pulang kampung?" Tanya Wening dengan mengaitkan kedua alis mata.
Aku tak mungkin mengatakan jika kerabat ku tiba-tiba sakit, karena dia pasti langsung curiga jika Pakde nya sakit karena melawan seseorang yang ku kenal. Jadi aku akan memberikan alasan lain padanya.
"Itu sepupu gue takut sendirian di rumah. Secara di Desa gue lagi ada wabah penyakit, dan gue juga hawatir kalau dia kenapa-napa. Soalnya di rumah cuma ada Bude gue doang. Makanya gue hawatir, dan langsung pulang pas sepupu gue tadi pagi telepon."
"Terus udah banyak warga yang meninggal sekarang?"
"Kok lu nanya nya gitu sih Wen? Emang lu seneng ya kalau banyak orang yang meninggal?"
Wening diam seribu bahasa, bola matanya bergerak panik. Pasti ia sedang mencari alasan untuk menjawabku, karena aku yakin jika ia sebenarnya memang senang melihat warga Desa Rawa Belatung meninggal karena kiriman sihir dari Pakde nya.
"Bukan gitu Ran. Kan lu bilang ada wabah penyakit, ya gue spontan aja nanya gitu. Kok lu sensitif banget sih?"
"Santai aja Wen, gue cuma canda aja kali! Perjalanan masih lumayan jauh nih, lu gak mau tidur lagi aja?" Kataku untuk mencairkan suasana yang sudah agak memanas.
"Iya ntar juga gue tidur, gue mau hubungi Bude gue dulu." Pungkas nya seraya mengambil ponsel di dalam tas nya.
Aku menghembuskan nafas panjang, sepertinya ini adalah pertanda awal pertempuran gaib akan berlanjut. Sebentar lagi Wening akan tau, jika Pak Jarwo adalah seseorang yang berada di belakang ku. Mereka pasti akan lebih waspada dan melakukan penyerangan dengan terang-terangan. Karena Wening sudah tau jika aku kembali ke Desa Rawa Belatung.
__ADS_1